Sosial
Pariwisata Lesu, Pengusaha Hotel dan Restoran Berharap Adanya Kebijakan Penundaan Angsuran
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Gunungkidul berharap ada kebijakan dari pemerintah pusat ataupun OJK agar ada penundaan pembayaran angsuran. Pasalnya, isu corona saat ini berdampak cukup besar terhadap pendapatan para pengusaha. Nasib karywaran pun bahkan disebut dipertaruhkan.
Ketua PHRI Gunungkidul, Sunyoto memaparkan, sejak isu corona muncul, para pelaku usaha restoran dan hotel di Gunungkidul merasakan dampak yang cukup besar. Hal tersebut terjadi lantaran adanya kebijakan baik dari kementrian maupun kepala daerah yang melakukan isolasi terhadap warganya agar tidak bepergian ke luar daerah. Tentunya, kebijakan ini berimbas kepada lesunya dunia pariwisata yang menjadi gantungan dari para pengusaha hotel dan restoran.
“Ada edaran dari Kemendikbud untuk membatalkan studytour. Kemudian kepala daerah dengan kebijakan-kebijakannya membuat kami kehilangan pengunjung,” ucap dia.
Ia menjelaskan, sejak tanggal 15 Maret 2020 kemarin, sejumlah pelaku usaha yang terhimpun dalam keanggotaan PHRI mendapat banyak informasi pembatalan kunjungan. Sehingga kemudian, mereka mengalami kerugian yang cukup besar.
“Secara riil belum kami hitung di Gunungkidul ada ratusan rumah makan dan restoran. Kalau keanggotaan kami ada 78. Dan sekarang banyak yang mendapat kabar pembatalan,” ungkapnya.

Dengan kondisi seperti ini, pihaknya berharap ada kebijakan dari pemerintah pusat atau OJK agar menunda angsuran. Pihaknya juga berharap ada tenggang waktu yang diberikan agar masalah keuangan ini dapat diatasi.
“Bukan penghilangan angsuran ya tapi ditunda 4 sampai 6 bulan karena ada ketentuan oleh BNPB katanya sampai Mei, berarti itu musim libur lebaran kita kalau tidak ada pemasukan mau bagaimana. Kalau yang ngangsur ya berat,” terang dia.
Lebih lanjut dikatakan, hingga saat ini penurunan jumlah wisatawan sendirj tidak hanya berbicara tentang wisatawan mancanegara saja, bahkan wisatawan lokal pun jumlahnya semakin menurun.
“Di sini kan banyak wisman dari Tiongkok, Singapura, Malaysia. Sekarang sudah hilang mereka. Yang lokal juga, bagaimana kita mau menggaji karyawan,” keluh Sunyoto.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Harry Sukmono memaparkan, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Gunungkidul memang terus mengalami penurunan. Penurunan untuk wisatawan mancanegara sudah dirasakan sejak tiga pekan terakhir, sementara untuk wisatawan domestik sudah dirasakan dua minggu ini.
“Dalam tiga minggu terakhir, terjadi penurunan jumlah wisatawan mancanegara hingga 75%. Di beberapa titik objek wisata yang ada di wilayah Gunungkidul yang biasanya diminati oleh wisatawan mancanegara yang sudah sepi,” jelas Harry.
Menurutnya, lesunya sektor yang digadang-gadang menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul ini akibat dampak lockdown dari beberapa negara di dunia. Kendati belum bisa menghitung secara detail berapa jumlah pengunjung namun sudah dipastikan pendapatan menurun.
“Untuk pendapatan di hari Senin pada minggu-minggu sebelum coronavirus merebak, biasanya Dinas Pariwisata mampu meraup pendapatan sekitar Rp 200 juta. Tapi Senin ini hanya mampu mendapatkan penghasilan dari penjualan tiket retribusi sekitar Rp 160 juta,” bebernya.
Dengan demikian, lanjut Harry, terjadi penurunan jumlah pengunjung mencapai 25%. Ia mengaku berbagai upaya telah dilakukan Dinas Pariwisata untuk menjaga sterilisasi objek wisata dari virus corona.
“Hari Rabu kemarin ini kami lakukam penyemprotan desinfektan di seluruh objek wisata yang ada di kabupaten Gunungkidul,” jelas dia.
Di samping itu pihaknya menghimbau seluruh pengelola objek wisata untuk menyediakan hand sanitery dan juga tempat cuci tangan lebih banyak lagi. Pihaknya juga meminta kepada seluruh pengelola objek wisata untuk meningkatkan kebersihan di lingkungan mereka.
“Kita upayakan seluruh stakeholder untuk bergerak aktif melakukan antisipasi virus corona,” beber Harry.
Jumlah penurunan kunjungan wisatawan ke kabupaten Gunungkidul ini juga berdampak kepada penurunan omzet pusat oleh-oleh di kawasan wisata. Banyak pedagang yang mengeluh mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.
Seperti yang dialami oleh pemilik oleh-oleh tiwul di Logandeng, Trisni. Jika biasanya ia menghabiskan bahan baku seperti gula jawa sebanyak 10 kg setiap harinya, namun belakangan dia hanya mampu menghabiskan sebanyak 4 Kg. Demikian juga dengan beberapa apa bahan-bahan yang lain aktifkan omsetnya yang menurun drastis.
“Sepi sekarang. Wong wisatawan hampir tidak ada,” ucap Trisni.
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized4 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized2 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized6 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized5 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
