Uncategorized
Gunungkidul Dipilih Jadi Lokasi YESS-SI, Anak Muda Didorong Masuk Dunia Pertanian
Wonosari,(pidjar.com)– Sektor pertanian di Gunungkidul bakal mendapat suntikan program untuk mendorong keterlibatan generasi muda. Kabupaten ini ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS-SI) di DIY untuk periode 2027-2029.
Program tersebut menyasar pemuda usia 17 hingga 39 tahun. Mereka tidak hanya diarahkan menjadi tenaga kerja di sektor pertanian, tetapi juga didorong membangun usaha sendiri hingga menciptakan lapangan pekerjaan.
Gunungkidul menjadi salah satu dari 15 kabupaten di Indonesia yang terpilih dalam program yang merupakan kerja sama Kementerian Pertanian dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) Italia tersebut.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), R. Hermawan, mengatakan program ini nantinya tidak sebatas memberikan pelatihan. Namun para peserta akan mendapatkan pendampingan yang diarahkan agar memiliki kemampuan teknis sekaligus kemampuan mengembangkan usaha.
“Pemuda perdesaan usia 17 sampai 39 tahun ini kita dorong supaya bisa menjadi job seeker maupun job creator di sektor agribisnis,” kata Hermawan saat audiensi dengan Bupati Gunungkidul.

Sejumlah skema telah disiapkan dalam kerjasama ini. Pemuda akan memperoleh pelatihan, bimbingan teknis hingga kesempatan magang. Bagi mereka yang telah memiliki atau hendak merintis usaha, tersedia pula peluang mendapatkan hibah kompetitif.
Pengembangan usaha juga akan diarahkan melalui klaster komoditas. Dengan pola tersebut, pengembangan pertanian diharapkan tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi berlanjut hingga persoalan pemasaran.
Akses pembiayaan turut menjadi perhatian. Peserta nantinya akan didampingi dalam penyusunan proposal usaha maupun akses pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hermawan menambahkan, kerja sama Polbangtan YOMA dengan Gunungkidul sebenarnya telah berjalan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya pendampingan kelompok tani di Nglipar yang diarahkan menjadi Desa Mandiri Benih Bawang Merah bersama Bank Indonesia.
Kegiatan lainnya berupa program Magang Berdampak di BPP Semin dan Playen, integrasi pembelajaran dan pengabdian masyarakat di BPP Patuk serta penelitian di sejumlah kapanewon.
BPP Patuk bahkan diproyeksikan menjadi laboratorium lapangan sekaligus BPP Model Nasional. Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi tempat pembelajaran pengembangan pertanian yang nantinya bisa direplikasi di daerah lain.
Selain pengembangan usaha, Polbangtan YOMA juga menawarkan kesempatan pendidikan bagi anak petani dan pemuda daerah melalui beasiswa kuliah vokasi yang dibiayai Kementerian Pertanian.
“Harapannya tidak hanya menghasilkan peserta pelatihan, tetapi melahirkan lebih banyak anak muda Gunungkidul yang menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan usaha dan sumber penghidupan,” jelasnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, dengan adanya program tersebut dapat menjadi salah satu pintu untuk mempercepat regenerasi petani sekaligus membuka peluang kerja bagi anak-anak muda di daerah.
Menurutnya, anak muda perlu melihat pertanian dari sudut pandang yang lebih luas. Pertanian tidak sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi dapat dikembangkan menjadi bisnis apabila dikelola dengan perencanaan dan orientasi pasar.
Endah juga mengingatkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Potensi lahan yang dimiliki perlu dimanfaatkan sehingga mampu memberikan penghasilan bagi keluarga.
“Sesuai dengan program kami, saat ini mulai digalakkan menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam, serta menjual apa yang ditanam dan menanam apa yang dijual,” terang Bupati Gunungkidul.
Agar program berjalan sesuai sasaran, Pemkab Gunungkidul akan melibatkan sejumlah OPD. Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja, Dinas Perindustrian dan Koperasi UMKM, Bappeda, Dinas Pemuda dan Olahraga serta Dinas Pendidikan akan dilibatkan dalam pelaksanaannya.
Pemkab juga menyiapkan pembentukan Tim Koordinasi Distrik (District Coordination Committee/DCC) dan Tim Pelaksana Distrik (District Implementation Partnership/DIP). DCC akan dipimpin Kepala Bappeda, sedangkan DIP dikoordinasikan Dinas Pertanian dan Pangan.
Dengan pelaksanaan yang baru dimulai pada 2027, persiapan program kini mulai dilakukan bersama.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized6 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized2 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
