fbpx
Connect with us

Sosial

Sebanyak 22% Warga Gunungkidul Masih Belum Gunakan Jamban Sehat, 4 Desa Ini Bakal Digelontor Bantuan

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Menjadi daerah yang progres pembangunannya melejit ternyata masih ada segelintir masyarakat Gunungkidul yang melakukan buang air besar di jamban yang tidak sehat. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mencatat masih ada 22 persen warga bumi handayani yang belum memiliki fasilitas jamban sehat sesuai dengan kriteria layak. Mengantisipasi hal ini, dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) sebenarnya sudah sejak beberapa tahun belakangan telah berupaya memberikan sejumlah program untuk menuntaskan kondisi ini.

Kendati demikian, Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengklaim jika sejak adanya deklarasi di tahun 2016 lalu sudah tidak ada lagi warga Gunungkidul yang melakukan buang air besar sembarangan (BABS). Namun ia mengakui bahwa masih ada warga yang menggunakan jamban seadanya. Dalam hal ini ialah masyarakat masih belum menggunakan jamban sehat sesuai dengan kriteria pemerintah yang ditetapkan.

“Buang Air Besar Sembarangan dengan jambanisasi memang berhubungan erat akan tetapi berbeda. Saat ini sudah 100 persen warga Gunungkidul tidak melakukan BABS tapi memang masih ada segelintir warga yang menggunakan jamban ala kadarnya,” kata Priyanta Madya Satmaka, Senin (22/04/2019).

Pendataan atas masyarakat yang belum terfasilitasi jamban sehat terus dilakukan oleh pemerintah melalui kader-kader yang ditugaskan di lapangan. Dari data inilah yang kemudian digunakan sebagai acuan pemetaan dan upaya peningkatan program yang telah digagas oleh pemerintah. Tak hanya masyarakat yang kurang mampu ternyata, namun juga ada mereka meski mampu tapi acuh dengan kesehatan. Kemudian dari pemerintah sendiri berupaya melakukan pendekatan agar fasilitas yang penting itu segera dilengkapi.

Berita Lainnya  Menanti Kiprah 3 Kades Perempuan Anyar Yang Mulai Bekerja di Awal Tahun

“Upaya terus kami lakukan pendataan rumah sehat, jamban sehat dan pola hidup sehat terus diserukan. Perlahan mereka (warga) mulai paham pentingnya fasilitas kesehatan,”tambah dia.

Pemenuhan jamban sehat sendiri juga dilakukan melalui program Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan. Sehingga nantinya masing-masing kecamatan ini mampu mengalokasikan dana yang diperoleh untuk pembangunan jamban-jamban sehat bagi masyarakat yang membutuhkan dan masuk dalam kriteria penerima bantuan. Tak hanya itu, melalui program pemerintah desa, pemenuhan fasilitas ini juga dapat dilakukan.

“Terus diupayakan agar semua masyarakat Gunungkidul memiliki fasilitas yang memadahi mengingat baru 78 persen yang memiliki jamban sehat atau layak,” imbuh dia.

Beberapa tahun lalu, dana milaran rupiah telah digelontorkan oleh Pemkab Gunungkidul melalui program-program di kecamatan dan OPD untuk pembangunan jambanisasi di wilayah Saptosari dan Gedangsari yang dianggap menjadi kawasan yang layak mendapat bantuan. Di kedua kecamatan tersebut, mayoritas warganya belum memilik fasilitas jamban sehat.

Berita Lainnya  Kurang Koordinasi Menjadi Keluh Kesah Relawan saat Tangani Bencana

Sementara Kepala Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Agus Subaryanto mengatakan dari DPUPRKP sendiri juga memiliki program pembangunan serupa yang terbagi dua jenis. Pada tahun 2019 ini, ada 200 unit rumah yang akan disasar bantuan dari pemerintah untuk pembangunan jamban sehat. Ratusan unit bantuan tersebut akan menyasar pada desa yang kebutuhannya mendesak.

“Ada di empat desa yakni Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Desa Logandeng dan Gading Kecamatan Playen, serta Karangrejek, Kecamatan Wonosari,” ucapnya.

Dari masing-masing desa ini menurut Agus akan mendapatkan kuota 50 unit pembangunan dengan anggaran yang dikelola oleh pemerintah. Dengan demikian fasilitas sanitasi masyarakat Gunungkidul jauh lebih terperhatikan dan taraf kesehatan masyarakat lebih meningkat kembali.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler