Sosial
Ribuan Bayi di Gunungkidul Masih Alami Kekurangan Gizi
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Guna membentuk generasi yang berkualitas, selain fokus dalam penuntasan kemiskinan dan stunting, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga tengah fokus melakukan penanganan pada kasus banyaknya balita yang mengalami gizi buruk maupun gizi kurang. Pasalnya angka penyandang gizi buruk dan gizi kurang untuk di wilayah Gunungkidul masih cukup tinggi. Berbagai faktor tengah dianalisa oleh pemerintah daerah. Berdasarkan hasil analisis sementara, faktor utama banyaknya balita penyandang gizi buruk adalah lantaran kesibukan dari orang tua sehingga asupan gizi pada anak tidak sesuai.
Sekretaris Dinas Kesehatan Gunungkidul, Priyanta Madya memaparkan, kondisi balita penyandang gizi buruk dan gizi kurang memang menjadi sebuah PR bagi pemerintah daerah dalam penuntasannya. Ia mengakui bahwa setiap tahunnya, memang selalu ada temuan mengenai penyandang gizi buruk dan gizi kurang. Pemerintah pun harus bekerja ekstra dalam penanganannya.
Adapun bedasarkan analisis yang dilakukan oleh petugas, gizi buruk dan gizi kurang yang dialami oleh ratusan bahkan ribuan balita lantaran kurangnya perhatian dari ibu si anak. Sekarang ini, tidaklah sedikit anak-anak yang ditinggal ibunya untuk bekerja, sehingga anak hanya dititipkan oleh orang yang sekiranya dipercaya. Hal ini tidak menutup kemungkinan, pada pemenuhan gizi anak tidaklah sesuai dengan standar gizi yang diperlukan anak.
“Faktor utama memang karena kurangnya perhatian dari orang tua terkait asupan gizi. Faktor lain yakni bobot kelahiran anak (bawaan) atau adanya penyakit penyerta yang diidap oleh anak,” kata Priyanta Mada Satmaka, Rabu (26/12/2018).
Perlu ada kesadaran tersendiri dari ibu-ibu muda ataupun kader dalam hal ini. Sehingga asupan gizi dari anak dapat terpenuhi. Jangan sampai anak yang dikorbankan terlebih pada kesehatannya, lantaran ditinggal kerja oleh orang tua dan tidak mendapatkan perhatian atau gizi seimbang dan sesuai standar pada usia anak.
Disinggung mengenai faktor ekonomi sosial masyarakat Gunungkidul, ia mengatakan jika hal itu tidaklah berpengaruh banyak pada penderita gizi buruk dan gizi kurang pada anak. Meski tingkat pendapatan seseoramg tidaklah menentu, namun untuk pemenuhan pada anak dikatakan cukup baik, sehingga dari faktor ekonomi sosial pun masih begitu rendah.
Data yang ada pula, ditahun 2018 ini tercatat 160 balita Gunnungkidul dinyatakan gizi buruk. Sementara untuk gizi kurang mencapai 2.122 balita, tentu jumlah tersebut masih tergolong tinggi. Akan tetapi jumlah itu tergolong lebih baik dibandingkan tahun 2017 lalu, dimana gizi buruk pada anak mencapai 205 dan gizi kurang mencapai 2130 balita.
Sementara untuk data balita penyandang gizi baik mencapai 29.906 anak dan gizi lebih mencapai 761.
“Kalau untuk sampai diangka 0 saya kira susah. Karena setiap tahun pasti ada temuan, entah itu dari data lama ataupun temuan baru,” imbuhnya.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah daerah, salah satunya yakni pengoptimalan Posyandu dan Puskesmas. Sehingga nantinya perkembangan berat badan hingga status gizi atau pertumbuhan dapat terpantau dengan baik. Kemudian dari pemerintah daerah pun juga memberikan bantuan berupa pemberian makanan tambahan instan sebagai lagkah nyata.
“Selama 90 hari kami berikan makanan tambahan dan tentunya kami pantau perkembangan balita,” papar dia.
Pelatihan pada orang tua (ibu) maupun kader pun juga terus dilakukan agar dapat lebih paham dalam melakukan penanganan dipada penderita gizi buruk dan gizi kurang. Langkah seperti ini dianggap lebih efektif dalam memberikan edukasi pada semua lini terkait pemenuhan gizi pada anak.
Salah seorang kader perempuan dan anak, Ismi mengatakan, di wilayahnya upaya pendekatan pada ibu agar memberikan perhatian dan asupan gizi yang memadahi terus dilakukan. Menggandeng petugas Puskesmas, pertemuan secara rutin terus dilakukan. Berbagai keluhan ibu-ibu mengenai pola makan dan aktifitas lainnya terus dilakukan.
“Ya sudah berjalan dengan baik. Jadi pemahaman ibu-ibu sekarang berubah. Pada intinya yang terbaik untuk anak terus dilakukan terlebih mengenai pola asuh dan pemberian makanan, ada to anak yang gak suka sayur atau apa kemudian kami upayakan pemecahannya bagaimana agar pemenuhan gizi tetap seimbang,” kata dia.
Bukan tidak mungkin selain berdampak pada pertumbuhan, perkembangan tentu ada aspek lain yang terganggu pada anak jika gizi yang diperoleh tidaklah sesuai. Pola hidup sehat juga terus diupayakan agar menjadi jaminan kesehatan.
-
Uncategorized4 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized2 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized4 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu149 Karya Inovatif ASN hingga Pelajar Gunungkidul Ramaikan Krenovamaskat Pelita Indah 2026
-
Sosial2 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Uncategorized4 minggu yang lalu“Diri dan Liyan”, Ruang Perjumpaan Diri, Leluhur, dan Ingatan dalam Karya Dhewantara Manurung
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pemerintahan2 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
