Connect with us

Sosial

Ziarah Makam Mantan Bupati, Menelisik Sejarah Terbentuknya Kabupaten Gunungkidul

Diterbitkan

pada

Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sebagai rangkaian acara peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ke 188, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Gunungkidul menggelar rangkaian ziarah ke makam mantan Bupati Gunungkidul. Kegiatan ziarah makam ini sendiri berlangsung pada Selasa (11/06/2019) kemarin. Pertama kali, kegiatan ziarah ke makam Bupati Gunungkidul yang pertama, Almarhum Mas Tumenggung Pontjodirdjo yang berada di Pemakaman Umum Padukuhan Kerjo I, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong.

Kegiatan ziarah makam diawali dengan upacara ziarah, doa bersama dan melaksanakan penaburan bunga di makam. Selain itu, Pemkab Gunungkidul yang diwakili oleh Kepala Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Azis Shaleh membacakan riwayat singkat dari Bupati Gunungkidul yang pertama tersebut.

“Awalnya Gunungkidul merupakan hutan lebat di mana kemudian tumbuh sebuah desa dengan dihuni beberapa orang yang merupakan pelarian dari kerajaan Majapahit,” kata dia memulai uraian sejarah.

Menurutnya, desa itu dikenal bernama Pongangan yang dipimpin R.Dewo Katong, yang masih memiliki hubungan saudara dengan Prabu Brawijaya V. Dewo Katong kemudian pindah ke wilayah yang lain yakni Desa Katongan tepatnya 10 kilometer sebelah utara Pongangan. Sedang Pongangan itu sendiri merupakan hunian putranya, R. Suromejo.

Berita Lainnya  Tambahan 8 Warga Tepus Terkonfirmasi Positif Covid-19, Dinkes : Mereka Sempat Jenguk Pasien Positif Meninggal

Yang cukup menarik dari makam ini adalah prasasti yang bertuliskan “Wignya Manggalani Nata Hanyipta Tumataning Swapraja Surya Sengkala”. Tak bisa dipungkiri, prasasti ini sedikit banyak merupakan bagian dari catatan penting sejarah berdirinya Kabupaten Gunungkidul. Karena makam ini sendiri merupakan cikal bakal bupati pertama, Mas Tumenggung Pontjodirjo di wilayah Genjahan Pati Ponjong. Sedang surya sengkala itu disebutkan tahun 1831 sehingga pada tahun 2019 ini genap berusia ke 188 .

Dalam perjalanan waktu, Pongangan menjadi semakin sibuk. Hunian yang semakin ramai tersebut lantas terdengar oleh prajurit dan dilaporkan ke Raja Mataram, Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kraton Kartasura. Raja Mataram tersebut, berlanjut mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran kabar yang didengarnya tersebut.

“Setelah ditelisik oleh mata mata dan sandi sandi kraton, ternyata benar bahwa ada penguasa daerah, sehingga utusan yang di pimpin Tumenggung Prawiropekso mendatangi mengajak kepada Ki Suromejo supaya datang ke kraton untuk meminta ijin penguasa Mataram tersebut. Sebab wilayah yang dihuni merupakan kekuasaan Kerajaan Mataram,” kata Aziz, yang saat ini menjabat sebagai Humas Protokoler peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ke 188 itu.

Ajakan Tumenggung Prawiropekso kepada Ki Suromejo ini mendapat tanggapan dingin, bahkan ditolaknya. Setelah ajakan ditolak, Tumenggung Prawiropekso utusan kraton Mataram laporan ke pada Raja. Penolakan ini pada akhirnya membuat sang raja murka dan kemudian Kerajaan Mataram menyerang Pongangan. Terjadilah kemudian peperangan yang membuat Ki Soromejo beserta kedua putranya gugur di tangan prajurit Mataram.

Berita Lainnya  Ketua DPRD Sentil Tak Maksimalnya Peran Satgas Berani Hidup Pimpinan Wakil Bupati

Kekalahan telak dalam pertempuran tak seimbang ini lalu membuka mata salah satu dari putra Ki Suromejo yakni Ki Pontjodirjo yang lalu memutuskan untuk menyerah. Oleh Kerajaan Mataram, Pongangan kemudian dijadikan sebagai salah satu wilayah kekuasaan dengan Pontjodirjo sebagai Bupati yang pertama.

Masa pemerintahan Tumenggung Pontjodirjo pada tahun 1831 sendiri cukup singkat. Sebab saat itu terjadi pembagian wilayah Gunungkidul antara Kasultanan Ngayogyokarto dengan Mangkunegaran. Pontjodirjo kemudian digantikan oleh Mas Tumenggung Prawirosetiko, dan dalam perkembangan pula bupati ini memindahkan pusat pemerintahannya ke Kecamatan Wonosari dari yang semula berkedudukan di Ponjong.

“Berdasarkan hasil oleh lacak tahun 1984, jelas hari jadi kabupaten Gunungkidul jatuh pada Jumat Legi 27 Mei 1831 atau 15 besar Je 1758. Kemudian diperkuat dengan keputusan Bupati Gunungkidul No. 70/188.45/6/1985 tentang penetapan hari, tanggal, bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditanda tangani bupati saat itu, KRT Sosro Hadiningrat pada tanggal 14 Juni tahun 1985,” urainya.

Melalui penetapan sebagai pusat pemerintahan pada 15 Agustus tahun 1950 dan kemudian sesuai UU Nomor 15 tahun 1950 jo PP nomor 32 tahun 1950 pada saat masa pemerintahan KRT Labaningrat, Kabupaten Gunungkidul menyandang status sebagai salah satu daerah kabupaten yang berhak mengatur serta mengurus rumah tangga sendiri serta masuk Daerah Istimewa Yogyakarta, berpusat dan beribu kota di Wonosari.

Berita Lainnya  Hendak Kirim Makanan, Slamet Temukan Ayahnya Gantung Diri di Dapur Rumah

Aziz menambahkan, terkait dengan sejarah Gunungkidul ini, Pemkab Gunungkidul masih terus melakukan riset. Maka dari itu, ia mengimbau kepada seluruh warga Gunungkidul apabila memiliki tambahan informasi terkait sejarah Gunungkidul, bisa berkomunikasi dengan Pemkab.

“Sehingga nantinya bisa menambah uraian sejarah panjang terbentuknya Kabupaten Gunungkidul,” ujar dia.

Rangkaian ziarah makam Bupati Pertama Kabupaten Gunungkidul dilanjutkan dengan menziarahi makam-malam bupati Gunungkidul lainnya diantaranya adalah ke makam Sumpeno Putro, RM. Pandji Hardjodipuro, Yutikno dan ditutup ziarah makam ke puasaran pendiri Kabupaten Gunungkidul, Ki Demang Wonopawiro di Desa Piyaman Kecamatan Wonosari. (Ulfah Nurul Azizah)

Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata6 hari yang lalu

Kejuaraan Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III Digelar di Pantai, 458 Atlet dari 7 Provinsi Berebut Juara

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Tanjungsari, (pidjar.com)- Kejuaraan Open Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III 2026 hadir dengan konsep berbeda. Untuk pertama kalinya, lintasan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

Berita Terpopuler