Connect with us

Sosial

Masih Banyak Kekerasan Pada Perempuan, Label Perempuan Lebih Lemah Jadi Faktor Utama

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Hari Perempuan Internasional dirayakan di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia pada Kamis (08/03/2018) ini. Adapun tujuan utama adanya perayaan ini adalah untuk mencapai kesetaraan gender secara utuh oleh seluruh perempuan yang ada di dunia.

Dikatakan oleh Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3KBPMD) Gunungkidul, Rumi Hayati, perayaan Hari Perempuan Internasional ini sebagai upaya dalam meningkatkan martabat perempuan yang selama ini masih dianggap rendah.

“Masih sangat banyak yang berpandangan bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu dibawahnya laki-laki. Sehingga perempuan sering diperlakukan semena-mena,” kata Rumi.

Pandangan seperti itu yang menurutnya masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi. Oleh sebab itu, tujuan perayaan Hari Perempuan Internasional yang digaungkan sejak puluhan tahun lamanya belum tercapai hingga saat ini.

Berita Lainnya  Update Covid19, Hampir 2 Minggu Tak Ada Penambahan Kasus Aktif di Gunungkidul

Seperti data yang dimiliki DP3KBPMD Kabupaten Gunungkidul, tahun 2017 sebanyak 12 perempuan mengalami kekerasan baik fisik, psikis, dan seksual. Jumlah tersebut adalah korban kekerasan yang melapor kepada Dinas. Rumi tak menampik, masih banyak perempuan di luar sana yang mengalami kekerasan namun tidak berani melaporkan.

“Kami tidak bisa mengatakan jumlah tersebut tinggi atau rendah. Karena bisa saja di data kami rendah, tapi di luar sana yang tidak melapor tinggi. Saya yakin masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan tapi tidak berani lapor,” terang dia.

Adapun dari data tersebut, Rumi mengklaim bahwa jumlah laporan kekerasan yang masuk dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Seperti contoh, di tahun 2015 kekerasan terhadap perempuan mencapai angka 24 kasus. Sedangkan tahun 2016 ada 22 kasus kekerasan yang masuk.

“Tahun 2017 paling dominan kekerasan seksual yang diterima perempuan. Jumlahnya ada 5 kasus. Sedangkan untuk kekerasan fisik ada 3 kasus dan psikis 4 kasus,” ucap dia.

Berita Lainnya  Suka Duka Sriyanti, Menjadi Pengrajin Batik Tulis Sejak 1965

Lebih lanjut ia memaparkan, alasan perempuan masih menjadi korban kekerasan lantaran pandangan orang yang menganggapnya lemah. Atas dasar lemah itulah, perempuan sering mendapat perlakuan tak mengenakan karena dianggap tidak bisa melawan laki-laki yang lebih kuat.

Selain itu, faktor lain karena pernikahan yang terlalu dini. Ketika anak masih memiliki emosi yang labil namun dinikahkan, bisa memunculkan adanya pertengkaran hingga berujung kekerasan. Dalam rumah tangga, kuatnya kuasa patriarki dan relasi kuasa antara laki-laki dengan perempuan masih sangat mengental dan membudaya hingga terjadilah kekerasan tersebut.

“Tingginya angka perkawinan anak merupakan hulu dari sejumlah permasalahan, mulai dari putus sekolah, menurunnya derajat kesehatan perempuan hingga kekerasan dalam rumah tangga,” tutur Rumi.

Berita Lainnya  Geliat GRS Tangani Pandemi, Sempat Temukan Pasien Positif Tidur di Kandang Sapi

Meski begitu, baginya kesetaraan gender di Gunungkidul masih terbilang cukup bagus. Di dunia politik misalnya, perempuan telah diperlakukan setara. Mereka juga telah dilibatkan dalam berdemokrasi, segala macam kegiatan desa, berpartisipasi dalam meningkatkan tren kepariwisataan Gunungkidul. Selain itu, perempuan disini juga dianggap telah berpartisipasi cukup bagus dalam dunia pendidikan.

“Di lingkup politik kita lihat pemimpin daerahnya Bu Badingah seorang perempuan,” imbuh Rumi.

Namun, ia menilai pemberdayaan terhadap perempuan juga tetap harus ditingkatkan. Hal ini supaya perempuan tidak dianggap remeh oleh laki-laki sehingga tidak lagi diperlakukan seenaknya. Dengan melakukan pemberdayaan perempuan ini, dianggap Rumi sebagai jalan satu-satunya agar tidak terjadi kesenjangan gender.

“Susah mengubah pandangan orang tentang kesetaraan gender. Dengan adanya pemberdayaan perempuan, saya rasa itu cara satu-satunya agar perempuan tidak lagi dianggap sebelah mata,” pungkasnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata5 hari yang lalu

Kunjungan Terus Meningkat, Pemkab Naikkan Target PAD Wisata Jadi Rp63,2 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul menaikkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tahun 2026 menjadi...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Pria Asal Karangmojo Ditemukan Meninggal di Lereng Tanjakan Bulak Bogor Rongkop

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Rongkop,(pidjar.com)– Seorang pria berinisial DM (34), warga Padukuhan Kelor, Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, ditemukan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan...

Pariwisata4 minggu yang lalu

Onsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja ,(pidjar.com)– Menghadirkan perpaduan suasana pegunungan dengan nuansa Jepang, Onsen Resort Kaliurang menawarkan pengalaman menginap yang menyasar keluarga, pasangan,...

Pariwisata3 bulan yang lalu

Kejuaraan Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III Digelar di Pantai, 458 Atlet dari 7 Provinsi Berebut Juara

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Tanjungsari, (pidjar.com)- Kejuaraan Open Sepatu Roda Bupati Gunungkidul Cup III 2026 hadir dengan konsep berbeda. Untuk pertama kalinya, lintasan...

Pariwisata4 bulan yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Berita Terpopuler