fbpx
Connect with us

Politik

Gerah Program Rasul Gratis Diserang Petahana, Calon Kades Hargomulyo Janjikan Dalang Ki Seno Tiap Tahun

Diterbitkan

pada tanggal

Gedangsari, (pidjar.com)–Suasana memanas terjadi menjelang Pilkades di Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari. Dua orang kandidat saling berseteru terkait dengan program unggulannya. Awal mula dari polemik ini dimulai saat salah seorang kandidat, Marsinem dalam kampanyenya menyatakan akan menggratiskan event rasulan bilamana ia menjabat. Program ini lantas diserang calon kades lainnya yang berstatus petahana, Sumaaryanta yang menilai program tersebut tak relevan dengan kondisi Desa Hargomulyo.

Kepada pidjar.com, Marsinem bersikukuh bahwa program tersebut akan ia terapkan jika nantinya terpilih menjadi Kades Hargomulyo. Menurutnya, event semacam ini sebenarnya bisa dicarikan pendanaan tanpa harus membebani masyarakat. Cukup banyak warga perantauan yang sukses maupun sponsor-sponsor yang bisa digandeng untuk membiayai rasulan di desanya. Bahkan selain gratis, ia juga menjamin nantinya rasulan tetap akan berjalan meriah.

“Sesuai dengan pernyataan saya kepada masyarakat, untuk rasulan gratis ini, dalangnya minimal adalah Ki Seno,” tandas Marsinem, Kamis (31/10/2019) siang.

Salah satu latar belakang dari keinginannya tersebut adalah, pihaknya merasa perlu untuk mengurangi beban masyarakat. Selama ini setiap rasulan, masyarakat dipungut biaya Rp 30.000 per KK. Jumlah ini mungkin bukan suatu masalah untuk masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Namun tentu ini akan menjadi beban bagi masyarakat dengan ekonomi lemah.

“Bahkan saya punya angan-angan, ke depan acara yang harus ada lantaran memang sudah menjadi tradisi ini bisa tanpa membebani anggaran pemerintah desa,” papar dia.

Berkaitan dengan serangan yang ia terima terkait program ini, Marsinem mengaku tak habis pikir. Tudingan bahwa dengan tidak memungut uang dari masyarakat akan melunturkan gotong royong disebutnya tidak masuk akal. Marsinem menyatakan, gotong royong tidak sebaiknya dinilai dengan uang. Gotong royong adalah niat dari masyarakat untuk bergerak bersama dan saling membantu.

Berita Lainnya  Coklit Data Pemilih Pemilu 2019, KPU Minta Petugas Pantarlih Tak Hanya Kerja di Belakang Meja

“Justru ini yang akan saya kembangkan jika saya mendapatkan amanah. Kita ingin masyarakat mempunyai rasa memiliki satu sama lain sehingga kemudian diwujudkan dalam kegiatan, seperti misalnya kerja bakti, saling memberikan bantuan kepada warga tidak mampu. Ini esensi gotong royong yang sesungguhnya,” beber Marsinem.

Sebenarnya, rasulan gratis ini bukan menjadi program unggulannya. Ada sejumlah hal yang menarik perhatiannya untuk dibenahi atau ditingkatkan kembali. Diantaranya adalah reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah desa untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Di era kepemimpinannya, pelayanan harus berlangsung cepat sehingga masyarakat bisa merasa nyaman dan tidak membuang waktu.

“Saya juga ingin mengembangkan perekonomian masyarakat, Hargomulyo harus sejahtera,” tandas Marsinem.

Terpisah, salah seorang tokoh masyarakat Hargomulyo, Mulyono menyebut bahwa ide rasulan gratis ini sangat mungkin diwujudkan. Ia bahkan secara pribadi siang mengeluarkan kocek untuk membiayai event wayangan dengan dalang Ki Seno. Namun hal ini akan ia berikan secara rutin dengan catatan, yaitu pemimpin dalam hal ini kepala desa bisa memberikan perubahan.

Berita Lainnya  Sambutan Immawan di Acara Kunjungan Sandiaga Uno ke Gunungkidul

“Kalau tidak bisa bekerja secara benar, saya tidak mau lagi membiayai. Kalau perubahan ini nyata, setiap tahun saya siap. Saya sudah ngobrol banyak dengan Ibu Marsinem,” ujar pengusaha sukses ini.

Sementara itu, calon petahana Sumaryanta menanggapi program Marsinem tersebut dengan cukup pedas. Menurutnya, rasul gratis ini justru akan menghapuskan esensi rasul sebagai wujud ungkapan syukur masyarakat Desa Hargomulyo.

“Tentu saja ini tidak relevan, bikin visi misi harusnya melihat situasi saat ini, bagaimana mencari solusinya,” ungkap dia.

Rasul, menurut dia bukanlah ajang untuk pesta saja. Dengan iuran warga yang selama ini dilakukan, menurutnya menambah kekompakan antar masyarakat.

“Kalau hanya sekedar menggratiskan rasul saya juga mampu, tapi itu tidak pas, bisa menggeser adat dan tradisi,” imbuh Sumaryanta.

Ia memberi contoh, harusnya dalam memberikan visi dan misi calon kepala desa harus dapat menawarkan solusi. Khususnya apa yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat.

“Dua tahun ini, kemarau panjang, calon Kades yang cerdas harus bisa menawarkan solusi kekeringan yang bertahun tahun menjadi masalah bersama,” imbuh Sumaryanta.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler