Sosial
Potret Kemiskinan Yang Harus Dialami Jumini, Dari Rumah Rusak Hingga Tak Punya Aliran Air dan Listrik
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Hidup dalam segala keterbatasan masih banyak dirasakan oleh masyarakat Gunungkidul meski perekonomian dan perkembangan daerah sudah mulai begitu terasa di beberapa titik dan untuk kalangan tertentu. Salah satu potret kemiskinan yang masih cukup banyak dirasakan oleh masyarakat Gunungkidul adalah seperti yang dialami oleh Jumini (49) warga Padukuhan Widoro Kulon, Desa Bunder, Kecamatan Patuk. Selama bertahun-tahun ia harus merasakan kerasnya hidup dengan segala keterbatasan yang ada.
Bukan karena fisiknya yang tidak mampu, namun susahnya mencari pekerjaan membuat perekonomiannya tak menentu. Jumini adalah seorang istri dan ibu satu orang anak yang baru berusia sekitar 7 tahun. Selama ini ia tinggal di rumah kecil, dengan kondisi semi permanen. Meski demikian, kondisinya sangatlah memprihatinkan. Bahkan di musim hujan, Sujini dan anaknya harus kalang kabut lantaran sebagian air hujan masuk ke rumahnya. Ya, atap rumah Jumini memang sudah sangat tidak layak lantaran berbagai kerusakan di sejumlah titik. Begitupun dengan dinding rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu atau gedhek sudah banyak yang bolong.
Rumah berukuran kecil tersebut setiap harinya hanya ia tinggali bersama anaknya yang masih duduk di bangku TK dan kadang bersama keponakannya. Sementara suaminya jarang pulang lantaran bekerja di Jogja untuk mencari penghasilan sebagai buruh serabutan. Dari kejauhan rumah ini sudah sangat nampak jika kondisinya tak seperti rumah milik orang-orang pada umumnya.
Masuk ke dalam, hanya ada satu ruangan yang tidak begitu lebar. Kursi-kursi tamu jaman dulu yang sudah rusak berjajar tepat di depan pintu. Tidak ada ruangan lain selain ruang tamu yang juga digunakan untuk menyimpan sejumlah perkakas dapur. Bahkan tak ada sekat untuk kamar tidur.
Selama ini, Jumini dan anaknya hanya tidur di secuil lantai yang telah diplaster menggunakan satu lembar kasur tipis. Ada satu tempat tidur reot, di tempat tersebut namun seringkali digunakan oleh keponakannya untuk tidur.

“Tidurnya sejak dulu di lantai ini. Pakai kasur dan bantal seadanya, kadang juga tidur bareng pakaian yang belum dirapikan,” kata Jumini, Minggu (07/07/2019).
Rumah berukuran sekitar 4×4 tersebut tak memiliki sekat ruang, segala aktifitas hanya di lakukan di tempat yang sama. Tak ada meja untuk menaruh perkakas rumah tangga. Seperti misalnya panci, hasil masakan, atau lainnya. Usai memasak, kemudian perkakas hanya diletakkan di pinggiran ruangan saja. Meski sebagian sudah diplaster, tapi mayoritas lantainya masih kondisi tanah.
“Diplaster ini karena ada sedikit bantuan semen sisa, hanya cukup untuk lantai alas tidur. Sisanya ya seperti ini, tanah semua,” tambah dia.
Rumahnya semi permanen, separuh bangunannya sudah tembok. Beberapa tahun lalu, ia mendapatkan bantuan pembangunan rumah, namun hanya mampu untuk membuat pondasi dan dinding sekitar 1 meter saja. Kemudian sisanya hanya ditambal dengan anyaman bambu, itu pun kondisinya sudah rusak. Selama ini, Jumini mengaku tak mampu jika harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki rumah secara mandiri.
Setiap musim penghujan, air hujan justru masuk karena atap dan dindingnya banyak yang bocor. Jika biasanya ia tidur di sisi barat, waktu hujan kasur tipis miliknya harus digeser ke tengah agar tidak terkena air hujan.
Mirisnya lagi, Jumini ternyata masih belum memiliki kamar mandi maupun WC yang layak. Untuk buang air besar, ia hanya memanfaatkan WC cemplung yang dindingnya terbuat dari gedhek. Untuk mandi pun terpaksa menumpang di kamar mandi rumah milik tetangganya.
Banyaknya program pemerintah seperti bedah rumah, jambanisasi, pemasangan air dan listrik ternyata tidak menyentuh keluarga miskin ini. Masyarakat melalui pamong padukuhan sempat mengusulkan bantuan namun hingga sekarsng belum ada realisasi nyata. Ya, selama ini Jumini memang belum teraliri listrik dan air bersih.
“Kalau air harus menimba di sumur depan milik saudara. Untuk masak dan keperluan lain memang harus menimba, karena belum punya aliran air sendiri,” ujar Jumini di samping putra kecilnya.

Bagian dalam rumah Jumini yang tak memiliki sekat dengan bagian dinding yang sebagian sudah rusak
Setiap hari, ia harus mengangkut air menggunakan tabung jeligen dari depan sekitar 30 meter dari rumahnya. Untuk listrik ia selama ini juga hanya menumpang milik saudaranya. Setiap bulannya ia membayarkan sekitar 20 hingga 30 ribu untuk biaya listrik yang hanya terpasang tak lebih dari 4 lampu di rumahnya.
“Penghasilan suami tidak menentu. Ya hanya pas-pasan bahkan kurang, kadang untuk makan juga sering dikirimi sama tetangga. Kalau saya apa yang ada pasti saya olah,” terangnya.
“Pengeluaran tentu pasti bertambah, terlebih anak saya sekarang masuk SD. Untuk biaya uang saku dan keperluan lain pasti semakin membengkak,” papar dia.
Selama ini ia telah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa PKH yang baru ia terima 3 kali, rastra yang berubah menjadi bantuan pangan non tunai dan Kartu Indonesia Sehat. Untuk bantuan lainnya pun belum pernah terima.
Sementara itu, Dukuh Widoro Kulon, Desa Bunder, Sugiyanto membenarkan jika salah seorang warganya hidup dengan segala keterbatasan. Dari pihaknya sendiri telah berusaha mengusulkan sejumlah bantuan, seerti misalnya listrik, saluran air hingga prmbangunan MCK. Tapi untuk program jambanisasi sendiri menurutnya terganjal lantaran tidak adanya aliran air yang dimiliki Jumini, sehingga belum bisa.
“Program pemerintah selalu saya daftarkan. Tapi memang belum ada kabar, mungkin semuanya menunggu antrian,” ucap Sugiyanto.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluVaksin PMK Gunungkidul Tersisa 22.975 Dosis, Dikejar hingga Ternak Sasaran Terpenuhi
-
Uncategorized3 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluABK Asal Riau Meninggal Saat Melaut di Perairan Kawasan Sadeng
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
