Sosial
Tingkat Penderita HIV AIDS di 4 Kecamatan Ini Tertinggi, PNS Pemkab Gunungkidul Jalani Tes Pemeriksaan
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sejak beberapa tahun lalu pemerintah pusat dan daerah memiliki komitmen mengenai pemeriksaan HIV, siphyllis dan hepatitis terhadap ibu hamil. Hal ini wajib dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya mengidap penyakit-penyakit berbahaya yang menjangkiti ibu hamil itu sehingga nantinya dapat dilakukan langkah antisipasi penyebaran penyakit ini pada janin yang dikandung. Sehingga paling tidak, kemudian dapat diminimalisir anak-anak di daerah yang terwarisi penyakit ini.
Pada Rabu (05/12/2018) siang tadi, di Balai Desa Karangrejek dilaksanakan peringatan Hari AIDS Kabupaten Gunungkidul. Dalam kegiatan ini, dilaksanakan pemeriksaan HIV terhadap para PNS di lingkungan Pemkab Gunungkidul.
Sekretaris Dinas Kesehatan, Priyanta Madya Satmaka mengatakan, pihaknya melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas terus mendorong ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan penyakit. Pasalnya, ia tidak memungkiri apabila terdapat kemungkinan adanya ibu hamil yang mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya. Adapun langkah awal yang diambil ialah pemeriksaan yang kemudian jika sekiranya benar ditemukan mengidap penyakit akan dilakukan pengobatan lanjutan.
Seperti misalnya untuk penyakit HIV/AIDS, perlu diberikan perlindungan terhadap janin yang dikandung agar tidak terwarisi penyakit tersebut dan menjadi permasalahan bagi generasi lanjutan.
“Sudah kami terapkan program ini sejak beberapa waktu lalu. Sebagai langkah antisipasi janin atau anak ikut mengidap penyakit ini, perlu ada pendampingan dan treatment khusus. Sehingga ke depan paling tidak anak pengidap HIV atau bahkan AIDS dapat terkontrol dan terdata,” kata Priyanta, saat ditemui dalam acara peringatan Hari HIV AIDS di Balai Karangrejek, Rabu (05/12/2018).

Adapun dari data yang telah masuk ke Dinas Kesehatan Gunungkidul, sebanyak 356 warga Gunungkidul mengidap HIV sementara untuk data penderita AIDS sendiri tercatat lebih dari 200 orang. Tidak sedikit pula perempuan yang mengidap penyakit ini, mulai dari perilaku yang tidak terkontrol hingga hal-hal lainnya.
Tentu hal tersebut menjadi keprihatianan tersendiri dan perlu segera ada penanganan khusus. Dari jumlah tersebut bahkan terdapat kurang lebih 10 anak-anak yang dinyatakan menderita penyakit ini.
“Ya memang faktor utama karena perilaku mereka kemudian disusul faktor lain. Kalau untuk persebaran hampir setiap kecamatan ada namun demikian seperti Kota, Ponjong, Semanu dan Playen masih cukup tinggi,” tambah dia.
Berdasarkan pemetaan pula, banyaknya kasus pengidap HIV AIDS di Gunungkidul, sebagian berasal dari mereka yang semula bekerja di tanah rantau kemudian setelah mengalami sakit-sakitan kembali ke daerah asalnya.
Untuk penanganan sendiri, sebanyak 30 puskesmas yang ada di Gunungkidul sudah dapat melayani pemeriksaan VCT, namun demikian belum dapat semaksimal yang diharapkan karena terkendala sumber daya manusia. Akan tetapi dari dinas terus berupaya melakukan pelayanan terbaik untuk mereka yang menderita HIV maupun AIDS.
Disinggung mengenai ada atau tidaknya pegawai negeri sipil (PNS) Gunungkidul yang menderita HIV dan AIDS, Priyanta belum dapat mengutarakan secara gamblang. Pasalnya data lengkap belum dimiliki oleh Dinas Kesehatan, namun jika dilihat dari resiko atau hal lain bukan tidak mungkin PNS juga ada yang mengidap penyakit itu.
“Selain fokus pada ibu hamil, kami juga sedang berupaya melakukan perubahan stigma masyarakat mengenai penyakit HIV/AIDS, sehingga tidak ada perilaku diskirminatif oleh lingkungan terhadap OHIDA,” imbuh dia.

Dalam acara peringatan ini, juga diadakan pemeriksaan VCT bagi PNS maupun masyarakat umum. Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi beserta sejumlah pejabat lain pun juga ikut melakukan pemeriksaan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri maupun masyarakat lain
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Hj.Badingah, S.Sos menambahkan bahwa diskriminasi pada penderita penyakit ini terlebih pada anak-anak merupakan permasalahan sosial. Di mana perilaku ini perlu diubah oleh masyarakat, agar mereka paham mengenai penyakit HIV/AIDS dan dapat memperlakukan para penderita HIV AIDS tersebut sesuai dengan orang sehat atau normal pada umumnya. Jangan sampai mereka justru mendapatkan perilaku yang berbeda sehingga justru berdampak pada mental anak atau orang tua.
“Perlu pemahaman bahwa semua sama. Penyakit ini tidak menular jika tidak ada kontak fisik, pada intinya kami tekankan dan menggandeng semua lapisan untuk mengerti. Ini bukan persoalan mengerikan kok,” ucap dia.
-
Kriminal4 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa4 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Sosial1 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan3 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized1 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized4 hari yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Peristiwa4 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa3 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Pemerintahan6 hari yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Peristiwa4 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
