Connect with us

Uncategorized

Tembus Industri Nasional, Kedelai Hitam Malika Jadi Komoditas Andalan Baru Petani Gunungkidul

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)– Potensi sektor pertanian di Kabupaten Gunungkidul terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tidak hanya mengandalkan tanaman pangan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, petani kini mulai mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang mampu menembus pasar industri nasional.

Panewu Panggang, Sustiwiningsih mengatakan kondisi geografis Panggang yang didominasi lahan kering tidak begitu potensial dalam sektor tanaman pangan khususnya padi. Daerah yang berada di sisi barat kota ini justru memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas lain, sebagai contohnya pengembangan kedelai hitam varietas Malika.

“Lahan yang ada lebih cocok untuk tamanan ini. Sudah ada kelompok tani yang mengembangkannya dan bersyulur hasilnya bagus bahkan dilirik oleh perusahaan untuk kerjasama,” kata Sustiwiningsih.

Menurutnya, saat ini komoditas unggulan tersebut menjalin kemitraan dengan PT Unilever sebagai bahan baku industri kecap. Dengan demikian memutus rantai kebingungan petani hasil panen mereka akan dijual kemana.

Berita Lainnya  Bertemu Bupati Gunungkidul, Kaesang : Tak Bahas Politik

“Keberhasilan kedelai Malika ini menunjukkan bahwa petani Panggang mampu menghasilkan komoditas berkualitas dan berdaya saing. Ini merupakan peluang besar yang perlu terus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semakin banyak petani,” tambah Sustiwiningsih.

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengungkapkan, tanaman yang menjadi bahan baku kecap ini telah dikembangkan oleh petani di beberapa kapanewon, bahkan ada 1 wilayah yang telah berhasil menembus kemitraan dengan perusahaan skala nasional.

“Sudah sekitar empat tahun terakhir menjalin kerja sama dengan perusahaan yang memproduksi kecap. Hasil panen yang memenuhi kriteria perusahaan dibeli untuk bahan baku industri,” kata Raharjo.

Dengan peluang tersebut, minat petani untuk menanam kedelai hitam terus meningkat. Hal ini ditandai dengan bertambahnya luasan tanam dari tahun ke tahun.

Berita Lainnya  Peternak Telur Gelar Rembuk Nasional Demi Menyongsong Panen Jagung 1,9 Ton

“Kemitraan bisnis to bisnis, jadi dari petani langsung ke perusahaan. Hasilnya cukup menguntungkan,” kata Raharjo.

Dicontohkan, saat ini luas budidaya kedelai hitam Malika di Gunungkidul mencapai sekitar 68 hektare. Lahan tersebut tersebar di Kapanewon Panggang, Semanu, Karangmojo, dan Paliyan. Rata-rata produksi mencapai satu ton per hektare dan harga jual sekitar Rp12.000 per kilogram, harga tersebut di tahun lalu.

“Harganya lebih tinggi dibandingkan dengan dengan kedelai biasa yang rata-rata dihargai sekitar Rp9.000 per kilogram,” jelasnya.

Ia berharap pengembangan kedelai hitam tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi dapat meluas ke kapanewon lainnya. Selain kedelai hitam, petani Gunungkidul juga berhasil mengembangkan kacang tanah berkualitas premium yang selama ini menjadi pemasok bahan baku industri makanan ringan kemasan.

Berita Lainnya  Petugas Temukan 2 Kasus Cacing Hati Pada Hewan Kurban

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri saat ininterus menggenjot sektor pertanian untuk bisa lebih maju. Berbagai program diturunkan untuk peningkatan kesejahteraan petani serta modernisasi peralatan.

Petani tidak hanya sekedar menanam padi, palawija dan singkong. Akan tetapi komoditas lain pun juga mulai banyak diminati karena dinilai menguntungkan.

“Selama ini Gunungkidul dikenal sebagai daerah yang hanya bisa panen dua kali dalam setahun. Dengan inovasi dan ketersediaan air yang semakin baik, kami berharap petani dapat melakukan lebih banyak musim tanam dengan berbagai komoditas yang bernilai ekonomi tinggi,”tutupnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata3 hari yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata5 hari yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis2 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Berita Terpopuler