Pendidikan
Cemasnya Guru dan Siswa Kelas 6 SD Beji Belajar di Bawah Atap Ruang Kelas Yang Rusak Berat
Patuk,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen sudah diterapkan sejak 3 Januari 2022 kemarin. Salah satunya adalah di SD Negeri Beji, Kalurahan Beji, Kapanewon Patuk yang saat ini telah menerapkan pembelajaran di sekolah. Namun dalam penyelenggaraan PTM ini, ada sedikit kekhawatiran dari para guru. Saat ini, atap salah satu ruang kelas bocor dan dikhawatirkan ambrol seperti bangunan ruang TIK.
Salah seorang guru, Sumaryati, mengatakan, setiap musim pengujan, ruangan kelas 6 memang selalu bocor. Bahkan saat hendak memulai pembelajaran, guru dan siswa terpaksa harus bekerja bakti untuk mengepel ruangan guna mengeluarkan air yang menggenang di ruangan kelas. Belum lama ini hujan deras terjadi, hal ini semakin menambah kerusakan di atap ruang kelas 6. Bahkan air yang masuk mengenai LCD atau proyektor sehingga alat yang menunjang pembelajaran tersebut rusak dan mati total.
Untuk menyikapinya dan mengantisipasi agar atap tersebut tidak ambrol saat hujan dan pada proses KBM, maka pihak sekolah beberapa waktu lalu melakukan rapat dengan komite sekolah. Hasilnya disepakati pada bagian atap ruang kelas 6 dipasang terpal agar meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Namun demikian, masih ada kekhawatiran tersendiri yang dirasakan oleh para guru.
“PTM tetap dilakukan di ruangan kelas, meskipun memang ada kecemasan tersendiri terhadap kondisi atap,” papar Sumaryanti, Rabu (12/01/2022).
Selain di ruangan kelas 6 yang atapnya yang rusak dan nyaris ambrol, plafon di ruangan TIK belum lama ini juga ambrol cukup besar dan membahayakan jika dilakukan kegiatan dalam ruangan tersebut. Menurutnya, selama ini untuk DAK Fisik dari Dinas Pendidikan untuk rehabilitasi belum pernah didapat.

“Setiap musim penghujan menjadi langganan kebocoran, yang belum lama terjadi ya di ruangan ini (TIK) plafonnya ambrol pas hujan malam-malam, wong pagi berangkat sekolah kondisinya sudah ambrol,” ucap dia.
Terdapat banyak kerusakan di bagian atap bangunan sekolah tersebut. Menurutnya karena kualitas genteng yang tidak bagus. Selain itu, berdasarkan pantauan di lapangan banyak tumbuhan liar yang ternyata tumbuh di atas atap.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri Beji, Jumariyah membantah ada plafon yang ambrol. Karena yang ada hanyalah plafon rusak akibat terlalu sering terkena air hujan yang masuk ke ruangan sehingga terjadi kebocoran dan air masuk ke dalam ruangan kelas 6.
“Tidak ambrol kalau yang di kelas 6 itu, hanya bocor. Jadi sesuai dengan hasil rapat dengan komite dilakukan pemasangan terpal,” papar Jumariyah.
Ia sendiri baru bertugas sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri Beji sekitar 1,5 bulan terhitung sejak bulan November 2021 lalu. Di awal ia masuk ke sekolah ini para guru mengeluh karena air masuk ketika hujan sehingga ketika pembelajaran harus membersihkan lantai terlebih dahulu.
“Untuk meminimalisir kebocoran makanya dipasang terpal sementara waktu. Di ruang kelas 6 tidak ada yang ambrol, hanya bocor dan setelah dipasang terpal sementara waktu. Saya juga sudah mengusulkan anggaran ke Dinas Pendidikan untuk sekolah ini,” imbuh dia.
Terkait banyaknya tumbuhan di atas genteng, ia mengakui ada penanggung jawab perawatan gedung dan baru diprogramkan untuk pembersihan serta lainnya. Selain dengan komite sekolah, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah kalurahan setempat.
Siang tadi, pihak Dinas pendidikan juga melakukan kroscek atas kerusakan di ruang kelas dan satu ruangan lain.
Lurah Beji Arif Wahyu mengungkapkan pihaknya sudah mengecek kondisi di sekolah tersebut. Berkaitan dengan perawatan rutin, selama ini memang dirasa sangat kurang sehingga terdapat sejumlah atap pada ruangan tertentu yang mengalami kerusakan. Bahkan di atas atap pun banyak tumbuhan yang tumbuh.
“Pembersihan secara rutin untuk meminimalisir kerusakan sebenarnya bisa dilakukan, namun kelihatannya memang agak kurang. Sehingga mudah rusak,” ucapnya.
SD Beji memang satu-satunya bangunan SD di kalurahan tersebut. SD Negeri Beji mengampu 86 siswa dari 6 padukuhan. Pihaknya kemarin sudah berkoordinasi dan akan berkontribusi dalam perbaikan agar tidak membahayakan murid saat mengikuti KBM.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized4 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluVaksin PMK Gunungkidul Tersisa 22.975 Dosis, Dikejar hingga Ternak Sasaran Terpenuhi
-
Uncategorized3 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluABK Asal Riau Meninggal Saat Melaut di Perairan Kawasan Sadeng
