Uncategorized
Tak Sekadar Kebijakan, MBG dan KDMP Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Playen,(pidjar.com)–Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) diharapkan tidak berhenti sebagai kebijakan pemerintah semata. Akan tetapi, diharapkan keduanya dinilai memiliki ruang besar untuk saling menguatkan, menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menggerakkan roda perekonomian di tingkat lokal.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’aniyy, KH. Muhammad Tohari menilai program MBG pada prinsipnya merupakan kebijakan yang baik dan telah memberikan manfaat nyata bagi pelajar, ibu hamil, dan lainnya tak terkecuali bagi para santri di lingkungan pondok pesantren.
Di Ponpes Al Qur’aniyy misalnya. Saat ini, terdapat sekitar 24 santri penghafal Al-Qur’an yang menerima manfaat MBG di pondok serta santri lainnya bersekolah di luar lingkungan pesantren juga tersasar program tersebut.
“Untuk yang di sini ada sekitar 24 anak. Kami sangat berterima kasih karena program ini sangat membantu para santri,” ujar KH. Muhammad Tohari.
Menurutnya, makanan yang diterima para santri sejak pagi turut membantu efisiensi aktivitas di pondok. Para santri tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan kebutuhan makan pagi sehingga dapat lebih fokus menjalani kegiatan belajar maupun menghafal Al-Qur’an.
“Di pondok kami ini, dulu sebelum ada MBG setiap pagi anak-anak masak untuk sarapan. Alhamdulillah setelah ada program ini pagi sekitar pukul 07.00-07.30 sudah ada mobil pengiriman MBG, dari sisi waktu juga lebih efisien sehingga santri kami fokus pada penghafalan Al Quran,” katanya.
Meski demikian, ia berharap pelaksanaan MBG terus dievaluasi agar kualitas program semakin baik. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah keseimbangan antara kandungan gizi dengan cita rasa makanan.
“Kadang dari sisi kandungan gizi sudah terpenuhi, tetapi dari sisi rasa dan variasi menu masih perlu diperbaiki. Karena itu perlu ada pengontrolan,” tuturnya.
KH. Muhammad Tohari juga mengingatkan pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, keberhasilan sebuah program tidak cukup hanya diukur dari apakah program tersebut berjalan, tetapi juga sejauh mana manfaatnya benar-benar diterima masyarakat sesuai tujuan awal.
“Dari sisi program sangat bagus. Tetapi pengawasannya harus diperketat, baik terkait ketepatan sasaran maupun ketepatan manfaat. Jangan sekadar program berjalan saja,” tegasnya.
Selain kualitas makanan, menurut KH. Muhammad Tohari, proses pemilihan dan pengelolaan program juga perlu dilakukan secara selektif. Pengelola maupun operator di lapangan harus memiliki kemampuan yang memadai sehingga antara konsep program dengan pelaksanaan di lapangan dapat berjalan selaras.
“Program yang baik harus diikuti pengelolaan dan operasional yang baik pula. Penempatan pengelolanya harus selektif, sehingga program, operator dan operasionalnya bisa sinkron. Kalau itu berjalan, manfaatnya akan semakin besar,” jelasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan kebermanfaatan program ini menurutnya nyata dirasakan oleh masyarakat umum. Bukan hanya pelajar yang menerima makanan, namun dibalik itu ada orang-orang yang kemudian mendapatkan pekerjaan, dagangan UMKM dan lainnya lebih laku.
“Rantai kebermanfaatannya ada. Di lingkungan sini ada beberapa yang kemudian mendapatkan pekerjaan di dapur MBG, disana ada pemasok buah-buahan juga,” jelasnya.
Selain itu, ia berharap keberadaan MBG dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui KDMP. Rantai kebutuhan pangan dalam program MBG dinilai dapat menjadi ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal untuk ikut tumbuh apabila dikelola secara tepat.
KH. Muhammad Tohari menambahkan, berkaitan dengan program KDMP ia mendapatkan informasi bahwa beberapa gerai sudah selesai dibangun, pun dengan di wilayahnya yakni di Kalurahan Ngunut, Playen.
Saat ini program tersebut belum beroperasi, ia berharap kedepannya program pemberdayaan ekonomi tidak berhenti pada tataran kebijakan, melainkan benar-benar menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tinggal bagaimana di tatanan eksekusinya diperbaiki, pengawasannya diperkuat, dan pengelolanya dipilih secara tepat. Kalau itu bisa dilakukan, manfaatnya akan semakin besar,” tandasnya
Ia pun melihat pemilihan lokasi pelaksanaan program di kawasan tersebut cukup strategis. Lokasinya yang berdekatan dengan kawasan kuliner yang mulai berkembang dinilai dapat memberikan efek ekonomi bagi lingkungan sekitar.
“Tempatnya cukup strategis karena dekat dengan kawasan kuliner yang sekarang juga ramai. Ini bisa ikut mendorong perkembangan ekonomi di sekitarnya,” pungkas KH. Muhammad Tohari.
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized2 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
