Sosial
Tak Ada Biaya Untuk Bersekolah Dengan Jarak Yang Jauh, Siswa Miskin Ini Terancam Putus Sekolah
Karangmojo,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sistem zonasi dalam PPDB Online di Gunungkidul memakan korban. Adalah Muhamat Pasha Pratama (12) warga Padukuhan Bulu RT 05 RW 14, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo yang terpaksa harus menelan pil pahit. Anak yatim dengan nilai kelulusan 15,83 dari SD Negeri Gelaran II ini harus terlempar dari SMP Negeri 2 Karangmojo tanpa sebab yang jelas. Akibatnya sendiri cukup fatal, Pasha bahkan terancam tak bisa melanjutkan studinya lantaran ketiadaan biaya jika harus bersekolah di lokasi yang jauh dari rumahnya.
Ditemui di rumahnya, Pasha sapaan bocah dengan badan gembul itu nampak tertunduk lesu. Segala peralatan sekolah, berupa buku, tas dan sepatu baru yang sudah ia beli untuk persiapan masuk di bangku SMP semakin membuat pedih perasaanya.
Dengan mata berkaca-kaca, Pasha mengaku sangat ingin melanjutkan menuntut ilmu di jenjang selanjutnya. Namun betapa sedihnya ketika dirinya tidak menemukan namanya tertempel di papan pengumuman penerimaan siswa baru di SMP Negeri 2 Karangmojo.
“Sempat saya bingung, mencari nama saya tetapi tidak ada. Saya menangis, sedih,” ujar Pasha dengan polos, Rabu (10/07/2019).
Pasha pun melanjutkan kisah pedihnya itu hingga meneteskan air mata. Dirinya yang saat itu bingung hanya bisa tertunduk lesu dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pasalnya, rekan satu kelasnya hampir semua diterima di SMP N 2 Karangmojo.

“Kalau nilai saya ada di tengah-tengah, kalau dibanding dengan yang lain masih ada yang lebih rendah dengan saya,” kata dia.
Pasha yang memiliki hobi bermain sepak bola itu saat ini bingung ingin melakukan apa. Sebab jika ingin bersekolah di tempat lain hal itu tidak memungkinkan. Ia menyadari bahwa orang tuanya memiliki keterbatasan ekonomi sehingga tak akan mampu membiayainya bersekolah di tempat yang jauh.

Pasha menunjukkan tas dan peralatan sekolah yang dulu dibelinya
Orang tua Pasha, Sugeng (51) yang bekerja sebagai tukang batu itu merasa cukup terpukul dengan kabar tersebut. Pasalnya, kondisi ekonomi keluarga pun tidak memungkinkan jika anaknya harus bersekolah di luar Kecamatan Karangmojo.
“Kalau mau bersekolah di luar siapa yang mau mengantar. Sepeda motor tidak punya, dulu kan kalau bisa diterima di SMP 2 Karangmojo rencananya mau nebeng tetangga yang juga bersekolah di sana,” kata Sugeng.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi keluarganya membuatnya hanya bisa pasrah menerima kondisi ini. Sementara ini, Pasha sendiri tidak didaftarkan di sekolah lain.
“Belum daftar, bingung mau di daftar dimana. Kalau mau jauh itu terus terang saja, tidak ada biaya dan juga fasilitas,” imbuhnya.
Ditambahkannya, sebelumnya segala perlengkapan yang dibutuhakan oleh anaknya berupa tas, buku dan sepatu sudah ingin dikembalikan ke toko di mana dulunya membeli. Namun karena niat Pasha untuk sekolah sangat tinggi, niat itu pun diurungkan.
“Keinginan anak saya untuk sekolah ini sangat tinggi. Mau dikembalikan ke toko tidak boleh karena sangat ingin bersekolah,” terangnya lugu.
Ia juga mengatakan bahwa pihak keluarga pun telah menyiapkan satu ekor kambing yang ia jual untuk biaya seragam. Ia juga mengaku siap jikapun nantinya dalam perjalanan anaknya membutuhkan biaya.
“Saya jual kambing laku Rp 950 ribu, untuk seragam dan jahit. Tapi anak saya malah tidak diterima,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rosyid menjelaskan, bahwa dalam PPDB kemarin, SMP Negeri 2 Karangmojo mengalami kelebihan siswa. Sehingga kemungkinan, Pasha sendiri kalah dekat soal jarak dengan rekan lainnya.
“Kalau zonasi, nilai itu tidak dinilai. Yang dihitung itu, jarak, usia dan waktu daftar,” ucap Bahron.
Bahron menambahkan, ada kemungkinan faktor lain yang membuat Pasha terlempar dari SMP N 2 Karangmojo adalah lantaran jarak udara atau titik koordinat yang ada di GPS. Pihaknya juga mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait dengan masalah yang dialami Pasha tersebut.
“Kalau jarak lingkar mungkin dekat, tapu jarak udara belum tentu. Kemungkinan titik koordinat waktu di SD lalu,” pungkas dia.
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized2 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized4 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized4 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized3 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluKemarau Panjang, 53 Kejadian di Gunungkidul Hanguskan 51 Hektare
-
Uncategorized2 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
