Pemerintahan
Kasus Gantung Diri di Gunungkidul Masih Tinggi, Dinkes Gencarkan Skrining dan dan Edukasi Pencegahan
Wonosari,(pidjar.com)– Kejadian gantung diri masih menjadi persoalan di Gunungkidul untuk diselesaikan. Setiap tahunnya lebih 20 kasus gantung diri terjadi di wilayah Gunungkidul. Di bulan Januari sampai April 2026 ini saja, sudah ada 9 kasus bunuh diri dengan cara gantung diri. Dengan kondisi ini, mulai dari masyarakat, lembaga sosial, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul serta pihak-pihak lainnya memiliki peranan penting dalam upaya penanggulangan kasus bunuh diri.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono,mengungkapkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul telah menyusun beberapa program sebagai langkah nyata dalam penanggulangan atau pencegahan kasus gantung diri. Tentunya, Dinas Kesehatan tidak bisa bergerak sendiri melainkan perlu adanya sinergi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lain serta sebuah yayasan atau organisasi yang bergerak dalam keperdulian sosial dan kesehatan mental.
Baru-baru ini upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mulai dari skreening kesehatan jiwa pada anak sekolah, usia produktif, lansia, ibu hamil dan menyusui. Pelatihan P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis) pada kader, tenaga sosial, Bhabinkamtibmas, pamong desa, tenaga kesehatan negeri dan swasta.
“Menjadi penting dilakukan sosialisasi dari anak sekolah, usia produktif hingga lansia sebagai upaya deteksi dini kesehatan jiwa,” terang Ismono.
Kemudian sosialisasi penanggulangan gangguan jiwa (pokir dan BLUD Puskesmas), mengirim guru sekolah mengikuti pelatihan P3LP dengan Kemenkes, serta pembentukan posyandu kesehatan jiwa di Puskesmas.

“Saat ini kami juga tengah menyusun buku pedoman penanggulangan bunuh diri dengan melakukan kajian di Puskesmas Karangmojo 2, Puskesmas Semanu 2 dan Puskesmas Wonosari 2,” ucap Ismono.
Berdasarkan data dari Kepolisian, terhitung dari Januari sampai dengan akhir Maret 2026 ini, terdapat 8 kasus gantung diri yang terjadi di Gunungkidul. Mirisnya, dari jumlah tersebut 3 kasus terjadi pada waktu 2 hari berturut-turut.
Usia para pelaku sendiri beragam, mulai dari usia produktif hingga lanjut usia dengan faktor-faktor yang berbeda pula.
Sementara itu Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji) yang konsen pada kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, Sigit Purnomo mengatakan semua kalangan mmemiliki peranan penting dalam mencegah terjadinya bunuh diri, salah satunya dengan gantung diri.
“Permasalahan ini butuh penanganan serius dari semua lini untuk bekerjasama,” ucap Sigit Purnomi atau yang lebih dikenal dengan nama Wage Dhaksinarga.
Menurut dia ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu mulai dari mengenali kategori yang beresiko melakukan gantung diri atau bunuh diri seperti Lansia yang tinggal atau hidup sendiri, orang dengan gangguan jiwa atau depresi dimana seseorang ini tengah memiliki permasalahan yang tengah dihadapi, serta penyintas bunuh diri.
“Semua memiliki kerawanan masing-masing. Sehingga perlu adanya pendekatan khusus, jika memang terlihat adanya perubahan sikap maka perlu diaja untuk berinteraksi dan sharing,” jelasnya.
“Keperdulian sosial yang utama dan perlu ditingkatkan. Mereka (yang berpotensi) memiliki tempat untuk berbagi, berkeluh kesah meluapkan apa yang mereka rasakan,” jelas dia.
Selain itu, pemerintah juga memiliki peranan penting dan perlu melakukan aksi yang lebih nyata. Ia mencontohkan Puskesmas melakukan deteksi dini tentang resiko bunuh diri atau gantung diri hingga menyediakan layanan konseling psikologi.
“Jika memang dilerlukan intervensi anggaran untuk penanggulangan kasus bunuh diri juga tidak masalah. Contohnya untuk layanan psikolog keliling atau seperti apa,” jelasnya.
Menurutnya, 80 persen pelaku bunuh diri karena depresi dengan permasalahan yang sedang dihadapi dan ingin terlepas dari permasalahan yang ada.
“Faktor yang mempengaruhi seseorang nekat mengakhiri hidupnya ini lah yang perlu dipetakan apakah adanya faktor finansial, sakit menahun atau karena faktor lain mengingat saat ini aksi semacam itu dilakulan oleh mereka dari usia produktif hingga lansia,” tutupnya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Sosial4 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized15 jam yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized5 hari yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized7 hari yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized3 hari yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized3 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized4 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized3 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Pemerintahan3 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
