Peristiwa
Gunungkidul Berduka, Banteng Militan Ini Berpulang
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Nama TAS Soemitro cukup terkenal dan disegani kawan maupun lawan. Namanya sering didengar oleh masyarakat Gunungkidul terutama kalangan kaum marhaen. Pasalnya pria kelahiran 17 Mei 1930 ini merupakan salah satu tokoh yang memiliki kiprah dan dedikasi tinggi pada Gunungkidul selama ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul di periode Orde Lama dan DPRD DIY sebelum era reformasi bergulir. Sayang, bapak sembilan anak yang dikenal tegas dan berjiwa tangguh ini Senin (01/06/2019) menghembuskan nafas terakhirnya diusia 89 tahun.
Mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Gunungkidul tahun 1989-1994, Ibnu Santoso mengatakan dirinya sangat merasa kehilangan atas meninggalnya maha guru politik yang sangat berpengalaman di Gunungkidul ini. Ia sendiri mengaku sangat segan dengan TAS Soemitro pasalnya dedikasi dan perjuangannya untuk memajukan masyarakat kecil di Gunungkidul semasa ia berkiprah menjadi wakil rakyat sangatlah luar biasa.
“Ada beragam program yang dicetuskan bersama dengan anggota dewan lainnya semasa beliau (TAS Soemitro) menjabat sebagai anggota dewan. Dialah sosok senior dan panutan kami dalam berpolitik,” tutur Ibnu Santoso, Senin (01/07/2019).
Dedikasi dan perjuangan TAS Soemitro di masa Orde Lama, Orde Baru hingga tahun 1997 dianggap tidak pernah memikirkan tenaga, waktu, finansial dan beberapa hal lainnya. Selalu bekerja untuk membangkitkan semangat dan pola pikir untuk memperjuangkan taraf hidup masyarakat Gunungkidul agar kian sejahtera. TAS Soemitro terkenal vocal menyuarakan kepentingan rakyat kecil yang terpinggirkan. Akibat sepak terjang dan vokalnya yang lantang, beberapa kali, TAS Soemitro harus berurusan dengan aparat.
Bukan lantaran tindak kriminalitas atau hal-hal lainnya, namun karena keberaniannya untuk menentang jalannya pemerintahan yang terjadi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat. Sepengetahuan Benu, yang tak lain merupakan tokoh senior politik di Gunungkidul, TAS Soemitro merupakan sosok yang teramat mengidolakan Bung Karno (Presiden RI pertama). Segala sesuatu dan dilakukan, dilandasi dengan sejumlah norma yang berlaku dan kondisi di kalangan masyarakat.

“Beliau itu senior atau maha guru politik di Gunungkidul. Tidak sedikit politikus Gunungkidul yang segan dengan beliau, meniru pola pikir dan jejak langkah yang dilakukan Pak TAS Soemitro. Itu tak hanya berlaku di PDI tetapi juga diteladani partai lain seperti Golkar dan PPP,” tambah Benu.
Sekilas mengenai TAS Soemitro, ia pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Gunungkidul di masa Orde Lama. Kemudian menjadi anggota DPRD Gunungkidul 3 kali dengan periode yang berbeda, kemudian anggota DPRD Provinsi 2 kali dengan masa jabatan yang berbeda pula. Hingga pada akhirnya tahun 1997 menyelesaikan tugasnya di kursi anggota DPRD DIY.
Semasa hidupnya digunakan untuk mendedikasikan pengabdian diri terhadap Gunungkidul, sejumlah gagasan terus dilakukan untuk memajukan Bumi Handayani. Beberapa kali TAS Soemitro mendapatkan penghargaan dari Pemkab Gunungkidul dan lainnya.
“Tokoh masyarakat disegani banyak orang memang. Sangat suka dengan seni dan budaya Jawa,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Soemitro sendiri juga merupakan salah satu deklarator partai PDI di Gunungkidul ditahun 1973. Ia melabuhkan kemampuannya di partai berlambang banteng ini, kemudian diikuti oleh sejumlah tokoh-tokoh politik ternama dan senior seperti Ibnu Santoso, R Harjono WD, Ramelan dan lain-lain.
Soemitro sendiri meninggal pada Senin (01/07/2019) tengah malam, tepatnya pukul 00.00 WIB di rumah sakit Panti Rahayu, Desa Kelor, Kecamatan Karangmojo. Ia telah melawan penyakit yang ia derita sejak beberapa tahun lalu. Lantaran penyakit tua inilah TAS Soemitro sering kali keluar masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara itu, salah seorang tokoh dan pengamat Gunungkidul, Danang Ardiyanta mengatakan eyang Soemitro merupakan politisi senior yang patut diteladani oleh kalangan politikus muda di bumi handayani saat ini. Pasalnya beliau telah melahirkan tokoh-tokoh politik yang kuat, teguh dan berkarakter.
“Perjuangan beliau dan prinsip yang dipegang luar biasa sekali. Dulu pernah bersama beliau menjadi Panitia Pemilihan Daerah, dari situ saya paham karakteristik beliau,” ujar Danang.
Rencananya, Miss Requem Pemberkatan Jenazah sendiri akan dilakukan Senin malam sekitar pukul 19.00 WIB di rumah duka yakni di Padukuhan Rejosari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Kemudian pemakaman akan dilakukan pada Selasa (02/07/2019) pukul 11.00 di Pemakaman Baleharjo, Kecamatan Wonosari.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
