fbpx
Connect with us

Sosial

Fenomena Pemasungan ODGJ Masih Terjadi di Gunungkidul, 21 Orang Belum Dievakuasi

Diterbitkan

pada tanggal

Saptosari,(pidjar.com)–Pemasungan terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih terjadi di Kabupaten Gunungkidul. Dinas Sosial (Dinsos) Gunungkidul mencatat sampai dengan saat ini masih ada 21 orang yang belum dievakuasi. Ada beragam cerita atau faktor yang mempengaruhi keluarga melakukan pemasungan, gsaat ini sejumlah pihak tengah berusaha melakukan penanganan. Kendati demikian, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi.

Seperti dapat dilihat di Padukuhan Cekel, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari. Seorang warga ODGJ yang diketahui bernama Parman (43) terpaksa hidup seorang diri di sebuah ruangan tertutup dengan luas sekitar 4×2 meter. Tanpa mengenakam baju, dirinya tengah tertidur diatas lantai tanpa alas.

Sesekali dirinya terlihat menggerakan mulutnya seolah tengah berbicara. Tatapan kosong kerap kali terlihat ketika dirinya melihat tembok disamping tempatnya berbaring.

Saudara Parman, Sukaptinah mengatakan bahwa Parman mengidap gangguan jiwa sejak 11 tahun yang lalu. Menurutnya, hal itu karena ia merasa kecewa hewan ternaknya dijual tanpa sepengetahuannya.

“Jadi dulu itu Parman kerja di pabrik Bakpia, terus dapat gaji dan dia pengen beli sapi metal Rp 2,7 juta. Sapi itu digaduhke (dipelihara saudaranya dengan sistem bagi hasil) tapi ternyata mandul, nah tanpa sepengetahuan Parman sapi itu dijual dan akhirnya dia kagol (kecewa) dan kondisinya jadi seperti ini,” ucapnya saat ditemui di tempat tinggal Parman, Jumat (18/10/2019) kemarin.

Selama itu pula, Parman mulai mengalami gangguan kejiwaan dan terpaksa tidak bisa bekerja lagi seperti sedia kala. Parman sendiri selama ini telah ia rawat sejak 9 tahun silam. Bahkan ia sempat hilang meski akhirnya dapat ditemukan.

“Kalau di rumah dia itu suka ngamuk-ngamuk, karena itu terpaksa dikurung di kamar ini biar tidak ngamuk-ngamuk,” kata dia.

Melihat kondisi Parman, keluarga dibantu dengan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Saptosari mencoba membawa Parman ke RS Grhasia, Pakem, Sleman dengan harapan Parman dapat sembuh. Namun, hal itu tidak menemukan titik terang.

“Dia sudah berkali-kali dibawa ke Pakem, yang bawa dibantu sama TKSK dan rawat jalan. Tapi karena BPJSnya (Parman) hilang, kami jadi kesulitan untuk mendapatkan obat biar Parman nggak ngamuk-ngamuk lagi,” kata Sukaptinah.

Tak hanya Parman, Marmi (33) ODGJ Dusun Ngepoh, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul juga harus tinggal di ruangan tertutup di belakang rumahnya. Namun berbeda dengan ruangan pemasungan Parman, ruangan untuk Marmi tergolong lebih luas namun tidak ada barang-barang di dalamnya.

Sementara itu, TKSK Saptosari, Sadilem menjelaskan bahwa sedikitnya masih ada 4 kasus pemasungan di Saptosari. Menurutnya, 2 diantaranya sudah berhasil terevakuasi dengan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa.

“Untuk Parman sebetulnya sudah dievakuasi tapi karena BPJS hilang dan tidak ada keluarga di samping dia maka terpaksa pulang lagi. Saat ini, kami selaku pendamping mengupayakan bagaimana (Parman) bisa dievakuasi kembali,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gunungkidul, Siwi Iriyanti mengatakan, bahwa jumlah OGDJ yang mengalami pemasungan di Gunungkidul berjumlah puluhan orang. Namun, pemasungan tersebut bukanlah dengan memborgol atau memasang alat di anggota tubuh ODGJ agar tidak bisa bergerak secara leluasa.

“ODGJ yang dipasung (di Gunungkidul) itu ada sekitar 21 (ODGJ). Tapi pemasungan itu bukan dalam arti dipasang alat (pada kaki dan tangan) terus yang bersangkutan tidak bisa gerak ya, dia hanya ditempatkan kamar sendiri seperti itu,” ucapnya saat dihubungi.

Untuk itu, pihaknya saat ini terus membujuk masyarakat yang anggota keluarga yang mengidap ODGJ agar mau dievakuasi. Meski diakuinya hal tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.

“Jadi yang 21 ODGJ itu belum dievakuasi, dam saat ini kita terus lakukan pendekatan untuk mengevakuasi mereka. Semua itu agar jangan sampai ada yang dipasung, tapi dalam pelaksanaannya harus bertahap karena tidak mudah memberi pemahaman ke keluarganya,” katanya.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler