Fashion
CGV Arthouse Hadir di Yogyakarta, Buka Ruang bagi Film Independen dan Komunitas Lokal
Jogja,(pidjar.com)– CGV Cinemas Indonesia memperluas jangkauan program CGV Arthouse ke Yogyakarta dan Bandung mulai 10 Oktober 2026. Melalui program ini, CGV menghadirkan ruang pemutaran bagi film festival, film independen, film klasik, hingga karya sineas muda dari komunitas, sekolah, dan perguruan tinggi. Di Yogyakarta, CGV Arthouse hadir di CGV JWalk Mall. Kehadiran program ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap film-film alternatif yang selama ini lebih banyak dijumpai melalui festival film atau pemutaran komunitas.
Head of Movie Programming CGV Cinemas, Lulu Fahrullah, menjelaskan bahwa CGV Arthouse dikembangkan untuk menjawab kebutuhan penonton terhadap pilihan film yang beragam, di luar film-film komersial yang mendominasi layar bioskop.
Menurut Lulu, konsep Arthouse terinspirasi dari perkembangan industri perfilman Korea Selatan. Ketika film-film arus utama memiliki pasar yang besar, muncul pula kebutuhan penonton terhadap karya alternatif yang menawarkan pengalaman menonton berbeda, termasuk film yang mendorong refleksi dan diskusi.
“Penonton membutuhkan film-film alternatif yang setelah ditonton bisa memberikan sesuatu untuk dipikirkan dan didiskusikan. Karena itu, CGV Korea membuat program yang mendedikasikan satu auditorium untuk film-film alternatif,” ujar Lulu di CGV Jwalk Mall Babarsari, Sleman (23/10/26).
Ia mengatakan, CGV melihat peluang untuk mengembangkan konsep serupa di Indonesia, terutama setelah munculnya minat generasi muda terhadap film festival dan film independen.
Menurutnya, perkembangan berbagai festival film di Indonesia turut memperkenalkan penonton kepada karya-karya internasional dan independen yang memiliki pendekatan berbeda dari film komersial pada umumnya.
“Pasca pandemi, generasi muda, khususnya Gen Z, menunjukkan ketertarikan terhadap film-film alternatif. Kami melihat ada kebutuhan agar penonton tidak hanya menonton film yang itu-itu saja, tetapi juga mendapatkan pilihan karya yang lebih beragam,” katanya.
Membuka Akses bagi Sineas Muda
Selain menghadirkan film festival dan film internasional, CGV Arthouse juga berupaya memberikan ruang bagi sineas lokal untuk menampilkan karya mereka di layar bioskop.
Lulu mengatakan, pihaknya melihat potensi besar dari film-film komunitas, termasuk karya pelajar dan mahasiswa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pemutaran.
Melalui CGV Arthouse, karya-karya tersebut berpeluang dikurasi dan ditayangkan dalam program khusus, termasuk melalui format omnibus yang menggabungkan beberapa film pendek dalam satu rangkaian pemutaran.
“Kami melihat potensi film-film komunitas cukup besar. Banyak sekolah film yang memiliki karya pendek, tetapi membutuhkan ruang untuk menayangkannya. Kami ingin memberikan wadah, mengkurasi film-film tersebut, menayangkannya, dan membuka ruang diskusi setelah pemutaran,” jelas Lulu.
Menurutnya, CGV Arthouse tidak dirancang sekadar sebagai program pemutaran film, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara pembuat film, penonton, dan komunitas. Karena itu, program ini diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pemutaran film dan diskusi hingga kemungkinan penyelenggaraan kompetisi film pada masa mendatang.
Lulu menambahkan, CGV ingin membangun hubungan jangka panjang dengan komunitas perfilman di berbagai daerah. Dengan demikian, karya sineas lokal tidak hanya berhenti pada proses produksi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan penonton yang lebih luas.
Ruang Bioskop untuk Komunitas Film Perlu Diapresiasi
Festival Manager Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2026, Intan Nadya Maulida, menyambut positif kehadiran CGV Arthouse di Yogyakarta. Menurutnya, kota ini memiliki ekosistem komunitas film yang kuat dan berperan penting dalam perkembangan perfilman Indonesia.
Intan menjelaskan bahwa perjalanan JAFF yang dimulai pada 2006 tidak terlepas dari dukungan dan semangat komunitas film di Yogyakarta. Komunitas, menurutnya, merupakan salah satu pilar penting yang membantu menggerakkan industri film nasional.
“Jogja bisa dibilang menjadi salah satu pusat komunitas film. Bahkan, JAFF sendiri didirikan dengan dukungan semangat teman-teman komunitas di Jogja. Komunitas merupakan salah satu pilar penting dalam industri perfilman Indonesia,” ujar Intan.
Ia menilai kehadiran CGV Arthouse menjadi perkembangan positif karena membuka kemungkinan bagi film-film komunitas untuk ditayangkan di layar bioskop dengan fasilitas yang memadai.
Selama ini, film independen dan karya komunitas kerap memiliki jalur distribusi yang terbatas. Sebagian besar mengandalkan pemutaran internal, ruang alternatif, atau festival film yang berlangsung pada waktu-waktu tertentu.
Menurut Intan, CGV Arthouse menawarkan kesempatan agar karya-karya tersebut dapat menjangkau penonton melalui ruang pemutaran bioskop secara lebih berkelanjutan.
“Dulu, komunitas atau pelajar film terasa memiliki dunia yang berbeda dengan bioskop komersial. Film-film alternatif seolah memiliki jalurnya sendiri dan sulit ditayangkan di bioskop. Sekarang, film-film komunitas yang sebelumnya hanya bisa ditonton melalui pemutaran terbatas bisa mendapat kesempatan hadir di layar lebar,” ungkapnya.
Ia menilai langkah tersebut patut diapresiasi karena tidak hanya memberikan manfaat bagi para pembuat film, tetapi juga berpotensi memperkaya perkembangan industri film Indonesia melalui keragaman bentuk dan pendekatan karya.
Intan berharap kehadiran CGV Arthouse dapat menjadi pemantik bagi perkembangan komunitas film sekaligus memperluas kesempatan bagi sineas muda untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik.
“Ini perlu kita apresiasi. Terima kasih kepada CGV yang sudah memberikan ruang bagi komunitas. Selain bermanfaat bagi komunitas itu sendiri, ruang seperti ini juga dapat membantu perkembangan industri film Indonesia agar semakin berwarna,” katanya.
Kurasi Film: Dari Karya Klasik hingga Film Komunitas
Dalam pelaksanaannya, CGV Arthouse menerapkan proses kurasi untuk menentukan film-film yang sesuai dengan program dan tema yang diangkat.
Lulu menjelaskan, pemilihan film diawali dengan menentukan tema besar yang ingin diperkenalkan kepada penonton. Pada program Oktober 2026, misalnya, tim memilih tema horor untuk menghadirkan karya yang sesuai dengan suasana bulan tersebut.
Namun, kurasi tidak hanya berfokus pada film horor komersial. Tim juga mempertimbangkan nilai artistik, pendekatan penceritaan, serta potensi karya untuk memberikan pengalaman menonton yang berbeda.
Salah satu film yang dipilih adalah Keramat, film horor Indonesia yang dikenal menggunakan teknik found footage. Teknik ini menyajikan cerita melalui rekaman yang seolah-olah ditemukan atau berasal dari dokumentasi kejadian nyata. Lulu menilai Keramat sebagai salah satu film penting karena mampu menghasilkan dampak besar dengan pendekatan produksi berbiaya rendah.
Selain itu, program tersebut menghadirkan The Innocents, film Eropa yang dipilih melalui kerja sama dengan KlikFilm.
CGV Arthouse juga memberikan ruang bagi karya sineas muda melalui film-film pendek produksi Azam, seorang pembuat film dari komunitas lokal. Sejumlah film pendek pilihannya dirangkai dalam sebuah omnibus bertajuk Mimpi Buruk Resolusi Rendah.
Menurut Lulu, karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana keterbatasan anggaran tidak selalu menjadi penghalang bagi kreativitas dalam membuat film.
“Kami melihat potensi dari film-film yang dibuat oleh sineas muda di komunitas. Azam cukup produktif menghasilkan film pendek dengan konsep yang unik. Kami kemudian memilih beberapa filmnya dan merangkainya menjadi omnibus Mimpi Buruk Resolusi Rendah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemilihan film komunitas merupakan bagian dari upaya CGV Arthouse untuk menghadirkan program yang tidak hanya bergantung pada film-film arus utama, tetapi juga memberi kesempatan bagi pembuat film lokal untuk menunjukkan karya mereka.
Memperkuat Ekosistem Perfilman Yogyakarta
Kehadiran CGV Arthouse di Yogyakarta menjadi peluang untuk mempertemukan ekosistem komunitas film yang telah berkembang dengan jaringan pemutaran bioskop. Kolaborasi antara bioskop, festival film, dan komunitas diharapkan dapat membuka jalur yang lebih luas bagi karya independen, mulai dari proses kurasi hingga pertemuan dengan penonton.
Bagi sineas muda, akses pemutaran merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah karya. Film tidak hanya membutuhkan proses produksi, tetapi juga ruang untuk dipertontonkan, didiskusikan, dan mendapatkan respons dari masyarakat.
Sementara itu, bagi penonton, kehadiran film-film alternatif memberikan kesempatan untuk mengenal beragam pendekatan penceritaan, perspektif budaya, dan eksplorasi artistik yang tidak selalu ditemukan dalam film arus utama. Melalui CGV Arthouse, CGV Cinemas Indonesia berharap dapat menghadirkan ekosistem pemutaran yang lebih terbuka bagi berbagai kalangan pembuat film.
Dengan dukungan komunitas dan pelaku industri, program ini berpotensi menjadi ruang alternatif yang mempertemukan karya lokal dan internasional sekaligus memperkuat hubungan antara sineas dan penontonnya.
Kehadiran program tersebut juga menegaskan bahwa perkembangan industri perfilman tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi atau keberhasilan film di pasar komersial, tetapi juga oleh tersedianya ruang bagi karya-karya yang menawarkan perspektif berbeda.
Di Yogyakarta, yang memiliki tradisi komunitas film dan festival yang kuat, CGV Arthouse diharapkan menjadi salah satu ruang yang membantu menjaga keberagaman tersebut sekaligus membuka kesempatan baru bagi generasi sineas berikutnya.
-
Uncategorized5 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized1 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya4 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized4 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial6 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized5 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized5 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
