Connect with us

Uncategorized

Berawal dari 40 Anak Punk, Kini Petani Punk Gunungkidul Dampingi Lebih dari 120 Pemuda Bercocok Tanam

Diterbitkan

pada

Karangmojo, (pidjar.com)-Di sebuah sudut Padukuhan Kalangan, Kapanewon Karangmojo, suara gitar yang dulu identik dengan anak punk perlahan berganti dengan deru mesin pompa air dan bunyi cangkul menghantam tanah. Sawah yang dulu terasa asing kini menjadi ruang belajar sekaligus tempat mereka menata masa depan.

Apa yang dimulai dari sekitar 40 anak jalanan pada 2018, kini menjelma menjadi gerakan yang mendampingi lebih dari 120 pemuda untuk kembali mencintai pertanian. Di balik nama Petani Punk, tersimpan cerita tentang upaya mematahkan stigma sekaligus menghidupkan kembali regenerasi petani di desa.

Pendiri komunitas Petani Punk, Pratisna Sibag, mengatakan gerakan tersebut lahir bukan karena ingin membentuk komunitas baru, melainkan dari kegelisahan melihat sawah yang semakin ditinggalkan generasi muda.

Berita Lainnya  Belasan SD Negeri di Gunungkidul Tak Dapat Siswa

“Waktu itu kita seperti setengah teler. Kita mentertawakan petani-petani tua di lahan. Tapi pas pulang, kita sadar, 10 sampai 20 tahun lagi mungkin sudah tidak ada petani,” kata Sibag, dikutip dari dikutip dari akun mereka @petanipunk_gk.

Kesadaran itu menjadi titik balik. Anak-anak muda yang sebelumnya akrab dengan kehidupan jalanan mulai belajar mengolah lahan. Mereka mempelajari cara mencangkul, menanam, memupuk hingga memanen hasil pertanian.

Jumlah anggotanya pun terus bertambah. Jika pada awal berdiri hanya diikuti sekitar 40 anak jalanan, kini Petani Punk telah mendampingi lebih dari 120 pemuda di Padukuhan Kalangan.

Pertumbuhan komunitas itu tak lepas dari hasil nyata yang mereka tunjukkan. Bertani ternyata mampu menjadi sumber penghidupan tanpa harus meninggalkan kampung halaman untuk menjadi buruh di kota besar.

Berita Lainnya  Cuti Bersama Lebaran, Sejumlah Layanan Publik Ikut Libur

Perjalanan tersebut tidak diraih dengan mudah. Demi membuktikan bahwa bertani bisa menjadi pilihan hidup, Sibag bersama rekan-rekannya pernah mengambil keputusan yang penuh risiko.

“Kami sampai menggadaikan sertifikat tanah orang tua saya, yang di atasnya ada rumah. Jujur kami takut. Kalau gagal, orang tua kami bisa kehilangan tempat tinggal. Tapi saat itu kami nekat,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Keberanian itu akhirnya membuahkan hasil. Panen pertama berhasil mereka nikmati, utang dapat dilunasi, dan perlahan kepercayaan masyarakat mulai tumbuh.

Warga yang sebelumnya hanya melihat mereka sebagai anak punk mulai memberikan kesempatan. Lahan-lahan yang selama ini terbengkalai, mulai dari sekitar 800 hingga 1.500 meter persegi, diserahkan untuk mereka kelola.

Keberadaan komunitas ini pun memberi dampak lebih luas. Hasil panen tidak hanya menjadi sumber penghasilan anggota, tetapi juga membantu membiayai berbagai kegiatan kepemudaan di kampung, mulai dari peringatan HUT Kemerdekaan RI hingga perayaan malam tahun baru.

Berita Lainnya  Lomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta

Bagi Sibag, pencapaian terbesar bukan sekadar ikut menyuplai kebutuhan pangan pemerintah. Yang lebih penting adalah semakin banyak anak muda yang melihat bahwa bertani bukan pekerjaan yang memalukan, melainkan profesi yang mampu memberi kehidupan sekaligus menjaga masa depan pangan di daerahnya.

Dari puluhan anak punk yang dulu kerap dipandang sebelah mata, kini tumbuh ratusan pemuda yang memilih kembali ke sawah. Mereka membuktikan bahwa regenerasi petani bukan sekadar wacana, melainkan bisa dimulai dari keberanian segelintir anak muda untuk mengubah jalan hidupnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata4 minggu yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata1 bulan yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis1 bulan yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Berita Terpopuler