Pemerintahan
Gunungkidul Punya Hutan Terluas di DIY, Tapi Monyet Tetap Kelaparan, Ini Sebabnya
Wonosari, (pidjar.com)- Luas hutan di Kabupaten Gunungkidul mencapai sekitar 88,56 persen dari total kawasan hutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, luasnya kawasan hutan itu ternyata belum mampu menjamin ketersediaan pakan bagi monyet ekor panjang (MEP).
Penyebabnya, sebagian besar kawasan hutan di Gunungkidul didominasi pohon jati yang tidak menghasilkan buah sebagai sumber makanan alami primata. Kondisi itu membuat kawanan monyet keluar dari habitatnya dan masuk ke lahan pertanian warga untuk mencari makan.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan mayoritas kawasan hutan di wilayahnya merupakan hutan jati sehingga kurang mendukung kebutuhan pakan alami MEP.
“Mayoritas lahan tersebut merupakan hutan jati yang tidak menyediakan sumber pangan alami bagi primata,” kata Endah, Rabu.
Menurut Endah, keterbatasan sumber pakan membuat populasi MEP yang menghuni kawasan hutan mulai menyerbu lahan pertanian warga. Satwa tersebut bahkan dinilai semakin mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Ia mengungkapkan, berbagai cara yang selama ini dilakukan warga untuk mengusir monyet, seperti menggunakan petasan maupun senjata mainan, kini sudah tidak lagi efektif. Bahkan, kawanan monyet disebut mampu mengenali jadwal pemberian pakan tambahan dari pemerintah.
Karena MEP merupakan satwa yang dilindungi, Pemkab Gunungkidul tidak bisa melakukan penanganan secara sembarangan. Pemerintah pun menyiapkan strategi bertahap, mulai dari pemberian pakan di titik tertentu sebagai solusi jangka pendek hingga memperbaiki habitat satwa melalui penanaman pohon buah hutan.
“Jangka menengah dengan pembentukan satuan pangan permanen dengan menanam pohon buah hutan dan jangka panjangnya merestorasi ekosistem inti dan rehabilitasi lahan secara menyeluruh agar mengembalikan monyet ke habitat aslinya,” ujarnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan pemberian pakan tambahan sebenarnya telah dilakukan sejak tahun lalu. Namun berdasarkan hasil kajian, langkah tersebut belum sepenuhnya efektif, meski mampu menekan kerusakan tanaman di beberapa lokasi.
“Kalau menurut kajian memang kurang efektif, tapi paling tidak pada waktu itu di wilayah tersebut tingkat kerusakan lahannya agak berkurang,” kata Edy.
Edy menyebut tanaman yang paling sering menjadi sasaran MEP adalah jagung, kacang-kacangan, dan ketela, terutama di wilayah selatan Gunungkidul. Saat ini populasi MEP diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ekor dan tersebar di hampir 80 kalurahan.
Untuk mencari solusi jangka panjang, Pemkab Gunungkidul juga menggandeng Fakultas Kehutanan UGM. Salah satu rekomendasi yang tengah disiapkan ialah menanam pohon-pohon yang menghasilkan buah di sekitar habitat monyet agar kebutuhan pakan alami satwa dapat kembali terpenuhi dan konflik dengan petani berkurang.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized2 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
