fbpx
Connect with us

Pendidikan

Siswa SD Belum Bisa Divaksin, Penerapan Protokol Kesehatan Wajib Diperketat

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Vaksinasi bagi pelajar menjadi tolak ukur pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka. Upaya ini untuk pencegahan agar tidak ada penularan covid19 saat pembelajaran berlangsung. Namun begitu, belum ada rekomendasi dari Kementrian Kesehatan untuk pelaksanaan vaksin bagi anak berusia 12 tahun ke bawah.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Diah Prasetyorini mengatakan, belum ada rekomendasi serta informasi resmi untuk vaksin bagi siswa-siswi di bawah 12 tahun. Sejauh ini, berkaitan dengan vaksinasi pihaknya terus menunggu keputusan dari pemerintah pusat.

“Memang sampai saat ini vaksin khusus untuk anak di bawah 12 tahun belum ada,” kata Diah, Selasa (28/09/2021).

Diah menambahkan, untuk mencegah penularan covid19 bagi siswa-siswi SD yang belum menerima vaksin ini cukup dengan diketatkannya protokol kesehatan. Ia meminta guru dengan cermat mengawasi peserta didiknya.

“Protokol kesehatan memang harus dijalani dengan disiplin untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.

Sementara itu, Diah mengatakan, pelaksanaan vaksinasi bagi masyarakat kelompok remaja 12 tahun ke atas sudah 100%. Ia menyebut, menurut data per 23 September, capaian vaksinasi remaja Gunungkidul memcapai 102,75%. Angka ini setara dengan 60.769 sasaran dari yang ditetapkan 59.143 sasaran.

“Data ini untuk dosis pertama, untuk kedua masih disiapkan,” imbuhnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Ali Ridlo mengatakan, tidak ada pilihan lain selain mengetatkan protokol kesehatan bagi siswa SD dan PAUD. Hal ini mengingat mereka belum bisa divaksin.

“Jika vaksinasi menjadi syarat tentu jenjang SD dan PAUD belum bisa melaksanakan PTM, yang penting tenaga pendidiknya semua sudah divaksin,” tandas Ali.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler