fbpx
Connect with us

Sosial

Rela Bergelut Dengan Sapi-sapi Raksasa, Dika Sukses Jadi Jutawan di Usia Muda

Published

on

Ponjong,(pidjar.com)–Tidak gengsi dan mau berinovasi. Mungkin kedua hal tersebut yang menjadi kunci sukses yang berhasil dijalankan oleh Pradika Cipta Nugraha (30) warga Padukuhan Susukan III, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Di saat kawan-kawan sebayanya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan impian, berkarir kantoran dengan pakaian necis, Pradika justru rela bergelut dengan bau ternak dan kotorannya.

Pradika sendiri merupakan salah satu contoh peternak muda yang sukses dalam mengembangkan bisnisnya. Saat ini, aset usahanya berupa sapi-sapi berukuran jumbo telah mencapai ratusan juta.

Pria yang biasa dipanggil Dika tersebut telah memulai bisnis ternak sapi delapan tahun lalu. Berawal dari kecintaannya terhadap binatang dan keyakinannya terhadap potensi bisnis sapi, ia kemudian mendirikan kandang sapi untuk penggemukan dan jual beli sapi. Sejak saat itu ia mulai serius bisnis di bidang peternakan sapi.

“Karena dari kecil saya memang sudah suka binatang. Memilih sapi karena selain hobi, juga bisa jadi instrumen investasi. Selain itu juga terinspirasi dari nabi yang banyak jadi peternak atau penggembala,” tuturnya saat ditemui pidjar.com, Rabu (23/06/2021) siang.

Awalnya, Dika yang mengaku sejak remaja telah bekerja mulai berpikir untuk berkembang. Ia sadar bahwa dengan pekerjaan yang ia tekuni, hasilnya tak akan cukup untuk menunjang kehidupannya dan keluarga kelak. Pada suatu ketika, ia membaca perihal potensi bisnis peternakan sapi. Perputaran uang dalam bisnis ini memang cukup cepat lantaran selain sebagai bahan makanan, sapi juga menjadi instrumen investasi.

Dika sendiri cukup beruntung lantaran keluarganya mendukung penuh niatnya. Berbekal dari tabungan pribadi dan ditambah dengan uang pemberian keluarganya, ia pun mulai bisnis peternakan sapi.

“Modal awalnya cuma 12 juta, saya belikan beberapa sapi muda dan kemudian dipelihara,” beber Dika.

Dengan pengetahuan maupun kemampuannya untuk mengembangkan koneksi, kandang sapi yang dikelolanya pun terus berkembang. Tak hanya sekedar memelihara, Dika mulai terjun ke jual beli sapi, baik lokal maupun kualitas premium. Perputaran uang yang terjadi membuat bisnisnya semakin maju. Bahkan ia saat ini memiliki hingga 5 sapi jenis limosin dan simetal berukuran jumbo yang harga per ekornya mencapai 100 juta rupiah.

“Saat ini di kandang ada lima sapi premium yang rata-rata tiap sapi punya bobot 1 ton. Kalau yang awalan ya bervariasi, mulai anak sapi dengan bobot sekitar 300 kilogram,” ujarnya.

Memelihara sapi dengan ukuran raksasa seperti ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun lagi-lagi dengan inovasi dan pengetahuannya, budget pemeliharaan ini bisa ditekan oleh Dika. Seperti misalnya untuk pakan jenis hijauan. Ia menanam sendiri tanaman-tanaman pakan di lahan tak jauh dari kandangnya. Sementara untuk pakan tambahan atau biasa disebut dengan konsentrat, ia meracik sendiri dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungannya. Dengan konsep semacam ini menurutnya, biaya pemeliharaan sapi, khususnya dengan bobot lebih dari 1 ton menjadi lebih terjangkau sehingga menekan biaya produksinya. Per harinya untuk per ekor sapi, Dika hanya cukup merogoh kocek 50 ribu hingga 60 ribu rupiah.

“Saya sebenarnya tidak ada patokan berapa lama waktu pemeliharaan, kalau ada yang cocok ya dijual. Memang tidak tiap bulan kita menjual sehingga biaya pemeliharaan memang harus ditanggung,” urai dia.

Tak hanya penggemukan dan jual beli sapi, kini ia mengembangkan usahanya di jasa pemotongan kuku sapi atau biasa disebut hoof trimming. Menurutnya, yang harus disadari, pemeliharaan sapi tak hanya melulu soal makanan dan vitamin yang diberikan, namun juga kebersihan bagian tubuh sapi. Selama ini, penyakit kuku kerap menjadi momok bagi peternak sapi karena dapat menurunkan produktifitas dan kualitas sapi itu sendiri.

“Saat ini di Indonesia sangat jarang orang yang menguasai ilmu hoof trimming, bahkan banyak sapi yang kukunya sakit akhirnya berakhir disembelih ataupun dijual ke tempat jagal,” lanjutnya.

Saat ini, usaha peternakan sapi milik Dika memang cukup terkenal. Bahkan, sebagian besar pelanggannya berasal dari luar daerah. Banyak warga dari daerah lain yang datang untuk membeli dan menggunakan jasa perawatan kuku sapinya. Tiap minggunya, pengunjung kandangnya bisa mencapai puluhan orang.

“Saat ini saya fokus jual beli sapi yang bagus. Di samping memang menyediakan sapi kurban kualitas dan kuantitas premium,” beber dia.

Layaknya pengusaha pada umumnya, berbagai pasang surut usaha turut ia rasakan. Dika menceritakan bahwa dirinya pernah merugi puluhan juta rupiah lantaran sapi yang dimilikinya sakit. Menurutnya, kejadian semacam ini untuk peternak memang sudah menjadi resiko yang harus ditanggung. Namun begitu, kejadian pahit yang menerpa usahanya tak serta merta membuatnya putus asa. Dika justru termotivasi untuk terus memperbaiki usaha yang dibangunnya.

“Kita pikirkan bagaimana merawat sapi-sapi ini supaya tidak sakit dan kualitasnya bagus,” tutup Dika. (Roni)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler