Uncategorized
28 Kasus Leptospirosis di Gunungkidul, 6 Penderita Meninggal Dunia
Wonosari,(pidjar.com)– Kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul masih menjadi perhatian serius. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sebanyak 28 kasus leptospirosis, dengan enam di antaranya meninggal dunia.
Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Eko Mujiarto, mengatakan leptospirosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dibawa hewan pengerat, terutama tikus.
“Bakteri ini dapat menular ke manusia melalui luka terbuka saat seseorang beraktivitas di genangan air, lahan pertanian, maupun lingkungan yang terkontaminasi urine tikus,” kata Eko.
Ia menjelaskan, pada tahun 2026 hingga awal Mei tercatat 28 kasus leptospirosis dengan enam kasus kematian. Dari jumlah tersebut, 6 diantaranya meninggal dunia.
Sementara pada tahun 2025 ditemukan 30 kasus dan pada tahun 2024 sebanyak 36 kasus. Tingkat kematian akibat penyakit ini juga tergolong tinggi karena setiap tahun jumlah kematian biasanya mencapai lebih dari 10 persen dari total kasus yang ditemukan.

“Sampai Mei kemarin ada 6 penderita Leptospirosis yang meninggal dunia. Untuk tahun ini memang kasus tergolong tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dengan periode yang sama,” tambah Eko.
Menurutnya, mayoritas penderita merupakan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, terutama saat musim penghujan dan masa panen. Rata-rata pasien yang terpapar berusia sekitar 40 tahun.
“Sebagian besar kasus ditemukan pada warga yang banyak beraktivitas di lahan pertanian. Risiko penularan meningkat ketika seseorang memiliki luka terbuka dan tetap bekerja di lingkungan yang terkontaminasi,” ujarnya.
Adapun wilayah dengan temuan kasus terbanyak berada di Kapanewon Nglipar, Ngawen, dan Gedangsari. Meski demikian, kasus leptospirosis juga ditemukan di sejumlah kapanewon lainnya di Gunungkidul.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, dr. Wanda Abrar, mengatakan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menular melalui kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan pembawa bakteri.
Kasus leptospirosis hampir setiap tahun ditemukan di Gunungkidul. Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik wilayah yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani sehingga memiliki risiko paparan yang cukup tinggi.
Masyarakat diminta mewaspadai gejala penyakit tersebut, antara lain demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, mata kemerahan, mual, serta muntah.
“Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami kulit dan mata menguning, gangguan ginjal, pendarahan pada kulit hingga gangguan fungsi hati dan mengakibatkan kematian,” ujar Wanda Abrar.
Untuk menekan angka kasus dan kematian, Dinkes Gunungkidul melakukan berbagai upaya penanganan. Salah satunya melalui pengendalian populasi tikus dengan berkolaborasi bersama Dinas Pertanian dan Pangan di lahan pertanian maupun lingkungan permukiman.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan terkait penerapan pola hidup bersih dan sehat serta keselamatan kerja saat beraktivitas di ladang. Warga juga diimbau menunda aktivitas di area berisiko apabila memiliki luka terbuka.
Dinkes juga memperkuat jejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, swasta, maupun praktik mandiri agar kasus dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.
“Kecepatan penanganan, terutama pemberian antibiotik setelah diagnosis ditegakkan, menjadi faktor penting untuk mencegah kondisi pasien memburuk dan menurunkan angka kematian,” jelasnya.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized1 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
