fbpx
Connect with us

Sosial

Pengusaha Batu Buang Limbah Sembarangan, Sungai Ngijo Tercemar Parah dan Alami Pendangkalan

Diterbitkan

pada tanggal

Semin,(pidjar.com)–Sepuluh tahun lamanya, Sungai Ngijo yang berada di Padukuhan Ngijo, Desa Semin, Kecamatan Semin mati. Bukan tanpa air, namun jernihnya air kini telah berubah menjadi putih keruh akibat endapan limbah batu putih yang berasal dari sejumlah pabrik pengolahan kerajinan batu di yang berada sekitar sungai.

Salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari sungai, Agus menceritakan, bahwa sungai tersebut dahulunya hidup dan menjadi lokasi masyarakat untuk mengambil air guna mengairi ladang. Namun seiring berjalannya waktu, sungai tersebut berubah menjadi mati dan kini tidak bisa dimanfaatkan.

“Dahulunya bisa buat membantu pertanian, mancing juga bisa. Tapi sekarang ikannya juga sudah tidak banyak,” kata Agus, Senin (16/12/2019).

Ia mengatakan, matinya fungsi sungai tersebut akibat adanya ulah nakal dari pengusaha limbah batu. Pengusaha tersebut sengaja membuang serbuk potongan batu langsung ke sungai. Hal ini kemudian membuat air yang dahulu jernih kini berubah menjadi putih.

Berita Lainnya  Jaga Simbah dari Wabah, Terobosan Rumah Zakat Melindungi Lansia dari Pandemi

“Sepertinya memang dari pabrik. Limbah sengaja langsung disalurkan menggunakan pralon dan dibuang ke sungai,” ucap dia.

Tak hanya mencemari, aktifitas pembuangan limbah secara sembrono yang dilakukan pengrajin batu tersebut membuat sungai semakin dangkal. Bahkan kini pencemaran limbah tersebut telah mencapai sekitar 500 meter.

“Sudah panjang (sungai) yang tercemar. Kalau endapannya juga sudah tinggi selutut, bahkan ada yang lebih,” ungkapnya.

Dampak yang dialami masyarakat terkait dengan pencemaran sungai ini disebut Agus cukup berat. Bahkan, adanya pencemaran ini ditengarai juga menjadi penyebab utama bencana banjir yang terjad di lingkungan tersebut beberapa waktu silam. Saat itu, luapan air dari sungai yang telah dangkal ini menggenangi sebagian rumahnya. Kotoran limbah batu pun banyak yang masuk ke lingkungan rumahnya.

Berita Lainnya  Pencarian di Luweng Tak Membuahkan Hasil, Hilangnya Warga Saptosari Masih Jadi Misteri

“Jarak rumah saya sekitar 40 sampai 50 meter, waktu hujan deras beberapa tahun lalu sempat kebanjiran. Ada 8 rumah yang kebanjiran selain rumah saya,” kata dia.

Tak hanya banjir, sempat ada beberapa warga yang terjebak di endapan lumpur kala menyeberang sungai. Namun begitu warga tersebut berhasil diselamatkan.

“Itu kan seperti lumpur hisap, belum ada korban tenggelam tapi ada yang pernah terjebak,” sambung Agus.

Selama ini, dirinya juga menanyakan hal itu kepada ketua RT setempat. Namun pihak RT tidak mengetahui adanya aktifitas tersebut.

“Izinnya kata pak RT juga tidak ada, karena belum pernah dimintai izin,” terangnya.

Untuk itu, warga berharap kepada pemerintah untuk menindaklanjuti keluhan warga. Sebab saat ini telah mendekati musim oenghujan dan dikhawatirkan akan terjadi banjir jika pembuangan limbah terus dilakukan.

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler