Uncategorized
Mengenal Gapura Lar Badak Dengan Segala Filosofinya
Wonosari,(pidjar.com)– Bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, gapura bukan sekadar bangunan penanda wilayah namun juga menjadi identitas atau icon suatu daerah. Bentuk gapura yang telah lama dikenal dan menjadi bagian dari identitas daerah adalah Gapura Lar Badak dengan segala filosofinya.
Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman di Kundha Kabudayan Kabupaten, Sukasno mengatakan Gapura Lar Badak memiliki segudang filosofi yakni Lar atau Elar berarti sayap burung. Sementara Badak menggambarkan sosok binatang berukuran besar dengan kekuatan yang luar biasa.
Perpaduan kedua simbol tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk gapura dengan dua sisi menyerupai sayap yang membentang di kanan dan kiri pintu masuk maupun keluar. Bentuk tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung pesan moral.
Sayap yang terbuka dimaknai sebagai keterbukaan dalam menerima siapa saja yang datang, sekaligus mencerminkan keramahan masyarakat. Sementara kekuatan badak menjadi simbol keteguhan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Dalam kehidupan masyarakat, Gapura Lar Badak juga memiliki makna ngayomi dan ngayemi, yakni memberikan perlindungan sekaligus rasa aman dan tenteram bagi masyarakat. Filosofi tersebut menjadikan keberadaan gapura tidak hanya sebagai penanda kawasan, tetapi juga sebagai gambaran nilai-nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta.
“Gapura ini merupakan iconnya Yogyakarta kemudian mulai dibangun di Gunungkidul sekitar tahun 1982 sebagai penanda wilayah,” kata dia.
Lebih lanjut Sukasno mengatakan, sejumlah ornamen yang terdapat pada Gapura Lar Badak memiliki makna tersendiri. Bunga melati yang berada di bagian puncak tiang melambangkan kesucian, kejujuran, kemurnian, kebersihan, ketulusan serta keharuman. Kehadiran bunga ini juga dimaknai sebagai simbol ketenangan.
Bunga melati dengan lima kelopak memiliki filosofi tersendiri. Lima kelopak tersebut menggambarkan tahapan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Filosofi ini sekaligus merepresentasikan Yogyakarta sebagai kota pendidikan dengan generasi muda yang diharapkan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.
Pada bagian tiang terdapat bentuk segi empat yang tersusun dalam beberapa tingkatan. Tiga tingkatan pada tiang yang lebih tinggi menggambarkan cipta, rasa dan karsa. Cipta dimaknai sebagai kemampuan menggunakan pikiran secara jernih, rasa sebagai ketulusan hati, sedangkan karsa merupakan tekad yang bulat.
Makna tersebut kemudian berkaitan erat dengan Yogyakarta sebagai kota budaya, di mana kehidupan masyarakat diharapkan tidak hanya mengedepankan kecerdasan, tetapi juga kepekaan rasa serta kemauan untuk bertindak secara benar.
Lengkungan yang menghubungkan tiang rendah dengan tiang yang lebih tinggi juga memiliki arti filosofis. Bentuk yang mengarah ke atas tersebut menggambarkan cita-cita yang luhur dan mulia. Bentuknya yang terbuka menjadi simbol bahwa masyarakat senantiasa memiliki ruang untuk menerima, berinteraksi dan membangun hubungan dengan pihak lain.
Sementara posisi tiang yang tegak dengan perbedaan ketinggian dimaknai sebagai gambaran seorang pemimpin. Seorang pemimpin diharapkan mampu bersikap tegak dan tegas dalam menghadapi persoalan, namun tetap mampu memberikan perlindungan, ketenteraman, menjadi panutan serta menyatu dengan masyarakat yang dipimpinnya.
Di antara tiang tinggi dan tiang yang lebih rendah terdapat tujuh lubang. Jumlah tersebut menjadi simbol bahwa berbagai persoalan dan hambatan diyakini dapat ditembus apabila masyarakat memiliki semangat gotong royong dan keterbukaan.
Adapun bagian dasar gapura yang terbelah menjadi dua sisi menyerupai sayap burung menggambarkan kekuatan masyarakat. Meski terdapat pintu sebagai pembatas antara bagian luar dan dalam, secara filosofi masyarakat tetap memiliki keterikatan dan hubungan yang erat dengan pemimpinnya.
Gapura Lar Badak tidak hanya dipandang sebagai bangunan penyambut bagi mereka yang memasuki suatu wilayah. Akan tetapi, gapura ini menjadi simbol keramahan sekaligus pengingat terhadap nilai-nilai kehidupan yang telah lama melekat dalam budaya masyarakat Yogyakarta.
“Dulu memang setiap tugu perbatasan berbentuk gapura Lar Badak. Namun seiring dengan perkembangan zaman saat ini dan dari segi kepraktisan pembangunanya mulai tersingkir dengan gapura pecinan yang praktis dalam pembuatan maupun pembelian,” paparnya.
Sebagai upaya pelestarian, pemerintah berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat agar icon daerah ini tidak terlepas.
“Edukasi dan baru sebatas nilai plus bagi kalurahan yang ada Gapura Lar Badaknya misal saat lomba desa atau kegiatan lain,” tutupnya.
-
Uncategorized1 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized5 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Sosial2 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized24 jam yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized1 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pariwisata3 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
