fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Serangan Terhadap Hewan Ternak Jadi Kasus Tahunan, Dinas Masih Kesulitan Simpulkan Temuan Janggal

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Dinas Pertanian dan Pangan Kabuoaten Gunungkidul hingga saat ini belum melakukan riset terkait dengan mulai maraknya kasus serangan hewan liar ke ternak-ternak milik warga. Dari sejumlah temuan yang didapat, masih belum mampu menunjukan jenis pemangsa ternak yang sangat meresahkan warga tersebut. Hingga saat ini, telah ada belasan ternak jenis kambing yang menjadi korban serangan hewan liar tersebut.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, per September tahun 2018 ini sedikitnya ada 13 kasus ternak kambing mati akibat serangan diduga hewan liar. Peristiwa itu, terjadi di bagian timur Gunungkidul, yakni wilayah Kecamatan Girisubo dan Kecamatan Tepus.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Bambang Wisnu Broto mengatakan, peristiwa tersebut memang sudah menjadi langganan. Hal semacam ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Bahkan kejadian itu tidak hanya di wilayah pinggiran, namun juga di wilayah perkotaan.

“Pernah ada kejadian di wilayah Selang, Kecamatan Wonosari. Kambing juga yang jadi korbannya,” kata Bambang ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Bambang mengatakan, serangan terhadap hewan ternak itu selalu terjadi ketika musim kemarau tiba. Ia tak menampik bahwa serangan tersebut menimbulkan banyak spekulasi di masyarakat. Banyak yang menganggap serangan terhadap ternak tersebut dilakukan oleh anjing liar, namun tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan hal mistis, seperti anjing jadi-jadian.

“Kalau kita membahas dari hewan liar yang kehausan, juga susah karena kenapa tidak minum air yang ada di sekitar kandang ternak saja. Tapi kalau dikaitkan dengan makhluk halus semacam manusia berkepala anjing ya sepertinya tidak,” tegas dia.

Sejumlah kambing yang mati dalam kondisi penuh luka akibat diserang hewan buas

Fakta lain yang diperoleh pihaknya, hewan ternak yang menjadi korban tidak pernah dimakan oleh hewan liar tersebut. Luka yang terbekas pun selalu sama yakni pada bagian leher dan kaki.

“Kalau kaki itu kemungkinan karena cakar saat si pemangsa hendak meraih ternak dari dalam kandang. Sementara itu untuk luka di leher itu seperti gigitan. Ternak tidak pernah dimakan, pernah satu itu ususnya terurai keluar,” kata dia.

Bambang mengatakan, dari hasil uji lab yang dilakukan juga tidak ditemukan adanya rabies seperti yang dikabarkan kalau binatang yang menyerang adalah anjing liar.

“Hasil tes tidak ada rabies, jadi kita juga belum dapat memastikan hewan apa yang menyerang. Meskipun ada yang mengaku pernah melihat anjing, tapi ya belum tentu juga,” kata dia.

Bambang juga mengaku, banyaknya kasus terjadi akibat adanya perilaku dari petani yang mengandangkan ternaknya di ladang menjadi salah satu pemicu kerawanan. Sebab hal itu menyebabkan sulitnya pengawasan terhadap ternak-ternak milik mereka.

“Masyarakat di wilayah selatan dan timur khususnya banyak yang mengandangkan ternak jauh dari pemukiman. Sehingga kita memberikan himbauan kepada mereka untuk membawa ternaknya pulang,” pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler