Uncategorized
Sempat Viral Tepi Sungai Tahura Bunder Dikira Gratis, Pengelola: Retribusi Sudah Berlaku Sejak 2016
Patuk, (pidjar.com)-Pesona tepi Sungai Oya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kabupaten Gunungkidul, tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, di balik viralnya panorama alam tersebut, muncul anggapan keliru bahwa pengunjung bisa menikmati kawasan itu tanpa membayar tiket masuk.
Menanggapi hal tersebut, Balai Tahura Bunder menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Retribusi masuk kawasan konservasi itu telah diberlakukan sejak 2016 dan tidak ada kaitannya dengan meningkatnya popularitas lokasi wisata di media sosial.
Kepala Balai Tahura Bunder, Much. Alex Zuabedi, mengatakan pihaknya menyambut baik antusiasme masyarakat untuk menikmati keindahan kawasan tersebut. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Tahura Bunder merupakan kawasan pelestarian alam yang dikelola berdasarkan aturan resmi.
“Pemberlakuan retribusi ini murni merupakan pelaksanaan Peraturan Daerah DIY Nomor 11 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, bukan karena kawasan sedang viral,” kata Alex, dalam keterangannya.
Menurutnya, narasi yang menyebut kawasan tepi sungai dapat diakses secara gratis muncul karena sebagian pengunjung masuk melalui jalur tidak resmi. Mereka memanfaatkan jalan tikus atau menerobos portal ketika tidak ada penjagaan sehingga tidak melewati loket retribusi.
Pengalaman tersebut kemudian diunggah ke media sosial dan memunculkan persepsi bahwa seluruh kawasan dapat dimasuki tanpa membayar tiket.
Alex menjelaskan, penarikan retribusi sebenarnya sudah dilakukan sejak 2016 melalui pos resmi di kawasan tikungan Tleseh. Saat itu, aktivitas di sekitar Sungai Oya masih terbatas dan hanya dapat dilakukan setelah berkoordinasi dengan Balai Tahura Bunder.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam, pengelola sempat merintis pengembangan wisata tepi sungai bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) pada 2019. Namun, program tersebut terhenti akibat pandemi COVID-19 sehingga kawasan hanya dibuka untuk kegiatan penelitian dan praktikum melalui sistem reservasi.
Memasuki 2021, pengelolaan wisata mulai diarahkan agar terpusat di kawasan aliran sungai. Berbagai fasilitas di area atas kemudian dibongkar secara bertahap pada 2024 sebagai bagian dari penataan kawasan konservasi.
Meski masterplan pengembangan wisata telah disusun, pembangunan fisik belum direalisasikan. Sebagai langkah menjaga kelestarian ekosistem, Balai Tahura Bunder memasang portal di akses menuju sungai sejak awal 2025 dan hanya membukanya bagi pengunjung yang memiliki izin.
Menyusul ramainya kunjungan akibat viral di media sosial, pengelola kini kembali memperketat pengawasan sekaligus membuka loket resmi di kawasan bawah. Pengunjung dikenai retribusi Rp5.000 per orang, sedangkan kendaraan dikenakan tarif mulai Rp1.000 untuk sepeda motor hingga Rp10.000 untuk bus.
Alex menegaskan, tiket yang dibayarkan pengunjung bukan sekadar biaya masuk, melainkan bentuk partisipasi dalam menjaga kawasan konservasi.
“Setiap tiket yang dibeli adalah bentuk partisipasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan, menjaga kelestarian hutan, perlindungan satwa, serta pelayanan kepada pengunjung,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai mekanisme kunjungan ke Tahura Bunder dan tetap menggunakan jalur resmi saat berwisata. Menurutnya, kepatuhan membayar retribusi menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian hutan agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized3 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized1 minggu yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized1 minggu yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized6 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized1 minggu yang laluSerangan Binatang Liar Ancam Ternak di Wilayah Selatan Gunungkidul, Warga Diminta Waspada
