Uncategorized
Bawang Merah Makin Diminati, Luas Tanam di Gunungkidul Naik 14 Persen-Bisa 3 Kali Panen Setahun
Wonosari, (pidjar.com) – Luas tanam bawang merah di Kabupaten Gunungkidul terus meningkat sepanjang 2026. Hingga Juni, luas tanam komoditas hortikultura unggulan tersebut mencapai 141,44 hektare atau naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat 123,17 hektare.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Aning Sri Mintarsih, mengatakan peningkatan itu menunjukkan minat petani menanam bawang merah semakin tinggi.
“Wonosari menjadi wilayah dengan luas tanam bawang merah terbesar di Gunungkidul, yakni sekitar 78 hektare. Hampir setengah dari total luas tanam berada di Wonosari, kemudian disusul Playen,” kata Aning saat ditemui.
Menurut Aning, tren kenaikan luas tanam tahun ini dipengaruhi perubahan pola budidaya. Jika sebelumnya petani umumnya hanya mampu melakukan dua kali tanam dalam setahun, kini sebagian besar sudah bisa menanam hingga tiga kali.
“Jadi yang sebelumnya dua kali menjadi tiga kali. Puncak tanam ada di bulan Juli ini sehingga nanti juga akan meningkat baik data luas tanam maupun produksi,” jelasnya.

Meski demikian, produksi bawang merah sepanjang Januari-Juni 2026 belum dapat dihitung secara pasti karena sebagian besar tanaman masih berada dalam masa pertumbuhan dan belum dipanen. Dinas Pertanian memproyeksikan produksi hingga Juli mencapai sekitar 78 ton.
Selain didorong peningkatan intensitas tanam, harga bawang merah yang relatif stabil dibanding komoditas hortikultura lain juga membuat petani semakin tertarik mengembangkan tanaman tersebut.
Kendati begitu, harga jual di tingkat petani dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan seiring masuknya musim panen raya di sejumlah sentra produksi nasional seperti Nganjuk dan Brebes.
“Memang kita pernah menyentuh harga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram di tingkat petani. Per minggu kemarin harga tutulan sekitar Rp15 ribu per kilogram,” ujar Restu.
Meski harga turun cukup tajam dibanding beberapa waktu lalu, menurutnya petani masih memperoleh keuntungan. Sebab, titik impas atau break even point (BEP) budidaya bawang merah di Gunungkidul berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram.
“Itu petani masih untung karena BEP bawang merah sekitar Rp10 ribu,” pungkasnya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Sosial3 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 hari yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized3 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized2 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized3 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Pemerintahan3 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Uncategorized1 hari yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized1 minggu yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
-
Uncategorized4 minggu yang laluPemuda 22 Tahun Ditemukan Gantung diri di Dapur Rumah
