film
Diadaptasi dari Novel Pidi Baiq, Film Dan Bandung Bawa Kisah Cinta dan Persahabatan Anak Kuliah ke Bioskop
Jogja,(pidjar.com)–Verona Films menggelar special screening film Dan Bandung di Ambarukmo XXI Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). Film yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq ini menghadirkan kisah persahabatan, keluarga, dan cinta anak kuliah dengan pendekatan yang lebih sederhana dan alur yang dibuat lebih linier agar mudah diikuti penonton.
Film ini berpusat pada tokoh Elma, mahasiswi pendiam dan introvert yang menjalani kehidupan kampus dengan penuh kehati-hatian. Di tengah rutinitas kuliah, ia memiliki sahabat dekat bernama Susi yang menjadi tempat berbagi cerita dan dukungan emosional. Kehadiran Basil (Samo Rafael) seorang mahasiswa yang perlahan masuk ke dalam kehidupan Elma, membuat dunia Elma yang tertutup mulai berubah.
Kedekatan Elma dan Bandung tumbuh melalui momen-momen sederhana: percakapan ringan, kebersamaan di sekitar kota, dan perhatian kecil yang perlahan berubah menjadi rasa cinta. Namun hubungan itu tidak berjalan mulus. Elma harus berhadapan dengan persoalan keluarga, keraguan terhadap dirinya sendiri, serta ketakutan untuk membuka hati. Film ini tidak menawarkan romansa yang berlebihan, melainkan kisah cinta yang tumbuh perlahan dan terasa dekat dengan pengalaman banyak anak muda.
Tokoh Elma diperankan oleh Shanna Shannon, sementara Keisya Levronka memerankan Susi. Menurut Shanna, proses membangun karakter Elma terasa lebih mudah karena memiliki banyak kemiripan dengan kepribadiannya.

“Untungnya sifat Elma itu sama persis kayak aku. Dia pendiam, terus introvert. Jadi aku nggak harus ngubah apa-apa,” kata Shanna.
Meski demikian, ia mengaku tetap menghadapi tantangan, terutama pada adegan-adegan emosional yang berkaitan dengan hubungan Elma dan keluarganya. Bagian tersebut menuntutnya menggali emosi lebih dalam dibandingkan adegan lainnya.
Sebelum syuting dimulai, para pemain menjalani simulasi selama sekitar satu bulan. Keisya menilai persiapan tersebut sangat membantu sehingga proses pengambilan gambar berjalan lebih lancar. Namun, tantangan lain muncul dari metode penyutradaraan Rudi Soedjarwo yang tidak terlalu terpaku pada naskah.
“Om Rudi tuh tidak terlalu menggunakan script. Script itu hanya untuk guide saja. Jadi kita nge-build dialognya sendiri dan brainstorming bareng-bareng,” ujar Keisya.
Pendekatan tersebut membuat para pemain tidak sekadar menghafal dialog, tetapi ikut membangun percakapan dan situasi karakter secara bersama-sama sehingga hubungan antartokoh terasa lebih alami. Kedekatan Susi dan Elma pun menjadi salah satu jantung cerita yang ingin ditonjolkan film ini.
Keisya bahkan mengaku akan bersikap hampir sama seperti Susi jika memiliki teman dengan kondisi seperti Elma di kehidupan nyata.
“Kalau di real life, aku akan melakukan apa yang Susi lakukan. Tapi tanpa perlu dia telepon, bentar-bentar sudah aku jemput. Sudah aku culik duluan kayaknya,” ujarnya sambil tertawa.
Produser Titin Suryani mengatakan bahwa film ini mengambil nilai-nilai utama dari novel Pidi Baiq dan mengembangkannya ke dalam medium film. Selain kisah romantis antara Elma dan Bandung, film ini juga menyoroti persahabatan serta hubungan orang tua dan anak.
“Nilai persahabatannya ada. Kemudian juga hubungan orang tua dan anak tercermin di film ini. Dan sudah lama juga film tidak ada yang tentang kuliah. Nah, ini tentang kondisi kuliah, pemain-pemainnya semua kuliah,” kata Titin.
Dalam proses adaptasi, tidak semua bagian novel dipindahkan secara utuh ke layar lebar. Rudi Soedjarwo memilih bagian-bagian yang dianggap paling penting dan melakukan penyesuaian agar lebih sesuai dengan kebutuhan film. Salah satu perubahan utama adalah struktur cerita. Jika novel menggunakan alur maju-mundur, versi film dibuat lebih linier agar lebih nyaman dinikmati penonton.
“Supaya lebih enak ditonton, tentunya Pak Rudi Soedjarwo yang berpengalaman itu membuatnya lebih linier. Dan itu memang kami terus-menerus berdiskusi tentang itu,” ujar Titin.
Saat ditanya mengenai kemungkinan hadirnya sekuel, Titin belum memberikan jawaban pasti. Ia memilih menunggu respons penonton terhadap film tersebut.
“Ada sekuelnya tidak? Oh, itu spoiler kali ya. Tonton aja nanti kita lihat. Mudah-mudahan dengan dukungan teman-teman film ini meledak, jadi kita ada sekuel,” pungkasnya.
Dengan perpaduan romansa yang tumbuh perlahan, persahabatan yang hangat, dan dinamika keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Dan Bandung mencoba menghadirkan potret cinta anak kuliah yang sederhana namun emosional, bukan tentang cinta yang sempurna, melainkan tentang keberanian untuk membuka hati dan bertumbuh bersama.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized1 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized3 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized2 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
