Pemerintahan
Kesenjangan Pendidikan di Yogya Semakin Nyata, DPRD DIY Minta Pemda Lakukan Deteksi Dini
Jogja, (pidjar.com) – Kesenjangan pendidikan di DIY semakin nyata. Hal ini diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa tamatan SD sebesar 22,27 persen, tamatan sekolah menengah 39 persen, dan selebihnya putus sekolah di tengah jalan.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu B mengatakan, Blbanyak pemuda di DIY, terutama yang baru saja lulus sekolah menengah tidak lagi melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kemiskinan.
“Kesenjangan pendidikan itu terjadi karena banyak hal, salah satunya kemiskinan. Pemerintah perlu melakukan litigasi. Kenapa ini terjadi?” katanya dalam konferensi pers di DPRD DIY, Rabu (16/7/2025).
Kenyataan yang ditemui di lapangan, lanjut Dwi, membuatnya merasa prihatin. Selain adanya kesenjangan pendidikan di wilayah yang memiliki predikat Kota Pendidikan ini, data menunjukkan partisipasi kuliah anak-anak Yogyakarta sangat rendah.
“Angkanya pun cukup mencengangkan, mencapai 15 persen. Itu sebabnya apa? Apakah karena kemiskinan?” ujarnya.
Dwi yang membidangi kesejahteraan masyarakat menyebut, Komisi D DPRD DIY sudah mengusulkan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga (Disdikpora) DIY untuk melakukan deteksi dini. Selain itu, ia juga sudah mendorong Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) sebagai instansi di bawah Disdikpora agar menganggarkan beasiswa lewat program Kuliah Istimewa.
“Persoalannya itu kuotanya ternyata terbatas. Saya kritisi, kenapa D4 kok tidak S1 sekalian. Kenapa dibatasi hanya untuk beberapa universitas,” ungkapnya.
Di sisi lain, DPRD DIY juga sudah mengusulkan agar BPO dan Disdikpora membuat MoU lebih luas dengan semua universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuannya, anak yang akan kuliah bisa mengenyam pendidikan yang sesuai dan tidak terpaksa menjalani kuliah dengan pilihan kampus yang telah ditentukan pemerintah.
“Jangan sampai anak akan kuliah, karena universitas yang dipilih tidak pas karena program kuliah gratis hanya di kampus yang ditunjuk itu, mereka dengan terpaksa menjalani,” jelasnya.
Dwi menilai, fakta inilah yang menjadi persoalan bersama. Terjadinya disparitas pendidikan di DIY harus dikaji lebih luas lagi walaupun sudah diketahui kemiskinan salah satu penyebabnya. Ia tidak ingin muncul persoalan klasik ijazah tidak diambil karena tidak mampu.
Beasiswa Istimewa, lanjut Dwi, seharusnya tidak dibatasi hanya untuk warga yang tinggal di kantong-kantong kemiskinan. Padahal, wilayah di luar kantong kemiskinan banyak terdapat warga miskin.
“Jangan sampai muncul kesan Beasiswa Istimewa justru menyandera warga miskin,” tegas Dwi.
“Jangan samai kantong kemiskinan menjadi parameter program Beasiswa Istimewa. Menurut saya, jangan main-main dengan persoalan pendidikan di DIY. Kalau pendidikan akan menjadi salah satu program utama di DIY maka pemerintah harus melakukan litigasi kenapa anak-anak Yogyakarta hari ini tidak suka kuliah, karena apa?” imbuh Dwi. (Ken).
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized6 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
Uncategorized4 minggu yang laluMulai Oktober, Tujuh TPR Wisata Gunungkidul Terapkan Pembayaran Retribusi Cashless
