Uncategorized
KDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
Wonosari, (pidjar.com)- Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Karangrejek, Kapanewon Wonosari mencatat hasil produksi lele hampir 4,9 ton dalam satu siklus budidaya. Capaian itu disebut menjadi yang tertinggi di Indonesia untuk program bantuan budidaya ikan serupa tahun 2025.
Produksi tersebut bahkan mengungguli daerah lain penerima bantuan, salah satunya Gresik yang mencatat produksi sekitar 3,3 ton. Sementara KDMP Karangrejek mampu menghasilkan 4.871,2 kilogram lele dari satu siklus budidaya.
Ketua KDMP Karangrejek, Sujarwanto, mengatakan koperasi sebelumnya menebar 60.000 benih lele bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Januari 2026.
Empat bulan berselang, koperasi melakukan panen perdana dengan hasil mencapai 4.871,2 kilogram. Hasil panen tersebut kemudian dijual dengan nilai sekitar Rp83 juta.
“Produksi kami pada panen pertama mencapai 4.871,2 kilogram,” ujar Sujarwanto, Rabu (12/8/2026).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, M. Johan Wijayanto, mengatakan capaian produksi KDMP Karangrejek menjadi salah satu hasil terbaik dari program bantuan budidaya ikan.
Menurutnya, produksi hampir 4,9 ton tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional untuk program bantuan serupa tahun 2025.
“Capaian produksi di Karangrejek ini menjadi yang tertinggi di Indonesia untuk program bantuan serupa tahun 2025,” kata Johan.
Johan menyebut hasil tersebut menunjukkan potensi budidaya lele untuk dikembangkan sebagai salah satu unit usaha koperasi desa. Terlebih, KDMP Karangrejek memanfaatkan lahan Sultan Ground sebagai lokasi budidaya.
Namun, keberhasilan panen perdana tersebut tidak lantas membuat Pemkab Gunungkidul meminta koperasi berhenti berinovasi. Bupati Endah justru mengingatkan pengurus agar tidak hanya melihat besarnya produksi dan nilai penjualan.
Endah meminta pengelola KDMP menghitung secara rinci seluruh biaya produksi dan memastikan usaha tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah utang persiapan lahan sekitar Rp40 juta yang harus dicicil koperasi dari hasil usaha.
“Jangan sampai unit usaha ini tidak membawa keberuntungan, menjadi beban, kemudian meninggalkan aset yang mangkrak,” tegas Endah.
Menurut Endah, koperasi perlu menekan biaya produksi, terutama komponen pakan yang menjadi salah satu beban utama dalam budidaya lele.
Dia mendorong KDMP Karangrejek mulai memikirkan produksi pakan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal, termasuk limbah ikan dari kawasan pelabuhan perikanan seperti Sadeng dan Gesing.
Jika terealisasi, langkah tersebut dinilai bisa membentuk rantai usaha yang lebih panjang. Koperasi tidak hanya membesarkan lele, tetapi juga mengolah bahan baku menjadi pakan hingga memasarkan hasil panen.
Endah juga mendorong integrasi antara budidaya ikan dan pertanian. Air bekas kolam lele dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman hortikultura.
“Integrasi pertanian yang memanfaatkan air kolam lele sebagai pupuk organik untuk tanaman hortikultura dapat memberikan nilai tambah ekonomi,” ujarnya.
Pemkab Gunungkidul pun menyiapkan pengembangan budidaya perikanan di sejumlah wilayah. DKP telah mengajukan 23 titik budidaya tematik dengan sistem miniras.
Setiap titik diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 10 ton lele dalam satu siklus. Nilai setiap paket bantuan diperkirakan mencapai Rp1,2 miliar yang mencakup pembangunan 20 kolam permanen beserta sarana pendukung.
Selain budidaya lele, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan program Mina Padi di Semugih dengan lahan sekitar 10 hektare pada triwulan IV 2026.
Program tersebut akan menggabungkan budidaya ikan dengan tanaman padi sehingga satu kawasan pertanian dapat menghasilkan lebih dari satu komoditas.
Keberhasilan KDMP Karangrejek dengan produksi hampir 4,9 ton lele akhirnya menjadi pijakan awal bagi pengembangan sektor perikanan budidaya di Gunungkidul.
Namun, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan satu siklus. Koperasi harus menjaga produktivitas, menekan biaya pakan, mengelola arus kas, membayar kewajiban, sekaligus memastikan hasil panen terserap pasar.
Dengan pengelolaan yang profesional, Pemkab Gunungkidul berharap budidaya lele tidak hanya menjadi unit usaha KDMP Karangrejek, tetapi berkembang menjadi model ekonomi produktif berbasis potensi lokal yang dapat diterapkan di wilayah lain.
-
Pemerintahan1 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized1 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa1 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized2 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa1 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized2 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Uncategorized1 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
