fbpx
Connect with us

Sosial

Singkirkan Ketergantungan Pupuk Kimia, Petani Siraman Ubah Urine Kambing Jadi Pupuk Tanaman

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Petani di Bumi Handayani saat ini banyak yang masih bergantung pada penggunaan pupuk kimia untuk bercocok tanam. Pupuk kimia sendiri memberikan dampak negatif yakni merusak unsur hara pada tanah terutama nitrogen dan mineral. Tak hanya itu, dalam penggunaan jangka panjang, hasil tanaman menjadi tidak makismal.

Berasal dari keprihatinan yang mendalam atas kondisi petani dan peternak yang masih tergantung oleh pupuk serta obat-obatan kimia, Suraji warga Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari ini mulai berinovasi. Dimulai pada awal 2019 lalu, ia memiliki ide untuk beternak kambing. Guna mengimbangi makanan ternaknya, ia kemudian mulai bercocok tanam khususnya tanaman jagung sebagai pakan ternak.

Dalam bercocok tanam, ia bergantung kepada pupuk kimia. Namun ternyata hasilnya tak maksimal. Banyak hama menempel pada daun. Dari situasi ini ia kemudian belajar secara otodidak tentang pemanfaatan pupuk organik baik padat maupun cair.

“Saya baca-baca dan menerapkannya ternyata manfaatnya cukup banyak,” ungkap pria kelahiran 48 tahun silam ini saat diwawancarai pidjar.com, Minggu (09/08/2020).

Ia kemudian membuat kandang kambing dengan bentuk yang seperti panggung dengan kayu yang tertata berderetan. Di bawahnya ia beri papan sebagai tempat untuk mengalirkan kencing kambing. Di ujung ia siapkan ember untuk menampung kencing kambing. Kemudian kencing kambing tersebut ia simpan pada jrigen.

“Saya punya tong fermentasi biasanya di dalamnya limbah rumah tangga bisa kulit sayur, sisa makanan, bisa sisa pohon kelapa yang sudah digiling di bawahnya ada kran, jika sewaktu-waktu butuh tinggal dibuka krannya,” ucap Suraji.

Suraji kemudian mengaplikasikan secara bersama urine kambing dengan cairan limbah rumah tangga tadi apabila hendak digunakan untuk memupuk tanaman. Hasilnya pun dipastikan maksimal.

“Tanaman juga tumbuh subur, terlihat sehat, tidak ada hama yang mendekat,” jelas dia.

Biasanya pupuk organik cair digunakan sebagai pupuk dasar yang dicampur dengan fermentasi pupuk organik padat, bisa dari kotoran hewan seperti kotoran kambing, sapi maupun ayam. Setelah itu, pupuk organik cair ini juga diaplikasikan untuk memupuk tanaman pada satu minggu hari setelah tanam. Pada minggu kedua pupuk organik padat kembali dikombinasikan dengan organik cair untuk hasil yang maksimal.

“Tanaman apa saja bisa maksimal baik holtikultura, padi, buah-buahan atau juga tanaman hias,” papar pria yang dulunya bekerja sebagai penyedia jasa servis pompa air ini.

Lantaran hasil pupuk yang ia aplikasikan dengan sejumlah tanamannya sendiri ia lantas mencoba menekuninya. Bahkan ia mempersilahkan masyarakat yang hendak belajar membuat pupuk organik cair maupun padat.

“Tapi memang sangat susah untuk memberikan edukasi kepada petani tentang pembuatan dan manfaat pupuk organik ini,” imbuh dia.

Menurutnya kendala yang dihadapi petani dalam pengolahan limbah organik ialah perakatan yang sangat terbatas. Misalnya saja alat untuk menggiling pohon pisang untuk pupuk cair. Selain itu juga tong fermentasi.

“Sebetulnya tidak ribet tapi mereka mengeluhkan alatnya yang tidak punya,” tutup dia.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler