fbpx
Connect with us

Peristiwa

Pengelola Anyar Dituding Hanya Fokus Pungut Retribusi, Spot Foto Puncak 4G Rusak dan Akhirnya Dibongkar Warga

Published

on

Gedangsari, (pidjar.com)–Melejitnya lokasi wisata Gunung Gentong Gedangsari (4G) di Padukuhan Manggung, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari tidak berbanding lurus dengan keberadaan fasilitas yang ada. Bahkan saat ini, obyek wisata yang telah hits di kalangan wisatawan tersebut nampak terbengkelai lantaran minimnya pengembangan.

Meski sejak 1 Januari 2019 lalu, pemerintah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul mulai menarik retribusi untuk Puncak 4G sebesar Rp. 2.800,-, namun penarikan retribusi itu sendiri tidak dibarengi dengan penambahan fasilitas maupun perawatan lokasi Puncak 4G. Masyarakat dan pemuda setempat yang dulunya mencetuskan dan mengelola Puncak 4G tidak mengetahui muara dari penarikan retribusi tersebut. Lantaran merasa tak dianggap setelah obyek wisata tersebut sudah diambilalih pemerintah dengan adanya retribusi, warga yang dulunya menjadi pengelola tak lagi mengontrol sejumlah titik yang menjadi spot foto para wisatawan di Puncak 4G.

Adapun keberadaan dan pengembangan Puncak 4G sebagai kawasan wisata sendiri mulai dicetuskan oleh Karang Taruna Padukuhan Manggung pada tahun 2017. Karang taruna secara swadaya membangun lokasi foto di Puncak 4G dan melakukan promosi di sosial media. Ternyata respon masyarakat melebihi espektasi sehingga keberadaan Puncak 4G menjadi booming kala itu. Hingga akhir 2018 wisatawan Puncak 4G terus membludak. Kepada para wisatawan, pengelola tidak mematok retribusi. Para pengunjung hanya dipungut hanya uang parkir dan sumbangan suka rela.

Tidak lagi aktifnya Karang Taruna Padukuhan Manggung untuk mengelola obyek wisata tersebut berimbas negatif. Sejumlah fasilitas lokasi foto yang selama ini menjadi unggulan rusak akibat tidak terawat. Sontak hal itu membuat pengelola lama kecewa. Lantaran hal itulah pada Senin (10/06/2019) kemarin, pengelola lama membongkar lokasi yang dulunya menjadi unggulan untuk foto.

“Jangan sampai nantinya kami sudah tidak mengelola, tapi malah membahayakan pengunjung,” kata salah satu inisiator Puncak 4G, Eko Hardiyanto, Selasa (11/06/2019) siang.

Menurutnya, empat lokasi foto yang dibongkarnya pihaknya tersebut dianggap membahayakan karena sudah mulai rapuh. Kendati demikian pihaknya tidak akan lagi mengganti spot foto yang mulai rapuh dengan yang baru. Pihaknya merasa penggantian spot foto di Puncak 4G tidak lagi menjadi kewenangan pengelola lama. Lebih lanjut ia mengatakan, selama ini Puncak 4G tidak memiliki Kelompok Sadar Wisata. Adapun Pokdarwis yang ada baru di Gunung Gentong sisi utara bukan Puncak 4G.

Kemudian menurut dia, pada 31 Desember 2018 lalu, Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul melakukan sosialisasi terkait dengan penarikan retribusi kepada wisatawan yang akan mengunjungi Puncak 4G. Karena Pokdarwis Puncak 4G sendiri belum ada dan masyarakat sekitar yang menginisiasi belum dapat menerima keberadaan retribusi itu sendiri. Selama awal tahun 2019 hingga sekarang pengelolaan Puncak 4G diambil alih oleh padukuhan dan belum direorganisasi.

“Pengelola sempat kaget retribusi itu untuk apa? Sharing profitnya bagaimana? Cara jalannya gimana belum paham tapi sudah mulai diterapkan. Akhirnya pengelola tidak sanggup dan diserahkan ke desa, akhirnya desa menyerahkan ke Pak Dukuh. Selama ini mereka hanya fokus menjaga retribusi dan tidak mengecek kaitannya dengan fasilitas,” urai Eko.

Sementara itu, salah satu pengelola lama lainnya, Subadri menambahkan, pada Maret lalu, Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul sempat membuat deadline agar Kelompok Sadar Wisata Puncak 4G segera dibentuk. Namun karena pengelola lama tidak didampingi lebih lanjutnya hingga kini, Pokdarwis Puncak 4G belum juga dibentuk. Pihaknya sempat melakukan mediasi antara pengelola lama yang merupakan karang taruna setempat, Dinas Pariwisata dan Pemerintah Desa Ngalang. Mediasi tersebut dilakukan dengan landasan untuk menentukan bagaimana lokasi wisata Puncak 4G ke depannya.

“Namun hal itu tak kunjung membuahkan hasil, akhirnya kami lepas tangan. Perwakilan kami beberapa waktu lalu mengecek puncak, kok sejumlah spot malah rusak,” kata Subadri.

Di sisi lain, Kepala Desa Ngalang, Kaderi menilai, pencopotan fasilitas lokasi foto yang dibangun pengelola lama terindikasi merupakan bentuk ego dari segelintir masyarakat. Pihaknya meyakini, Dukuh Manggung yang diberi mandat untuk menangani retribusi menyerahkan pendapatan dari wisatawan yang datang kepada Dinas Pariwisata.

“Awalnya kan saat akan dipatok retribusi semua pengelola datang, tapi saat itu ditunjuk tidak ada yang mau untuk menangani retribusi. Karena Dukuh merasa bertanggung jawab dengan wilayahnya akhirnya dia mau mengurusi retribusi,” beber Kaderi.

Menurutnya, keberadaan Puncak 4G pada awalnya bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Lahan parkir pun berasal dari tanah desa.

“Minggu depan akan kami bentuk Pokdarwis agar Puncak 4G segera tertangani,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Harry Sukmono menyerahkan rencana pembongkaran lokasi foto tersebut kepada pengelola.

“Ke depannya kami yang akan membenahi dan menambahi fasilitas,” tandasnya. (Ulfah Nurul Azizah)

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler