Sosial
Tangani 5 Coblosan Dalam Pemilu 2019 Ini, Anggota KPPS dan Pengamanan Harus Bekerja Hingga Subuh
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Pesta demokrasi pemilihan umum 2019 ini menjadi pekerjaan yang melelahkan bagi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan jajaran aparat pengamanan, baik Polri, TNI maupun linmas. Pasalnya, mereka harus bekerja ekstra hingga dini hari dan bahkan subuh untuk penyelenggaran puncak dari pesta lima tahunan itu. Tak heran raut muka kelelahan begitu terpancar dalam setiap anggota yang bertugas.
Perhelatan pesta demokrasi nampak mulai sibuk sejak beberapa hari sebelum pemungutan suara dilaksanakan. Persiapan lokasi hingga penjagaan kotak suara di TPS terus dilakukan oleh anggota KPPS dan petugas kepolisian.
Seperti diungkapkan oleh Ketua KPPS, TPS Singkil, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Parmana. Menurutnya, dalam penyelenggaraan pemilu kali ini cukup menguras tenaga, energi, dan pikiran. Bagaimana tidak, untuk persiapan telah dilakukan selama 3 hari sebelum pencoblosan dilangsungkan.
“Pada hari H pencoblosan kemarin, sejak pagi kita harus siap. Jam 6 pagi sudah ada yang mendaftar, mulai pencoblosan jam 7. Persiapan kita harus matang,” kata Parmana, Kamis (18/04/2019).
Saat proses pemungutan suara sendiri, di TPSnya banyak kendala dialami oleh para lansia. Selain banyak yang belum paham para calegnya, cara pelipatan surat suara pun menjadi kendala para lansia.

“Jadi mereka (lansia) cukup lama di bilik suara. Mereka tidak tahu calegnya kalau mereka tanya ke kita kan kita tidak boleh menjawab. Cara melipatnya pun mereka kesulitan,” ucap dia.
Menginjak waktu penghitungan suara pun menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana para petugas KPPS harus jeli melihat kertas yang tercoblos dan melakukan rekap penghitungan.
Mereka harus melawan kuatnya rasa kantuk dan lelahnya badan usai bekerja selama beberapa jam. Namun dengan alasan menunaikan kewajiban, segala kendala tersebut harus diatasi.
“Penghitungan kita sampai malam, kemudian kita kirim ke desa, semalam baru selesai jam 2 pagi,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh petugas KPPS di TPS 24, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Janu Tri Wahyudi. Menurutnya, keterlibatan dirinya dalam proses demokrasi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Tantangan terberat bagi dirinya bukanlah karena menyelesaikan tugas sampai subuh. Melainkan, menjaga netralitas untuk menentukan pemimpin bangsa ini.
“Tadi selesai pukul 04.00 WIB subuh. Tapi yang berat itu pengalaman yang paling mengesankan adalah saat kita harus benar-benar netral, teliti dan sabar dalam bertugas. Melihat antusias masyarakat datang ke TPS membuat kami makin semangat. Demi demokrasi di wilayah sendiri dan negara kita,” kata dia.
Ia menambahkan, jika lima tahun kedepan akan digelar pemilu serentak ada lebih baiknya petugas KPPS untuk ditambah jumlahnya. Sebab dengan personel yang ada dan jumlah surat suara yang banyak cukup menjadi kendala yang dialami oleh pihaknya.
Sementara itu, salah seorang personel dari Polres Gunungkidul, Aipda Aris mengatakan dirinya mulai menjalankan tugas negara sejak pukul 06.00 WIB. Bukanlah hal yang mudah bagi Aris untuk tetap siaga ditengah rasa lelah yang ada.
“Tidak tidur, menunggui sampai selesai. Muter ke 21 TPS, sudah kewajiban kami mengamankan jalannya pesta demokrasi agar tidak ternodai. Untuk negara, apapun tentu dilakukan karena ketugasan,” kata dia.
Aris sebagai anggota Polri pun turut merasakan perbedaan seperti yang diakui oleh dua anggota KPPS tadi. Sebab pada tahun 2019 ini cukup berbeda dibandingkan 5 tahun lalu. Lima pemilihan berlangsung bersamaan dianggap cukup menguras tenaga.
“Ada sedikit perbedaan memang. Harus lebih ekstra terlebih fisik dan stamina. Ada pengamanan khusus memang, semua anggota siaga di seluruh wilayah lebih ketat lagi,” ucap dia.
Hal terberat lainnya secara personal bagi Aris adalah berpisah dengan keluarga selama 2 hari. Untuk berkomunikasi, dirinya memanfaatkan handphone untuk melepas rasa kangen dengan keluarga.
“Ini menjadi pengalaman yang berbeda dan luar biasa. Bersyukur semua berjalan dengan aman, kendala yang ada bisa terselesaikan,” pungkas pria yang kesehariannya bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Desa Baleharjo itu.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized1 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized3 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluKemarau Panjang, 53 Kejadian di Gunungkidul Hanguskan 51 Hektare
