fbpx
Connect with us

Sosial

Pemerintah Bilang Gratis, Pedagang Dipungut Ratusan Ribu Rupiah Agar Bisa Buka Lapak di Gunungkidul Expo 2018

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Pameran Gunungkidul Expo yang digelar di Alun-alun Kota Wonosari memang nampak megah. Panggung besar serta ratusan stand-stand yang diperuntukan untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Gunungkidul dapat dibilang cukup mewah dan bergensi. Namun siapa sangka, di balik pesta rakyat sebagai peringatan HUT Gunungkidul yang ke-187 tersebut, ada oknum yang menumpangi acara pemerintah tersebut dengan menarik pungutan liar kepada sejumlah pedagang. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di lapangan, pungutan yang diberlakukan kepada para pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar tenda stand tersebut berkisar ratusan ribu per lapaknya.

Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, Krisna Berlian yang menyatakan bahwa dalam Gunungkidul Expo ini, lapak maupun stand yang disediakan adalah gratis alias tidak dipungut biaya. Hal ini disebut Krisna menjadi komitmen pemerintah untuk memberikan fasilitas kepada UMKM.

"Baik yang di luar ataupun yang di dalam semuanya gratis tidak dipungut biaya," kata Krisna kepada pidjar.com, Selasa (08/05/2018) kemarin.

Namun demikian, pidjar.com menemukan adanya perbedaan dari apa yang disampaikan pemerintah. Dari hasil penelusuran dilakukan, sedikitnya ada tiga pengakuan dari pedagang yang mengaku dipungut biaya oleh oknum. Ketiga pelaku usaha tersebut ditarik oleh oknum yang mengaku panitia sebesar ratusan ribu rupiah. Biaya itu dibebankan sebagai syarat untuk bisa menempati lapak di Gunungkidul Expo 2018.

Seperti yang diungkapkan oleh Agung, salah seorang pedagang yang berjualan di sebelah timur tenda UMKM. Ia mengaku dipungut uang sebesar Rp300.000 oleh salah satu oknum yang merupakan panitia. Uang tersebut merupakan pungutan agar bisa membuka lapak selama hari di ajang Gunungkidul Expo 2018.

Ia sendiri mengaku tak keberatan membayarkan uang tersebut lantaran dirasanya sangat sepada dengan omset yang akan dia dapatkan selama penyelenggaraan acara.

“Karena acara seperti ini memang biasanya ramai dan omsetnya lumayan,” kata dia.

Hal lainnya juga diungkapkan oleh pedagang lainnya yang membuka lapak makanan di sebelah timur tenda UMKM. Ia yang mewanti-wanti untuk tidak disebutkan namanya tersebut mengaku dipungut biaya untuk bisa menempati lapak tersbut. Meskipun belum melakukan pembayaran namun dirinya mendapat informasi bahwa akan ada penarikan pungutan uang dari panitia.

"Rp 150 ribu katanya tarif untuk bisa menempati lapak ini," kata dia.

Sementara itu, di lokasi berbeda, seorang pedagang nasi goreng mengatakan bahwa juga dipungut biaya. Namun karena ia sudah masuk anggota paguyuban, hanya diminta membayar Rp15 ribu per hari. Dirinya pun tidak keberatan dengan hal tersebut.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler