Connect with us

Pemerintahan

Dampak Kekeringan Meluas, Hampir Seluruh Telaga di Gunungkidul Mengering

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)– Musim kemarau yang melanda Kabupaten Gunungkidul menyebabkan hampir seluruh telaga mengering. Dari total 359 telaga yang tersebar di 18 kapanewon, saat ini telaga yang masih memiliki cadangan air dan dapat dimanfaatkan masyarakat hanya tersisa hitungan jari saja.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPRKP Kabupaten Gunungkidul, Sigit Swastono, mengatakan, kemarau yang terjadi memang berdampak luar biasa pada ketersediaan air di wilayah Gunungkidul. Sumber air yang ada pun mayoritas juga mengering termasuk pada telaga-telaga yang tersebar di seluruh wilayah Gunungkidul.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 345/KPTS/2022 tentang Penetapan Daftar Telaga, di Gunungkidul saat ini memiliki sedikitnya 359 telaga yang digunakan oleh masyarakat sebagai tempat pengairan lahan serta aktivitas tertentu. Namun memang, telaga yang ada tidak semuanya bisa menampung air lebih lama utamanya saat kemarau.

Berita Lainnya  Tingkatkan Keamanan, Pasar Argosari Kini Dipasang CCTV

“Sebagian besar telaga di Gunungkidul mengering pada musim kemarau ini sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Hanya sekitar 5 sampai 10 telaga saja yang saat kemarau ini masih tetap ada airnya dan dapat digunakan oleh warga,” terang Sigit Swastono,

Menurutnya, keringnya telaga dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari musim kemarau panjang, curah hujan yang rendah, penguapan alami, kondisi geologi batuan karst yang berpori dan mudah meresapkan air, hingga sedimentasi atau pendangkalan lumpur yang mengurangi kapasitas tampung telaga.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul selama ini berupaya meningkatkan daya tampung telaga melalui usulan pengerukan sedimen kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Namun, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan pengerukan dilakukan secara bertahap.

“Untuk tahun ini belum informasi tindak lanjut pengerukan telaga,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pihaknya memastikan program revitalisasi telaga tetap menjadi perhatian baik dilakukan oleh pemerintah daerah, kabupaten atau secara mandiri dengan aksi sederhana namun nyata.

Berita Lainnya  Siapkan Skema Tambahan Anggaran Puluhan Miliar Untuk Bantuan, Wakil Ketua DPRD: Rakyat Gunungkidul Tak Boleh Lapar!

“Kami mendorong partisipasi masyarakat melakukan penghijauan di kawasan sekitar telaga serta aksi-aksi lainnya untuk dapat mengembalikan telaga ke fungsi semula dan tidak mudah mengering,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Bapperida Kabupaten Gunungkidul, Sugeng Prihartanto, mengungkapkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penjajakan kolaborasi dengan Pemkab Gunungkidul dalam hal pengembangan sistem pemantauan ketersediaan air telaga karst menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing).

BRIN akan melakukan riset dan pendataan mengenai lokasi telaga serta ketersediaan air permukaan di wilayah Gunungkidul sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya air berbasis data di kawasan Karst Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.

“Pada riset tersebut kami meminta atau merekomendasikan BRIN tidak hanya memetakan kondisi telaga, tetapi juga menganalisis wilayah tangkapan air (catchment area), volume air yang dapat ditampung, serta kemampuan kawasan dalam menyimpan air, terutama saat musim kemarau,” ucapnya.

Lebih lanjut Sugeng mengatakan, elaga-telaga di Gunungkidul telah menjadi sumber air masyarakat sejak lama utamanya untuk cadangan air di musim kemarau di sektor pertanian untuk mengairi lahan pertanian utamanya hortikultura.

Berita Lainnya  Razia Gabungan, Satpol PP dan Bea Cukai Sita Ribuan Rokok Ilegal

“Kita juga minta ke BRIN sekaligus meriset, cara, metode yang tepat untuk merehabilitasi telaga-telaga di Gunungkidul agar tidak mengering. Mengingat saat kemarau seperti ini banyak sekali telaga yang mengering,” tandasnya.

Hasil penelitian tersebut nantinya diharapkan menjadi dasar penanganan persoalan air secara jangka panjang, baik untuk mengantisipasi kesulitan air, mendukung perluasan pelayanan air, maupun meningkatkan pemanfaatan sumber daya air bagi sektor pertanian, khususnya hortikultura.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata4 minggu yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis2 bulan yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Berita Terpopuler