Uncategorized
Panen Raya Jagung, Imigrasi Turut Dorong Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Semin,(pidjar.com)– Program ketahanan pangan terus digalakkan oleh pemerintah ke masyarakat desa melalui sejumlah lembaga negara. Salah satunya melalui Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Di Gunungkidul sendiri terdapat Desa Binaan Imigrasi di Kapanewon Semin, Gunungkidul yang menyentuh aspek pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.
Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko mengatakan Desa Binaan Imigrasi di Gunungkidul mencakup Kalurahan Semin, Bendung, Kemejing, Kalitekuk dan Bulurejo. Setidaknya selama beberapa bulan lalu terdapat lahan seluas 2,5 hektare yang dikembangkan untuk pertanian jagung. Kemudian di Selasa, (29/09/2026) ini diadakan panen raya.
Dari luasan lahan tersebut produksi jagung diperkirakan mencapai sekitar 6,9 ton per hektare. Dengan demikian, total hasil panen diproyeksikan mencapai kurang lebih 17,25 ton.
Pengembangan sektor pertanian ini menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat program Desa Binaan Imigrasi. Kolaborasi yang dibangun tidak hanya berkaitan dengan tugas dan fungsi keimigrasian, namun juga diarahkan untuk menciptakan ruang sinergi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
“Melalui penguatan sektor pertanian, masyarakat didorong untuk dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki desa secara mandiri. Lahan pertanian tidak sekadar menjadi tempat produksi, tetapi juga diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat, mulai dari penguatan kelompok tani, peningkatan produktivitas, pengembangan usaha berbasis hasil pertanian hingga membuka akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Saat ini, dari Keimigrasian tidak hanya berkecimpung pada pelayanan paspor, visa dan dokumen-dokumen tertentu. Namun juga berupaya menumbuhkan perekonomian yang layak dan turut berpartisipasi dalam ketahanan pangan.
“Mungkin banyak yang bingung biasanya di pelayanan publik namun kali ini terjun dalam dunia pertanian. Kami semua memiliki tanggung jawab dalam pemecah permasalahan perekononian dan lainnya. Untuk itu, sektor pertanian yang kemudian diolah agar menciptakan kemandirian ekonomi dan berkontribusi dalam ketahanan pangan,” tandasnya.
Ia mengatakan, kegiatan ketahanan pangan melalui tanam jagung bukan sekadar berbicara mengenai lahan dan hasil panen. Namun lebih dari itu, pemerintah ingin membangun kesadaran bahwa potensi desa harus dikelola secara bersama-sama dengan melibatkan masyarakat.
“Masyarakat diberdayakan, petani diperkuat, pemerintah hadir dan berbagai lembaga mengambil peran sesuai tanggung jawabnya. Kemudian jangan berhenti pada panen. Jadikan panen hari ini sebagai awal untuk membangun kegiatan yang semakin produktif, semakin berkelanjutan, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” imbuh dia
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Gunungkidul Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, mengatakan ketahanan pangan tidak dapat dibangun oleh satu lembaga saja. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, petani, kelompok masyarakat maupun berbagai pihak lainnya.
“Ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan pemerintah. Tidak cukup hanya dengan petani. Tetapi harus menjadi kerja bersama,” ujarnya.
Wibawanti mengapresiasi langkah Kantor Imigrasi Kelas I TPI Yogyakarta yang mengembangkan Desa Binaan Imigrasi tidak hanya dalam aspek keimigrasian, tetapi juga melalui pemberdayaan dan penguatan ketahanan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan Desa Binaan Imigrasi kini telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat. Selain edukasi mengenai migrasi aman serta perlindungan dari tindak pidana perdagangan orang (TPPO) maupun tindak pidana perdagangan manusia (TPPM), masyarakat juga mendapatkan berbagai kegiatan sosial dan layanan kesehatan.
Generasi muda pun memperoleh pengetahuan mengenai keimigrasian. Sementara dalam kegiatan kali ini, masyarakat diajak memperkuat ketahanan pangan melalui sektor pertanian.
“Artinya, Desa Binaan Imigrasi telah berkembang menjadi ruang kolaborasi yang menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat. Namun, kami berharap jangan berhenti pada panen hari ini,” katanya.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan setelah kegiatan panen raya selesai. Menurutnya, lahan yang telah dikembangkan harus tetap produktif, kelompok tani perlu terus diperkuat, serta pendampingan dan akses terhadap pasar harus ditingkatkan.
“Setelah panen, kita harus bicara tentang keberlanjutan. Bagaimana lahan tetap produktif, bagaimana kelompok tani semakin kuat, bagaimana pendampingan terus dilakukan, bagaimana hasil pertanian memiliki akses pasar,” tuturnya.
Wibawanti menambahkan, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana maupun besarnya hasil panen. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana program tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pengembangan pertanian di Desa Binaan Imigrasi diharapkan tidak berhenti pada produksi jagung. Ke depan, ruang kolaborasi tersebut dapat dikembangkan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian secara lebih luas, termasuk penguatan usaha kelompok tani, pengolahan hasil pertanian, pemasaran serta pengembangan potensi ekonomi desa.
“Ukuran keberhasilan sebuah program bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi seberapa jauh masyarakat merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Pemkab Gunungkidul, lanjut Wibawanti, siap terus mendukung sinergi antara pemerintah daerah, Kantor Imigrasi, pemerintah kapanewon dan kalurahan, kelompok tani, TNI-Polri, dunia pendidikan serta seluruh unsur masyarakat.
Ia berharap Kapanewon Semin dapat menjadi contoh bahwa program yang awalnya bersifat sektoral dapat berkembang menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang lebih luas ketika dikerjakan secara bersama-sama.
“Hari ini kita memanen jagung. Tetapi yang lebih penting, kita sedang menanam kemandirian, gotong royong dan harapan untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan sosial oleh Direktorat Jendral Imigrasi berupa 200 paket sembako kepada masyarakat.
-
Uncategorized2 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized6 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Sosial3 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Budaya19 jam yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized1 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized1 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
