Politik
Gerah Program Rasul Gratis Diserang Petahana, Calon Kades Hargomulyo Janjikan Dalang Ki Seno Tiap Tahun
Gedangsari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Suasana memanas terjadi menjelang Pilkades di Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari. Dua orang kandidat saling berseteru terkait dengan program unggulannya. Awal mula dari polemik ini dimulai saat salah seorang kandidat, Marsinem dalam kampanyenya menyatakan akan menggratiskan event rasulan bilamana ia menjabat. Program ini lantas diserang calon kades lainnya yang berstatus petahana, Sumaaryanta yang menilai program tersebut tak relevan dengan kondisi Desa Hargomulyo.
Kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Marsinem bersikukuh bahwa program tersebut akan ia terapkan jika nantinya terpilih menjadi Kades Hargomulyo. Menurutnya, event semacam ini sebenarnya bisa dicarikan pendanaan tanpa harus membebani masyarakat. Cukup banyak warga perantauan yang sukses maupun sponsor-sponsor yang bisa digandeng untuk membiayai rasulan di desanya. Bahkan selain gratis, ia juga menjamin nantinya rasulan tetap akan berjalan meriah.
“Sesuai dengan pernyataan saya kepada masyarakat, untuk rasulan gratis ini, dalangnya minimal adalah Ki Seno,” tandas Marsinem, Kamis (31/10/2019) siang.
Salah satu latar belakang dari keinginannya tersebut adalah, pihaknya merasa perlu untuk mengurangi beban masyarakat. Selama ini setiap rasulan, masyarakat dipungut biaya Rp 30.000 per KK. Jumlah ini mungkin bukan suatu masalah untuk masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Namun tentu ini akan menjadi beban bagi masyarakat dengan ekonomi lemah.
“Bahkan saya punya angan-angan, ke depan acara yang harus ada lantaran memang sudah menjadi tradisi ini bisa tanpa membebani anggaran pemerintah desa,” papar dia.

Berkaitan dengan serangan yang ia terima terkait program ini, Marsinem mengaku tak habis pikir. Tudingan bahwa dengan tidak memungut uang dari masyarakat akan melunturkan gotong royong disebutnya tidak masuk akal. Marsinem menyatakan, gotong royong tidak sebaiknya dinilai dengan uang. Gotong royong adalah niat dari masyarakat untuk bergerak bersama dan saling membantu.
“Justru ini yang akan saya kembangkan jika saya mendapatkan amanah. Kita ingin masyarakat mempunyai rasa memiliki satu sama lain sehingga kemudian diwujudkan dalam kegiatan, seperti misalnya kerja bakti, saling memberikan bantuan kepada warga tidak mampu. Ini esensi gotong royong yang sesungguhnya,” beber Marsinem.
Sebenarnya, rasulan gratis ini bukan menjadi program unggulannya. Ada sejumlah hal yang menarik perhatiannya untuk dibenahi atau ditingkatkan kembali. Diantaranya adalah reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah desa untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Di era kepemimpinannya, pelayanan harus berlangsung cepat sehingga masyarakat bisa merasa nyaman dan tidak membuang waktu.
“Saya juga ingin mengembangkan perekonomian masyarakat, Hargomulyo harus sejahtera,” tandas Marsinem.
Terpisah, salah seorang tokoh masyarakat Hargomulyo, Mulyono menyebut bahwa ide rasulan gratis ini sangat mungkin diwujudkan. Ia bahkan secara pribadi siang mengeluarkan kocek untuk membiayai event wayangan dengan dalang Ki Seno. Namun hal ini akan ia berikan secara rutin dengan catatan, yaitu pemimpin dalam hal ini kepala desa bisa memberikan perubahan.
“Kalau tidak bisa bekerja secara benar, saya tidak mau lagi membiayai. Kalau perubahan ini nyata, setiap tahun saya siap. Saya sudah ngobrol banyak dengan Ibu Marsinem,” ujar pengusaha sukses ini.
Sementara itu, calon petahana Sumaryanta menanggapi program Marsinem tersebut dengan cukup pedas. Menurutnya, rasul gratis ini justru akan menghapuskan esensi rasul sebagai wujud ungkapan syukur masyarakat Desa Hargomulyo.
“Tentu saja ini tidak relevan, bikin visi misi harusnya melihat situasi saat ini, bagaimana mencari solusinya,” ungkap dia.
Rasul, menurut dia bukanlah ajang untuk pesta saja. Dengan iuran warga yang selama ini dilakukan, menurutnya menambah kekompakan antar masyarakat.
“Kalau hanya sekedar menggratiskan rasul saya juga mampu, tapi itu tidak pas, bisa menggeser adat dan tradisi,” imbuh Sumaryanta.
Ia memberi contoh, harusnya dalam memberikan visi dan misi calon kepala desa harus dapat menawarkan solusi. Khususnya apa yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat.
“Dua tahun ini, kemarau panjang, calon Kades yang cerdas harus bisa menawarkan solusi kekeringan yang bertahun tahun menjadi masalah bersama,” imbuh Sumaryanta.
-
Kriminal3 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa2 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial2 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Uncategorized2 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan2 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized3 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Peristiwa3 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa2 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Uncategorized3 minggu yang laluCetak Sejarah di Moto3, Veda Dapat Hadiah Mobil Impian Dari Konglomerat
-
Peristiwa3 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
-
Hukum4 minggu yang laluNekat Posting Motor Curian di Facebook, Pemuda Ditangkap Polisi Nyamar
-
Pemerintahan2 minggu yang laluRatusan Warga Gunungkidul Terjangkit Penyakit Menular Mematikan Ini
