Sosial
Perjuangan Berat Para Pemuda Jatikuning Bentuk Bank Sampah Hingga Kini Beranggotakan Ratusan Orang
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Produksi sampah plastik maupun sampah jenis lain saat ini terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Mengingat dampaknya baik bagi lingkungan maupun kenyamanan masyarakat, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan perubahan, mulai dari pengolahan sampah menjadi barang atau bahan layak pakai hingga upaya pemanfaatan benda lain sebagai penganti plastik agar nantinya sampah tidak semakin menjadi permasalahan lingkungan.
Terkait upaya ini, masyarakat Padukuhan Jatikuning, Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk perlu diacungi jempol. Secara sadar, warga yang mulai peduli terhadap lingkungan merintis pembentukan sebuah lembaga pengelolaan sampah. Saat ini, Bank Sampah Jatikuning, lembaga pengelolaan sampah yang dibentuk warga, terus berkembang dan bahkan bisa menjadi sumber penghidupan bagi warga.
Salah seorang pengurus Bank Sampah Jatikuning, Fahrudin mengatakan, kelompok kerja pengelolaan sampah itu didirikan sejak tahun 2014 silam. Berawal dari keprihatinan sejumlah pemuda di Padukuhan Jatikuning lantaran banyaknya sampah berbagai jenis yang tidak terkelola dan menyebabkan bau yang mengganggu masyarakat. Dari situ, sejumlah pemuda tergerak untuk melakukan perubahan, mulai dari memberikan pemahaman pada keluarga masing-masing untuk mulai melakukan pemilahan sampah.
Sampah organik dijadikan satu dengan jenisnya. Sampah plastik yang sekiranya masih layak juga disendirikan untuk kemudian diubah menjadi bentuk-bentuk kerajinan tangan. Dari situlah kemudian muncul kompos yang digunakan untuk pupuk tanaman di masing-nasing rumah. Sejumlah hasil karya pun juga mulai bermunculan dari hasil pengelolaan sampah plastik.
Tentu diawal-awal operasionalnya Bank Sampah Jatikuning dianggap remeh bagi warga yang belum mengetahui manfaatnya. Bahkan beberapa warga dalam satu RT yang semula diajak untuk bergabung sempat melakukan penolakan. Hanya sekitar 30% dari ratusan warga yang bergabung dalam lembaga ini pada awalnya. Akan tetapi, hal ini tidak lantas melunturkan semangat para pemuda untuk mewujudkan padukuhan yang bersih. Berbagai terobosan pun terus digagas guna semakin meningkatkan partisipasi warga masyarakat.

“Beberapa kali kita ada pelatihan dari dinas dan instansi lain, langkah kami semakin mantap dan berkembang,” kata Fahrudin, Sabtu (08/12/2018).
Lambat laun masyarakat setempat mulai tergugah dalam pengelolaan sampah seiring adanya pendekatan yang dilakukan. Hingga kemudian, anggota kelompok ini terus bertambah. Masyarakat sendiri juga semakin sadar untuk mengambil langkah agar daerah tidak menjadi kumuh dan tetap maju.
“Mungkin permasalahan sampah di daerah kami tidak sebesar di kota lain, tapi langkah ini saya kira teramat perlu diambil. Sebagai penyeimbang mulai pesatnya pariwisata Gunungkidul, tidak menutup kemungkinan produksi sampah akan meningkat,” ucapnya.
Seluruh warga dari berbagai kalangan diajak untuk kritis di lingkungan masing-masing. Sampah plastik sebisa mungkin didaur ulang menjadi sebuah barang yang memiliki nilai jual. Sementara untuk sampah organik diolah menjadi kompos untuk pupuk tanaman rumah atau tumbuhan lainnya. Usaha ini ternyata tak sia-sia, hasilnya pun juga lumayan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Hasil produksi masyarakat setempat dari sampah itu terus diupayakan untuk dipasarkan melalui sistem online oleh jajaran pengurus. Mulai dari kompos hingga cinderamata dari daur ulang sampah pun telah dikirim ke berbagai daerah. Saat ini kelompok kerja kelola sampah telah memiliki 500 anggota, terdapat sebuah unit lahan hijau yang secara keseluruhan perawatannya menggunakan daur ulang sampah dan rumah produksi untuk membuat kerajinan tangan.
“Selain di desa kami (Ngoro-oro) kami juga memiliki daerah binaan di Ponjong, Ngawen, Patuk, Semin, Playen dan beberapa kecamatan lain,” tambah dia.
Ia mengungkapkan, yang ditekankan pada masyarakat bukanlah seberapa besar hasil uang yang didapat, melainkan bagaimana cara masyarakat sadar untuk mengelola dan mengolah sampah menjadi suatu benda yang memiliki manfaat tinggi. Lebih mengedepankan kebersihan dan prihatin dengan kondisi daerah yang kotor bahkan kumuh. Mengasah pola pikir yang sekiranya tidak terpikirkan.
Dengan langkah ini diharapkan masyarakat Gunungkidul sadar untuk lebih cekatan dalam melihat sesuatu terlebih sampah. Mungkin pandangan masyarakat mengenai sampah yakni menjijikan dan sudah tidak dapat digunakan, namun jika mau berpikir luas sampah yang dianggap hal kotor dapat diubah dan mengubah perekonomian masyarakat.
-
Uncategorized3 hari yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 hari yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Sosial2 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized4 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan4 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized2 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized1 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized1 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Peristiwa4 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan2 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized6 hari yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Pemerintahan4 minggu yang laluRatusan Warga Gunungkidul Terjangkit Penyakit Menular Mematikan Ini
