Uncategorized
Cegah Stunting dari Sekolah, Gunungkidul Dorong Penguatan Gerakan Sekolah Sehat
Wonosari,(pidjar.com)– Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Gunungkidul terus diperkuat melalui pendekatan promotif dan preventif. Salah satunya dengan mendorong satuan pendidikan menjadi lingkungan strategis dalam membentuk perilaku hidup sehat sejak usia dini.
Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Purwo Yunianto mengatakan, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2025, prevalensi stunting di Gunungkidul masih mencapai 15,34 persen. Angka tersebut masih berada di atas target nasional dalam RPJMN yang ditetapkan sebesar 14 persen pada 2029.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan dan penanganan stunting masih membutuhkan penguatan secara berkelanjutan. Intervensi tidak hanya dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga perubahan perilaku dan penciptaan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
“Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, masa kehamilan, hingga anak tumbuh dan berkembang,” kata Purwo.
Karena itu, kelompok usia sekolah dan remaja juga menjadi bagian penting dalam upaya memutus siklus masalah gizi antar generasi. Edukasi mengenai gizi seimbang, aktivitas fisik dan perilaku hidup sehat dinilai penting untuk membentuk generasi muda yang sehat sekaligus mempersiapkan mereka menjadi calon orang tua.
Dalam konteks tersebut, sekolah dinilai memiliki posisi strategis. Anak dan remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan sehingga sekolah memiliki peluang besar untuk membangun kebiasaan sehat melalui pembelajaran, pembiasaan maupun keteladanan.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup menjadi tantangan tersendiri. Tingginya penggunaan gawai berpotensi mengurangi aktivitas fisik, memengaruhi konsentrasi hingga berdampak terhadap pola makan anak dan remaja.
“Pendidik perlu memahami perubahan perilaku anak dan remaja, termasuk faktor yang memengaruhi pola makan dan aktivitas fisik. Keterlibatan keluarga dan sekolah juga perlu diperkuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, Dinkes Gunungkidul turut mendorong pemanfaatan Asesmen Sekolah Sehat. Instrumen tersebut dapat digunakan untuk memetakan kondisi dan kebutuhan kesehatan di masing-masing satuan pendidikan sehingga intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran.
Melalui penguatan sekolah sehat, pemerintah berharap pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari yang diterapkan oleh peserta didik, guru maupun lingkungan keluarga.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam menekan angka stunting. Sebab, pencegahan masalah gizi tidak hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami stunting, melainkan dibangun sejak dini melalui pemenuhan gizi, aktivitas fisik, pola hidup sehat serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
“Perlu adanya sinergi antara pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat, dalam mewujudkan gerakan sekolah sehat. Sehingga diharapkan mampu menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan generasi Gunungkidul yang sehat dan berkualitas,” pungkasnya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
