fbpx
Connect with us

Sosial

Puluhan Kejadian Kebakaran Pada 2021, Mayoritas Dipicu Kelalaian Korban

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Kebakaran tak jarang terjadi akibat kelalaian dari penghuni rumah maupun akibat ketidaksengajaan dari rembetan api yang dibakar di sekeliling rumah. Kebakaran sendiri dapat menimbulkan kerugian materiil maupun psikis terhadap korbannya. Di Gunungkidul sendiri, puluhan kebakaran telah terjadi hingga menjelang ujung tahun 2021 ini. Mayoritas penyebab sendiri, lebih disebabkan oleh kelalaian para korbannya. Merujuk dari kasus-kasus yang terjadi, warga dinilai perlu untuk lebih memperhatikan instalasi listrik maupun potensi sumber kebakaran untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Kepala UPT Pemadam Bahaya Kebakaran Gunungkidul, Bambang Supriyana, mengungkapkan, kebakaran di wilayah perkotaan Gunungkidul didominasi terjadi akibat adanya konsleting arus listrik di rumah warga. Sedangkan di daerah kawasan pedesaan didominasi oleh rembetan api yang membakar rumah ataupun kandang. Meskipun tak sampai memakan korban jiwa, namun menurutnya kejadian kebakaran dapat dicegah dengan kewaspadaan tiap-tiap penghuni rumah.

“Kalau dari tahun 2020 sampai 2021 sekarang totalnya ada 47 kebakaran yang kami catat, sebanyak 28 terjadi di tahun 2020 dan sisanya terjadi di tahun 2021 sampai sekarang,” ucap Bambang, Selasa (02/11/2021).

Untuk mencegah adanya kebakaran, pihaknya pun sudah memetakan wilayah rawan kebakaran yang disertai oleh penyebabnya. Hal ini kemudian digunakan sebagai bahan untuk menyusun mitigasi kebakaran di lingkup masyarakat. Menurutnya, kelengkapan armada dan peralatan untuk menanggulangi kebakaran sendiri sudah cukup komplit. Namun tak jarang pihaknya terkendala jarak yang jauh untuk menangani kebakaran yang terjadi. Jarak sendiri memang menjadi kendala yang paling besar lantaran markas UPT Pemadam yang berada di kawasan kota dan wilayah Gunungkidul yang sangat luas.

“Kalau peta kerawanan kemarin wilayah perkotaan lebih sering karena konsleting arus listrik, wilayah kampung karena lupa mematikan tungku api atau api yang merembet ke rumah. Kalau kami mendapat laporan adanya kebakaran langsung bergegas menuju lokasi, tapi jarak yang jauh sering memakan waktu yang cukup lama untuk sampai datang ke lokasi,” paparnya.

Selain terkendala jarak yang jauh, ia menyampaikan juga terkendala anggaran untuk melaksanakan sosialisasi pencegahan kebakaran di masyarakat. Sosialisasi tersebut menurutnya penting untuk dilakukan agar masyarakat lebih paham mitigasi kebakaran dan dapat mematikan api sebelum membesar.

“Kami dalam satu tahun hanya diberikan satu kali untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat, padahal Gunungkidul daerahnya luas, ada 144 Kalurahan semuanya yang menjadi wilayah tugas kami,” beber dia.

Menurutnya, ketika api masih kecil dapat dimatikan dengan menutupnya dengan kain. Hal tersebut akan menutup udara yang dapat membuat api semakin besar. Namun ketika api sudah mulai membesar, air yang disiram menggunakan ember ataupun selang justru dapat memperbesar api.

“Kalau api yang sudah besar itu butuh tekanan untuk mematikannya, kalau disiram dari ember itu tidak ada tekanan. Selain itu, kami harap tiap rumah juga punya alat pemadam kebakaran, tapi itu kan terkendala biaya juga,” tutupnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler