fbpx
Connect with us

Pendidikan

Sistem Online Dianggap Tak Efektif, Dinas Tegaskan Pembelajaran Tatap Muka Akan Terus Dilaksanakan

Published

on

Wonosari, (pidjar.com)–Sejumlah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Gunungkidul telah melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas sejak kurun waktu sekitar dua minggu terakhir. Sebagian sekolah dapat menerapkan pembelajaran tatap muka dengan lancar meskipun sempat terdapat penularan covid19 di lingkungan SD. Selain pada jenjang SD dan SMP, pelaksanaan pembelajaran tatap muka sudah terlebih dahulu dilaksanakan pada jenjang SMA dan SMK. Hingga saat ini, belum ditemukannya kendala maupun penularan yang terjadi di tingkat pendidikan atas tersebut.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul, Dwi Agus Muhdiharto, mengungkapkan jika merujuk pada data pelaksanaan pembelajaran terbaru, memang belum semua SMA dan SMK di Gunungkidul melaksanakan pembelajaran tatap muka. Ia menyampaikan jika dari 23 SMA dan 46 SMK yang tersebar di Gunungkidul, pembelajaran tatap muka pertama kali terselenggara pada tanggal 1 September 2021 lalu di SMK Giri Handayani.

“Dari data yang ada, terdapat 6 SMA dan 15 SMK yang belum melaksanakan pembelajaran tatap muka,” terang Dwi Agus, Kamis (30/09/2021).

Agus menambahkan, jika terdapat perbedaan dimulainya pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah adalah karena menyesuaikan dengan kesiapan di tiap-tiap sekolah. Dalam data Balai Pendidikan Menengah, jadwal sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka paling akhir sejumlah 4 SMK yang akan melaksanakannya pada tanggal 18 Oktober 2021 mendatang.

“Ada SMK Ma’arif Ngawen, SMK Ma’arif Playen, SMK Ma’arif Ponjong, dan SMK Taman Siswa Playen yang dijadwalkan akan melaksanakan pembelajaran tatap muka 18 Oktober mendatang,” lanjutnya.

Dalam upaya pemantauan kesehatan guru dan siswa di lingkungan sekolah, Agus menyampaikan jika pemantauan tersebut merupakan hal yang penting dalam terselenggaranya pembelajaran tatap muka. Dalam mekanisme pemantauannya, ia mengungkapkan jika selama ini sudah sesuai standar operasional yang telah ditentukan oleh masing-masing sekolah yang bekerja sama dengan bimbingan dari gugus tugas covid19 di tiap Kapanewon.

Lebih lanjut, Agus mengatakan jika pihaknya belum melakukan pembahasan terkait rencana penggunaan aplikasi PeduliLindungi yang akan digunakan di lingkungan sekolah. Sejauh ini, menurutnya pembelajaran tatap muka sudah berjalan dengan lancar.

“Kalau untuk capaian vaksin bagi pelajar SMA dan SMK secara keseluruhan sudah mencapai 89,08% untuk dosis pertama, dan 24,55% untuk dosis kedua. Jumlah siswa keseluruhan sebanyak 25.466 yang terdiri dari 6.683 siswa SMA dan 18.783 siswa SMK,” tutup Dwi Agus.

Kepala Bidang Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga (Disdikpora) Gunungkidul, Taufik Aminudin, mengungkapkan, berkaca pada adanya penularan covid19 yang terjadi di SD Panggang, pihaknya terus melakukan evaluasi. Untuk mencegah hal tersebut terulang kembali ia menekankan lebih mengoptimalkan satuan tugas covid19 yang berada di tiap-tiap sekolah. Hal tersebut untuk mendeteksi secara dini ketika terjadi potensi penularan covid19 di sekolah.

“Ini masih saya pelajari, kalau evaluasi pasti ada. Salah satunya optimalisasi satuan tugas yang berada di tiap-tiap sekolah,” ungkapnya saat ditemui.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora Gunungkidul, Ali Ridlo, tak memungkiri sempat terjadi penularan covid19 di lingkungan SDN 1 Panggang. Segala upaya untuk penanganannya sudah dilakukan dan kini pihak sekolah sudah menghentikan pembelajaran tatap muka untuk sementara waktu. Menurutnya, kejadian tersebut dapat menjadi pembelajaran dan evaluasi agar di sekolah lain tidak terjadinya penularan. Evaluasi berkala terus dilakukan dalam kaitannya pelaksanaan pembelajran tatap muka dan penerapan protokol kesehatan di sekolah.

“Untuk antisipasinya sudah ada ya. Kalau ada penularan, langkah pertama ialah tracing dari puskesmas. Kalau untuk penutupan hanya di sekolah yang terjadi penularan dan bisa dibuka kembali kalau sudah normal,” ucap Ali.

Adapun berbagai pertimbangan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terus dijalankan. Seperti dari sisi akademis, menurutnya pembelajaran di rumah tidak efektif karena merujuk pada hasil nilai asesemen yang diselenggarakan pemerintah provinsi DIY beberapa waktu lalu yang mengalami penurunan. Selain itu, kepemilikan gawai yang memadai yang selama ini menjadi media pembelajaran tidak merata di setiap siswa. Tak meratanya sinyal internet di sejumlah wilayah di Gunungkidul juga turut menghambat pelaksanaan pembelajaran online.

“Dengan tatap muka siswa jadi belajar untuk adaptasi pembelajaran di tengah pandemi,” sambungnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler