fbpx
Connect with us

Sosial

Rosita, Kartini Masa Kini Pengawal Penyelenggaraan Pemilu 2019

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Menjadi wanita masa kini tentu saja tidak sesulit pada era Raden Ajeng Kartini. Pada masa lalu di tengah budaya di Indonesia yang memang menempatkan wanita berderajat di bawah kaum laki-laki, Kartini harus berjuang keras untuk mendapatkan kesetaraan. Pada masa Kartini, wanita memang sebagian besar aktifitasnya dilakukan mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Berkat perjuangan RA Kartini, dengan tidak melupakan kewajibannya sebagai wanita, para Kartini masa kini memiliki kebebasan untuk mengasah potensi yang ada pada dirinya. Mereka bebas untuk menuntut ilmu dan berkarir. Tak seperti pada masa lalu, para wanita kini tak akan mendapatkan sanksi sosial yang harus dihadapinya dalam mengembangkan potensinya. Banyak wanita yang turut membantu suami mencari nafkah, menjadi pemimpin beradaban, menjadi wakil rakyat dengan duduk di parlemen, berprofesi sebagai guru, dokter, polisi dan lain sebagainya.

Bahkan di tengah-tengah padatnya rangkaian Pemilihan Umum tahun 2019 ini, terdapat wanita inspiratif yang memiliki jabatan sangat penting dalam penyelenggaraan rangkaian Pemilu. Adalah wanita dengan jabatan sebagai komisioner Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Gunungkidul, Rosita. Wanita yang bertugas sebagai komisioner Divisi Pengawasan, Hubungan Masyarakat dan Hubungan Antar Lembaga di Bawaslu ini menjadi sosok penting dalam terselenggaranya Pemilu yang aman dan damai di Gunungkidul.

Berita Lainnya  Tinggal 1 Desa di Gunungkidul Yang Masuk Kategori Rawan Pangan

Kepada pidjar.com, Rosita mengungkapkan bahwa di tengah tugas serta kewenangan yang disandangnya, ia sebenarnya sangat bertegang teguh pada kodratnya sebagai wanita. Memang bukan sebuah hal yang mudah bagi Rosita untuk menjalankan 2 fungsi yang sama-sama pentingnya tersebut. Ada banyak tantangan yang sangat berat, terutama dalam membagi konsentrasi dan waktunya antara ketugasan yang berat dengan mengurus keluarga.

“Perjuangan Raden Ajeng Kartini membawa perubahan yang kami sebagai wanita sangat terbantu, dari perempuan yang tidak bisa melakukan apapun, tidak dianggap apapun, hingga tahun 2019 ini bisa bermanfaat bagi negara, keluarga dan agama,” tutur Rosita, Senin (21/04/2019).

Besarnya kendala yang harus dihadapi oleh Rosita dalam menjalankan tugas serta tanggung jawabnya ini disebutnya justru merupakan sebuah penyemangat. Sejauh mungkin, ia berusaha untuk adil dalam membagi waktu dan konsentrasinya.

“Justru kendala-kendala tersebut menambah semangat saya, dengan dukungan dan doa suami juga orang tua. Biar bagaimanapun, saya wanita yang memiliki kodrat untuk mengurus keluarga,” lanjutnya.

Perempuan lulusan Strata 1 STITY Yogyakarta ini mengaku, pada awal ketugasannya sebagai Komisioner Bawaslu diwarnai dengan sedikit dilema. Perlahan, waktu untuk keluarganya sedikit demi sedikit terpangkas habis karena ketugasannya selama proses pesta demokrasi di Indonesia.

“Di sela-sela kesibukan saya tetap berusaha maksimal untuk mewujudkan quality time dengan anak dan keluarga saya. Ya bisa dikatakan saya yang tadinya lima hari kerja, sekarang tanggal merah jadi tidak tanggal merah. Saya juga masih berusaha untuk bertanggung jawab sebagai ibu,” tutur istri Iwan Zuhri, S.PdI ini.

Dalam momen Hari Kartini ini, Rosita berpesan kepada wanita masa kini untuk tetap menyadari kodratnya. Artinya, setinggi apapun pekerjaan yang diemban, agar tetap taat kepada orang tua dan suami. Ia menekankan kepada wanita, meskipun saat ini emansipasi memberi kebebasan untuk wanita menggapai karir namun harus melakukan kewajiban sebagaimana mestinya.

Berita Lainnya  Heboh Pembina Pramuka Gunungkidul Ajarkan Yel-yel Berbau SARA Kepada Anak Didik

“Kita tidak mungkin menjadi wanita yang dianggap sukses kalau di belakang kita tidak ada support besar, dari suami terutama,” katanya. (Ulfah Nurul Azizah)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler