Info Ringan
Pameran Seni Sekutu Para Hantu, Hidupkan Warisan Leluhur dalam Tafsir Kontemporer
jogja,(pidjar.com)–Warisan cerita magis dari masa lalu kembali dihidupkan melalui pendekatan seni rupa kontemporer dalam pameran bertajuk Sekutu Para Hantu. Pameran ini menghadirkan sejumlah perupa yang mengolah inspirasi dari tradisi, mitologi, hingga pengalaman personal untuk menggambarkan realitas masa kini yang kerap terasa tak terjelaskan. Sekutu Para Hantu berlangsung pada 6 Maret-24 April 2026 di Ace House, Langgeng Art Yogyakarta.
Gagasan pameran ini berangkat dari konsep realisme magis yang populer dalam sastra Amerika Latin pada 1960-an, sebagaimana diperkenalkan oleh penulis seperti Gabriel García Márquez dan Isabel Allende. Dalam karya Márquez, fenomena ajaib seperti manusia yang tiba-tiba menghilang atau peristiwa tak masuk akal lainnya justru diperlakukan secara biasa, seolah menjadi bagian dari realitas sehari-hari.
Semangat serupa kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual oleh para perupa dalam pameran ini. Goresan dan sapuan kuas menjadi cara mereka menuturkan kisah-kisah magis warisan leluhur, namun dengan perspektif modern yang lahir dari pengalaman hidup generasi sekarang.
Setiap perupa dalam pameran memiliki pendekatan artistik yang berbeda. Seniman seperti Nasirun, misalnya, dikenal dengan gaya ekspresionistis yang banyak terinspirasi dari dunia wayang dan tradisi Jawa. Sementara itu, Nalta menghadirkan pendekatan pop art meskipun sama-sama memanfaatkan referensi dari budaya wayang. Perbedaan gaya tersebut menunjukkan bagaimana latar zaman dan pengalaman hidup memengaruhi cara seniman menafsirkan tradisi.
Perbedaan pendekatan juga terlihat pada dua perupa asal Bali, yakni Nyoman Darmawan dan Kuncir Satya Viku. Nyoman Darmawan yang tumbuh dalam keluarga seniman bergaya Pengosekan di Ubud mengembangkan teknik lukisan tradisional dengan kuas bambu, namun ia menggeser gaya dekoratif khas Pengosekan menjadi lanskap biografis yang lebih personal dan bernuansa surealistis.
Sebaliknya, Kuncir Satya Viku yang lahir di era perkembangan teknologi informasi menggabungkan gaya lukisan tradisional Bali dan Jepang untuk membangun lanskap visual yang terfragmentasi. Ketidakutuhan tersebut mencerminkan arus informasi di era modern yang serba cepat dan penuh potongan-potongan realitas.
Di sisi lain, seniman Noviadi Angkasapura menampilkan figur-figur janggal yang lahir dari dorongan neurotik dan pengalaman personalnya. Ia bahkan mengaku menggambar sebagai bentuk menjalankan “tugas” dari sosok yang ia sebut sebagai “tamu istimewa”. Garis-garis organik dalam karyanya membentuk rangkaian simbol menyerupai tulisan yang dapat dikenali bentuknya, namun makna dan bunyinya tetap misterius.
Salah satu perupa senior dalam pameran, Nasirun, menegaskan pentingnya menjadikan warisan budaya sebagai sumber inspirasi yang terus diperbarui oleh generasi sekarang. Menurutnya, karya seni tidak seharusnya berhenti pada ekspresi pribadi, tetapi harus memberi manfaat bagi publik.
Ia mencontohkan kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata yang di Nusantara berkembang melalui berbagai tafsir dalam tradisi wayang selama ratusan tahun. Hal itu menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki tugas untuk menghadirkan inovasi baru agar kebudayaan tetap hidup dan relevan.
Nasirun juga menekankan pentingnya interaksi antara seniman dan publik melalui pameran. Menurutnya, ruang pamer bukan sekadar tempat memajang karya, tetapi juga wadah dialog yang membuka kemungkinan inspirasi baru.
“Kalau berkesenian hanya berhenti untuk dirinya sendiri, itu bukan seni untuk publik. Pameran adalah ruang interaksi yang memberi masukan sekaligus inspirasi,” ujar Nasirun di Ace House, Langgeng Art (6/3/26).
Melalui pameran Sekutu Para Hantu, para seniman seolah mengajak publik melihat kembali hubungan antara realitas dan dunia magis yang diwariskan masa lalu.
“Di tengah berbagai peristiwa dunia yang kadang sulit dipahami dengan nalar semata, barangkali seperti yang disiratkan dalam pameran ini sudah saatnya manusia kembali menoleh kepada kisah-kisah lama, bahkan kepada “para hantu”, untuk memahami realitas dengan cara yang berbeda,”paparnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
