fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Pembelajaran Daring Berkepanjangan Picu Penurunan Kualitas Pendidikan Hingga 20%

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Sekolah di Kabupaten Gunungkidul sampai sekarang ini masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan sistem daring. Sudah sekitar 1,5 tahun ini, para pelajar tidak mendapatkan materi dengan sistem tatap muka. Ternyata hal tersebut berdampak pada kualitas pengetahuan serta kualitas kelulusan para pelajar.

Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Kiswara berdasarkan pengamatannya, pembelajaran jarak jauh memang ada sisi positif dan negatifnya. Dari sisi positif, ruang lingkup kegiatan anak tidal terlalu luas potensi terpapar covid19 kecil. Namun demikian, PJJ ini juga berdampak pada turunnya kualitas pengetahuan serta kualitas kelulusan pelajar SD dan SMP.

Berdasarkan evaluasi yang mengacu pada indikator nilai Asessment Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) memang ada penurunan. Yang mana nilai rata-rata pelajar SD dan SMP tidak begitu memuaskan.

“Iya sesuai dengan assesment yang dilakukan memang ada penurunan kualitas,” kata Kiswara, Kamis (26/08/2021).

“Kalau dilihat dari nilai ASPD ya sekitar 20 persen untuk penurunannya,” imbuh dia.

Ia menjelaskan untuk meningkatkan kembali kualitas kelulusan serta kualitas pengetahuan pelajar, maka Disdikpora mendorong agar para guru berupaya dengan jauh lebih produktif, inovatif, dan kreatif dalam memberikan materi. Meskipun pembelajaran diterapkan jarak jauh dan daring, guru harus tetap maksimal dalam memberikan arahan serta pengetahuan.

“Pembelajaran jarak jauh ini guru harus lebih produktif. Kita minta agar tidak asal memberikan tugas, tapi untuk pemahaman materi juga harus dimaksimalkan,” ucap dia.

Selain itu, meski jarak jauh, harus ada umpan balik dari guru sehingga interaksi dengan siswa dapat berlangsung dengan baik. Sehingga paling tidak anak merasa sekolah meskipun belum tatap muka.

Sebelum diterapkannya PPKM, Pemerintah kabupaten Gunungkidul sudah merencanakan akan meterapkan pembelajaran tatap muka. Namun karena ada adanya kebijakan pemerintah pusat yang harus dipatuhi, maka rencana tersebut urung dilakukan. Padahal dari setiap sekolah sudah melakukan persiapan termasuk dengan skema protokol kesehatan maupun metode pembelajaran. Uji coba di beberapa sekolah pun juga sudah pernah dilakukan

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Sudya Marsita menambahkan, saat ini pemerintah memang lebih mengutamakan keselamatan dan keamanan para pelajar. PJJ dimaksudkan agar anak terhindsr dari kontak langsung yang berpotensi terhadap penularan covid.

Di samping itu, sebagai bentuk persiapan jika nantinya segera diperbolehkan tatap muka dengam prokes ketat sekarang ini, pemerintah sedang menggencarkan program vaksinasi bagi pelajar di Gunungkidul.

“Vaksinasi sudah menyasar pelajar di Gunungkidul. Data beberapa hari lalu 11,5 persen capaiannya, itu belum termasuk dengan santri ponpes. Data terus kami update,” ujar Sudya Marsita.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler