fbpx
Connect with us

Pariwisata

Pariwisata Gunungkidul Disebut Bakal Lampaui Bali

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)– Kabupaten Gunungkidul menyimpan potensi besar di sektor pariwisata untuk dikembangkan. Saat ini, obyek-obyek wisata di Gunungkidul semakin dilirik sebagai destinasi wisata baru di Provinsi DIY. Hamparan garis pantai sepanjang 72 kilometer dan keindahan alam lainnya di Gunungkidul tak kalah dengan daerah lain. Maka tidak berlebihan jika Gunungkidul digadang-gadang menjadi Bali kedua di Indonesia. Jutaan wisatawan pun setiap tahunnya mengunjungi bumi handayani.

Sektor Pariwisata di Gunungkidul turut berperan dalam perekonomian daerah serta kesejahteraan masyarakat. Destinasi wisata berbasis pengelolaan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir mulai banyak bermunculan. Tentu ini menjadi kesempatan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui sektor pariwisata. Hal itu sejalan dengan misi Bupati Gunungkidul yang mana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam membangun industri pariwisata berbasis potensi daerah, serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam tata kelola pariwisata.

“Sejak era Bupati Badingah, sektor pariwisata sudah menjadi visi untuk dikembangkan karena memang menjanjikan. Pembangunan infrastruktur yang saat ini dilakukan juga meningkatkan perkembangan di sektor pariwisata,” jelas Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Dinas Pariwisata Gunungkidul, Aning Sri Mintarsih, Selasa (18/04/2023).

Pembangunan Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS) dan jalan penghubung Sleman dengan Gunungkidul di zona utara disebutnya akan semakin memacu pertumbuhan pariwisata di Gunungkidul. Dengan meratanya pembangunan jalan yang semakin memudahkan wisatawan. Menurutnya akan berdampak pada meratanya pertumbuhan sektor pariwisata di Gunungkidul yang selama ini masih terkonsentrasi di zona selatan.

Dengan keindahan alam yang dimiliki, banyak yang berasumsi jika Gunungkidul layak disebut sebagai “the next Bali”. Menurut Aning, sektor pariwisata di Gunungkidul dapat lebih berkembang lebih besar dibandingkan Bali karena memiliki keunikan tersendiri. Disebutnya jika Gunungkidul tetap dapat mempertahankan kearifan lokal masyarakat tanpa meniru sepenuhnya kemajuan pariwisata di Bali yang sebetulnya menjadi nilai jual pariwisata Gunungkidul.

Berita Lainnya  Sempat Tiarap Karena Corona, Rumah Cokelat Nglanggeran Kembali Berproduksi

“Semangat membangun pariwisata seperti Bali itu bagus, tapi memang tidak sepenuhnya bisa diterapkan di sini. Misalnya terkait budaya, sosial masyarakat. Di sana kan berbeda dengan di sini,” imbuhnya.

Tren kunjungan wisatawan ke Gunungkidul rata-rata setiap tahunnya mencapai lebih dari 3 juta wisatawan. Misalnya saja pada tahun tahun 2018 yang tercatat 3.040.095 wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul, kemudian naik pada tahun 2019 menjadi 3.267.497 wisatawan. Namun sayangnya, di tengah naiknya kunjungan wisatawan pada tahun 2020 muncul pandemi covid19 yang menyebabkan pembatasan kegiatan di sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan pada tahun 2020 pun turun drastis tercatat sebanyak 1.981.599 wisatawan berkunjung ke Gunungkidul. Namun saat ini seiring dengan membaiknya penanganan pandemi covid19, Dinas Pariwisata optimis sektor pariwisata dapat kembali bangkit seperti sebelum adanya pandemi.

“Sektor pariwisata kan sensitif terhadap apapun, termasuk pandemi. Sekarang baru pemulihan dari pandemi,” ujarnya.

Pemerintah terus mendukung dan menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar ekonomi strategis di Gunungkidul, saat ini mulai banyak kelompok masyarakat yang mengelola potensi di daerahnya untuk dijadikan tempat wisata.

Seperti yang diungkapkan oleh Sub Koordinator Kelembagaan, Bidang Pengembangan Destinasi, Dinas Pariwisata Gunungkidul, Sudjarwono. Ia mengatakan minat masyarakat dalam mengelola potensi di daerahnya untuk dijadikan tempat wisata sangat tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan mulai banyaknya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Gunungkidul yang telah mendapatkan Surat Keputusan (SK). Saat ini di Gunungkidul sudah terdapat 46 Pokdarwis yang mana 34 diantaranya sudah mendapatkan SK dari Gubernur DIY.

Berita Lainnya  Curug Gedhe, Menikmati Suasana Asri nan Alami Air Terjun di Tengah Hutan

“Masyarakat semangat sekali mengembangkan wisata berbasis pengelolaan masyarakat, untuk bisa menjadi desa wisata memang harus punya Pokdarwis sehingga mereka harus mempersiapkan dari awal,” terang Sudjarwono.

Sektor Pariwisata dinilai mampu menjadi juru selamat bagi perekonomian masyarakat Gunungkidul, pengembangan wisata berbasis pengelolaan masyarakat dinilai sangat menguntungkan masyarakat karena sebagian besar pengeluaran wisatawan akan masuk ke masyarakat setempat. Menurutnya, Gunungkidul dapat lebih berkembang dan kuat dibandingkan pariwisata di Bali. Hal itu karena pengelolaan wisata di Gunungkidul berbasis pengelolaan lokal dan bukan investor.

“Dalam pemberdayaan kita lebih kuat dibandingkan Bali, tapi dalam investasi pariwisata mungkin disana lebih kuat. Karena memang kita mengangkat pemberdayaan masyarakat,” sambungnya.

Dalam proyeksi pembangunan sektor pariwisata ke depannya, Aning dan Sudjarwono berharap pariwisata di Gunungkidul memiliki warna tersendiri dan tentunya dapat lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan. Selain itu perkembangan pariwisata di Gunungkidul tanpa merusak keselestarian dan fungsi lingkungan karena wisata di Gunungkidul sangat bergantung pada keindahan alam yang dimiliki.

Berita Lainnya  Temukan Pengelola Wisata Sudah Mulai Buka Usaha, Satpol PP Ancam Tutup Paksa

“Selain budaya, semua orang wajib menyadari wisata yang kita kembangkan wisata yang berkaitan dengan alam. Sehungga tren perkembangan pariwisata juga tetap mempertahankan kelestarian lingkungan,” harap Aning dan Sudjarwono.

Berkembangnya sektor pariwisata juga turut berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gunungkidul. Pemkab Gunungkidul optimis pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan yang dapat berkontribusi dalam keuangan daerah, bahkan Dinas Pariwisata pada tahun ini menargetkan PAD sektor pariwisata mencapai Rp. 28,9 Miliar.

Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul, Astuti Rahayu, menyampaikan, industri pariwisata memunculkan banyak lini usaha seperti hotel, restoran, pusat oleh-oleh, dan sebagainya. Terkait pendapatan pajak hotel dan restoran ia menyampaikan jika pendapatannya bersifat umum di seluruh Gunungkidul.

“Kalau pendapatan pajak hotel dan restoran itu tidak hanya di kawasan wisata saja ya, jadi belum bisa dipilah,” kelit Astuti.

Meskipun demikian, kontribusi PAD pariwisata terhadap seluruh PAD Gunungkidul masih fluktuatif dalam tiga tahun terakhir. Hal itu karena masih dalam proses pemulihan pasca munculnya pandemi covid19. Disebutnya jika pada awal masa pandemi covid19 di tahun 2020, sektor pariwisata mampu berkontribusi sebesar 6,23% terhadap PAD keseluruhan di Gunungkidul. Kemudian pada tahun 2021 tercatat berkontribusi sebesar 5,37% terhadap keuangan daerah.

“Tahun 2022, realisasi Dinas Pariwisata dari target mencapai Rp. 20,8 Miliar dan berkontribusi sebesar 6,66% terhadap PAD keseluruhan di Gunungkidul,” pungkas Astuti.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler