Sosial
Menderitanya Para Pedagang Daging Pasca Merebaknya Temuan Anthraks
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Temuan antraks di wilayah Gunungkidul berdampak cukup luas. Selain keresahan warga akan tertularnya penyakit maupun matinya ternak mereka, antraks juga berdampak pada menurunnya permintaan daging sapi di pasaran.
Seperti terlihat di komplek pasar Argosari Wonosari. Sejumlah pedagang daging merasakan betul dampak dari temuan kasus anthraks di Gunungkidul. Jika biasanya para pedagang mampu menjual puluhan kilogram daging per harinya, namun kini mereka hanya mampu menjual 1 sampai dua kilogram saja.
“Sehari kemarin (Selasa 21/01/2020), hanya laku dua kilogram, biasanya sehari bisa sampai 20 kilogram. Sejak ada itu (penyakit antraks) tidak ada orang yang membeli,” kata salah seorang pedagang daging di komplek pasar Argosari, Waginem (70), Rabu (22/01/2020).
Sejak kabar perihal temuan penyakit yang berasal dari bacillus anthrax ini muncul di Padukuhan Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, jualannya tak lagi laku. Untuk harga daging sendiri saat ini masih berkisar Rp 125 ribu hingga Rp 130 ribu.
Dengan harga sekian, dirinya menjamin bahwa daging sapi yang ia jual adalah daging sehat. Sebab, ia bersama 4 orang pedagang lain membeli satu ekor sapi kemudian disembelih dan kemudian dijual.
“Sapi sik loro kok dituku (sapi sakit kok dibeli), mending yang sehat tidak merugikan pembeli. Tapi sekarang ora payu (tidak laku) karena masyarakat takut itu tadi,” ungkap dia.
Untuk menyiasati hal tersebut, ia harus menyimpan daging sapi dagangannya dengan sebuah box berwarna biru yang didalamnya berisi bongkahan es batu. Hal ini difungsikan untuk mengawetkan daging lantaran belum laku dijual.
Sementara itu, pedagang lainnya yang berjualan daging kambing, Rubiyati menyampaikan hal yang serupa. Sejak munculnya anthraks, dalam sehari ia hanya bisa menjual sebanyak 50 persen dari hari-hari biasanya.
“Biasanya bisa menjual tiga hingga empat ekor daging kambing tetapi sekarang sehari hanya bisa satu kambing saja padahal yang disembelih itu kambing sehat,” ucapnya.
Sementara itu,Karni (75) warga Desa Ngebrak, pedagang lainnya berharap situasi ini segera kembali normal. Sebagai penjual, ia merasa bahwa perekonomiannya tidak berputar pasca temuan anthraks merebak. Padahal, saat ini ia hanya mengandalkan penghasilan dari jualan daging tersebut.
“Kita berharap situasi ini cepat berakhir. Karena saya tidak ada penghasilan saat ini,” ucap Karni.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan, untuk memasak daging diimbau untuk dimasak sampai benar-benar matang. Untuk merebus air juga diimbau setelah matang ditambah 20 menit.
“Jadi memasak air harus sampai mendidih dan ditambah 20 menit setelah mendidih,” ujar Dewi.
Selain itu,juga seluruh sumber air di wilayah Desa Gombang diberikan kaporisasi. Hal serupa juga dilakukan jika memasak daging, harus sampai matang.
“Cara mencegahnya, tidak mengkonsumsi daging yang sakit atau mati, jika memasak daging harus matang betul, demikian pula perilaku hidup bersih dan sehatseperti mencuci tangan setelah beraktifitas,” ucap Dewi.
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized1 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized2 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
-
event2 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang lalu149 Karya Inovatif ASN hingga Pelajar Gunungkidul Ramaikan Krenovamaskat Pelita Indah 2026
-
Uncategorized4 minggu yang lalu“Diri dan Liyan”, Ruang Perjumpaan Diri, Leluhur, dan Ingatan dalam Karya Dhewantara Manurung
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Sosial1 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
