fbpx
Connect with us

Sosial

Tolak Berobat Meski Kulit di Sekujur Tubuh Melepuh Akibat Penyakit Misterius, Poniem Bersikeras Ingin Hidup Atau Mati di Rumahnya

Published

on

Ponjong,(pidjar.com)–Namanya Poniem. Warga Padukuhan Gedaren I, Desa Sumbergiri, Kecamatan Ponjong ini harus merasakan sakit yang luar biasa. Poniem yang telah berusia 75 tahun ini menderita penyakit kulit misterius yang mengakibatkan kulit di sekujur tubuhnya melepuh. Akibatnya selama kurang lebih 2 bulan belakangan ini, nenek renta yang hidup sebatangkara tak bisa melakukan aktifitas layaknya biasanya. Ia hanya bisa tergeletak tak berdaya di kasur tipis dalam gubuknya yang reot.

Meski usianya sudah sangat tua dan digerogoti penyakit, akan tetapi pendengaran dan penglihatannya masih tajam. Untuk diajak mengobrol pun suaranya masih lantang.

Ditemui pidjar.com, Poniem menceritakan kondisi kesehatannya yang terganggu saat ini. Rasa panas, perih, dan gatal ia rasakan dan cukup menyiksa selama kurang lebih 4 bulan belakangan. Dua bulan terakhir menjadi masa di mana penyakit kulit yang ia derita semakin parah dan membuatnya tak bisa beraktifitas. Dirinya hanya bisa terbaring lemas tak berdaya di selembar kasur yang terpasang di lantai.

Awal mula penyakit yang menyiksa ini diceritakannya hanya berupa luka kecil di tangannya. Luka tersebut kemudian ia obati menggunakan salep. Ia juga rutin memeriksakan diri ke Puskesmas. Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba kondisinya memburuk. Penyakit yang ia derita lantas menjalar ke seluruh tubuh, bahkan wajahnya pun juga terserang penyakit ini.

“Wingi niku abuh seawak. Dengkul kuyur-kuyur ados enten banyune, panas rasane tur perih. Niki mawon sami garing ning gatel perih ora umum (Kemarin bengkak seluruh tubuh. Lutut juga bengkak seperti ada airnya, panas dan perih rasanya. Sekarang sudah mengering tapi tetap gatel dan perih),” kata Poniem, Selasa (29/01/2019).

Seluruh tubuhnya memang beberapa waktu lalu sempat membengkak dan berair lantaran sakit yang dialami. Jika bengkak tersebut pecah, akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan kulitnya mengelupas jika mengering. Sebenarnya telah dilakukan pengobatan, obat salep ternyata tidak bereaksi. Saat ini medis memberikan obat bubuk untuk penanganannya.

Beberapa minggu ini, bengkak yang ada di tubuhnya sudah secara keseruhuan pecah dan mengering. Namun mengeringnya itu belum mengelupas, sehingga masih banyak yang menempel dan membuat wajah serta tubuhnya terlihat menyeramkan. Sakit dan perih masih terus ia rasakan.

“Kados kulit lulang e ganti yen pun garing lan ngletek sedanten, alus resikk. Yen tasih dereng ngletek nggih kados niki,” imbuh dia.

Beruntung selama ini ada yang mengurus nenek renta ini yaitu kerabatnya, Sri Fajariyah maupun warga setempat yang perduli. Secara bergantian mereka memenuhi kebutuhan Poniem mulai dari menyiapkan makan atau mengganti pampersnya. Maklum, Poniem selama ini hanya hidup sendirian di rumah berdinding anyaman bambu (gedhek). Semasa hidupnya ia habiskan untuk bekerja. Poniem tak pernah menikah dan tidak memiliki anak.

Untuk saat ini dalam kondisi sakit, ia hanya mengandalkan belas kasih dari tetangga dan kerabat dekatnya yang terdorong hatinya untuk mengurus Poniem. Dari kerabat, tetangga bahkan relawan membujuk nenek renta itu untuk dirawat di rumah sakit. Namun ia enggan untuk meninggalkan rumah dan mendapat perawatan di rumah sakit.

“Pokoke mboten, mati urip tetep ning ngomah. Kulo mboten ajeng ngombro-ombro, kajenge yen gratis nopo ajeng dibayari tiyang niko. Kulo tetep ning ngomah mati urip (Pokoknya tidak, hidup mati tetap di rumah. Saya tidak akan ke mana-mana, walaupun gratis atau dibayari orang lain. Saya tetap di rumah hidup mati),” ujarnya.

Lantaran penyakitnya ini, pakaian yang digunakan hanya sekali pakai. Setiap harinya, pakaian tersebut diganti, kemudian pakaian yang telah digunakan dibakar agar penyakit ini tidak menular. Bantuan pakaian layak pakai sangat dibutuhkan oleh nenek renta ini.

Sementara itu, Ketua RT setempat Pandri mengatakan kepedulian masyarakat pada kondisi Poniem memang sudah baik. Secara bergantian masyarakat merawat nenek ini. Jika Sri Fajariyah yang berprofesi sebagai guru tengah mengajar di sekolah, sejumlah warga bergantian merawat Poniem. Namun memang setiap siang hingga sore ada saja warga yang menemani dan menunggui. Sementara untuk malam harinya, Poniem hanya tinggal sendiri. Jika memerlukan suatu hal ia akan berteriak dan warga yang mendengar baru ke rumahnya.

“Seperti ini kondisinya memang, sebenarnya kasihan tapi setiap kali dibujuk untuk ke rumah sakit dia sendiri yang tidak mau,” terang Pandri.

Sebelum kondisi semakin parah, awalnya Poniem tidur di sebuah tempat tidur. Namun saat tidur ia justru sering terjatuh dari tempat tidurnya, hingga warga berinisiatif menidurkan dia di lantai dengan selembar kasur tipis. Di dalam rumahnya tak ada perabot istimewa layaknya rumah warga pada umumnya. Hanya beberapa foto keluarga besar dia yang terpajang.

“Mudah-mudahan lah segera pulih, gak tega kalau harus melihat mbah Pon seperti ini terus. Ada obat lengkap, perlengkapan lain juga ada. Tapi siapa yang kuat kalau lihat kondisi seperti ini,” tutup dia.

Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler