Info Ringan
Restu Ratnaningtyas dan Dita Gambiro Bawa Kegelisahan Sosial ke Ruang Dialog ARTJOG 2026
Jogja,(pidjar.com)–Program Meet The Artist dalam rangkaian ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO kembali memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi ruang percakapan yang hidup antara seniman dan publik. Dalam sesi yang digelar Kamis (6/8/2026), seniman Restu Ratnaningtyas dan Dita Gambiro tidak hanya membahas proses penciptaan karya, tetapi juga membuka lapisan pengalaman personal, ingatan sosial, dan kegelisahan yang mereka bawa ke dalam praktik berkesenian.
Berbeda dari presentasi artistik yang semata-mata membicarakan teknik, pertemuan ini berkembang menjadi diskusi tentang bagaimana benda-benda sehari-hari seperti kotak susu, kain seragam, ruko, dan teralis dapat berubah menjadi simbol kritik terhadap sistem sosial, rasa aman, dan pengalaman hidup masyarakat.
Restu Ratnaningtyas memulai penjelasannya dengan mengangkat keresahan yang muncul dari lingkungan sekitar terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengatakan gagasan karya tersebut lahir bukan dari pengamatan yang jauh, melainkan dari percakapan sederhana yang terus berulang di tengah masyarakat.
“Kritik ini didasari pengalaman pribadi dan banyak orang di sekitar saya yang resah dengan program ini. Awalnya dari pertanyaan tentang susu kotak yang tiba-tiba hilang dari peredaran. Dari situ saya mulai berpikir membuat karya berbentuk kotak susu,” ujar Restu.
Bagi Restu, hilangnya susu kotak bukan sekadar persoalan distribusi barang. Peristiwa itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang rantai kebijakan, pengelolaan, dan dampaknya terhadap masyarakat. Ia kemudian memilih menjadikan kotak susu sebagai medium utama sekaligus simbol dari siklus yang ingin ia bicarakan.
Dalam prosesnya, Restu menggunakan teknik cetak dan mengolah kembali kotak susu bekas menjadi medium karya. Ia juga memakai tinta berbahan dasar kedelai sebelum membentuknya kembali menjadi kotak susu.
“Saya menggunakan teknik cetak karena ingin membicarakan siklus dan dapur. Dapur itu bisa menjadi lahan korupsi yang mungkin tidak banyak dipikirkan orang,” katanya.
Menurutnya, pemilihan material bukan keputusan estetis semata. Ia ingin agar medium dan isu yang diangkat saling terhubung secara langsung.
“Medium yang digunakan sangat sinkron dengan isu yang saya angkat. Kotak susu diolah menjadi kotak susu lagi, jadi ada siklus yang ingin saya tunjukkan,” jelasnya.
Karya tersebut kemudian berkembang menjadi refleksi tentang bagaimana kebijakan publik sering kali memiliki lapisan-lapisan yang tidak terlihat oleh masyarakat. Restu menilai persoalan yang ia angkat tidak berhenti pada isu hari ini, melainkan menyangkut dampak jangka panjang terhadap kesehatan, ekonomi keluarga, dan masa depan anak-anak.
Selain karya tentang susu, Restu juga menampilkan karya lain berupa rangkaian rantai yang dibuat dari kain seragam tentara. Karya ini muncul dari kegelisahannya terhadap rasa intimidasi yang menurutnya semakin terasa di ruang publik maupun ruang pendidikan.
“Rantai ini simbol dari sesuatu yang merantai. Kalau situasi seperti ini dibiarkan, dampaknya bisa terus merantai dari generasi ke generasi,” tutur Restu.
Ia melihat bahwa ketakutan dan tekanan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kadang-kadang ia bekerja secara perlahan, diwariskan melalui kebiasaan, struktur, dan relasi kuasa yang terus dipertahankan.
Sementara itu, Dita Gambiro membawa arah pembicaraan ke wilayah memori dan sejarah personal. Ia mengaku tidak mengalami kerusuhan 1998 sebagai orang dewasa, namun peristiwa itu terekam kuat dalam ingatan masa kecilnya dan terus memengaruhi cara pandangnya hingga sekarang.
“Saat 1998 saya masih SD, jadi tidak mengalami secara langsung, tetapi peristiwa-peristiwa itu cukup terekam. Ketika dewasa, ternyata ingatan itu masih terus membayangi,” kata Dita.
Sejak 2022, Dita mulai menekuni praktik pengarsipan memori pribadi melalui karya seni. Ia merasa bahwa pengalaman personal juga memiliki nilai sejarah dan layak disimpan sebagai bagian dari narasi kolektif.
“Mungkin ini saatnya saya bertindak untuk mengarsipkan memori dan perspektif diri sendiri agar menjadi bagian dari sejarah itu sendiri,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Dita menyadari bahwa berbagai karya yang ia buat selama beberapa tahun terakhir sebenarnya memiliki benang merah yang sama, yaitu tentang batas.
“Ternyata karya-karya saya dari dulu sampai sekarang temanya sama, yaitu tentang batas. Itu yang paling memengaruhi saya dalam berkarya,” ungkapnya.
Tema batas itu hadir melalui berbagai medium, mulai dari rambut, lapisan kain transparan, miniatur ruko, hingga teralis. Semua elemen tersebut, menurut Dita, berbicara tentang pemisahan, perlindungan, ketakutan, dan jarak antarmanusia.
Salah satu karya yang paling kuat secara personal baginya adalah miniatur ruko yang berasal dari ingatan masa kecil di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta. Ia mengenang perubahan visual kawasan tersebut sebelum dan sesudah kerusuhan 1998.
“Sebelum kerusuhan, kawasan itu sangat sibuk. Setelahnya saya melihat bangunan berasap, kaca pecah, lalu perlahan muncul tembok-tembok dan teralis. Perubahan itu terus saya lihat setiap hari sampai SMA,” kenangnya.
Perubahan lanskap kota itu meninggalkan pertanyaan yang terus ia bawa hingga dewasa: apakah ruang-ruang yang dibangun untuk melindungi justru menciptakan jarak dan rasa terkurung?
“Saya terus bertanya, apakah teralis itu penjara atau perlindungan,” kata Dita.
Pertanyaan tersebut menjadi inti dari refleksinya tentang rasa aman di masyarakat. Teralis, pagar, dan tembok tidak lagi ia lihat sebagai elemen arsitektur semata, melainkan sebagai penanda trauma sosial dan ketidakpercayaan yang tumbuh setelah sebuah peristiwa besar.
Pertemuan antara karya Restu dan Dita menunjukkan dua pendekatan yang berbeda namun saling beririsan. Restu bergerak dari kritik terhadap kebijakan dan struktur sosial yang bekerja pada masa kini, sementara Dita menelusuri jejak sejarah dan memori yang membentuk cara masyarakat memandang keamanan dan batas.
Melalui kotak susu, rantai, ruko, dan teralis, keduanya memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai objek visual, tetapi juga sebagai alat untuk membaca ulang realitas sosial. Karya-karya itu mengajak publik mempertanyakan hal-hal yang sering dianggap biasa: distribusi makanan, ruang pendidikan, pagar rumah, hingga ingatan masa kecil.
Di ruang dialog ARTJOG 2026, benda-benda sehari-hari itu akhirnya berubah menjadi bahasa kritik, arsip pengalaman, dan undangan untuk merenungkan bagaimana sistem, trauma, dan ketakutan dapat terus hidup dalam kehidupan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized2 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized4 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu149 Karya Inovatif ASN hingga Pelajar Gunungkidul Ramaikan Krenovamaskat Pelita Indah 2026
-
Uncategorized4 minggu yang lalu“Diri dan Liyan”, Ruang Perjumpaan Diri, Leluhur, dan Ingatan dalam Karya Dhewantara Manurung
-
Sosial1 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pemerintahan2 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
