Connect with us

Uncategorized

Kasus Stunting Masih Tinggi, Gunungkidul Canangkan Program “Anting Gemitta Rematri”

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)- Kasus stunting masih babyak ditemukan di Gunungkidul. Dengan kondisi ini, Pemerintah Kabupaten terus berupaya dalam penanganan dan pencegahan stunting melalui sinergi lintas sektor. Salah satu program yang digagas oleh pemerintah adalah dengan dicanangkannya program Gerakan Minum Tablet Tambah Darah bagi Remaja Putri atau “Anting Gemitta Rematri”.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul per Februari 2026, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 4.453 anak atau dengan prevalensi mencapai 15,72 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyebut kasus stunting di Gunungkidul masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Meningat jumlahnya yang masih tergolong tinggi. Berbagai langkah intervensi kini terus diperkuat, mulai dari sektor kesehatan hingga pembangunan berbasis kesejahteraan masyarakat untuk menekan angka stunting di Bumi Handayani.

Berita Lainnya  UKDW Jadi Tuan Rumah Tenis Meja POMDA DIY 2024

Salah satu langkah terbaru yang diluncurkan Pemkab Gunungkidul yakni program Gerakan Serentak Antisipasi Stunting dengan Gerakan Minum Tablet Tambah Darah bagi Remaja Putri atau “Anting Gemitta Rematri”.

“Ini menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting sejak dini karena remaja putri termasuk kelompok rentan mengalami anemia yang dapat berdampak pada risiko stunting di masa mendatang,” terang Ismono.

Melalui program ini, siswi SMP dan SMA perempuan diwajibkan mengonsumsi tablet tambah darah setiap hari Jumat. Kegiatan itu juga dibarengi aktivitas fisik bersama, sarapan bergizi seimbang, serta edukasi kesehatan reproduksi dan gizi.

Selain remaja putri, konsumsi tablet tambah darah juga diwajibkan bagi wanita usia subur, calon pengantin, ibu hamil dan ibu menyusui sebagai langkah menjaga kesehatan ibu dan anak.

Berita Lainnya  Anggota Paskibra Gedangsari Meninggal, Bupati Gunungkidul Akan Berikan Penghargaan

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dalam penanganan dan pencegahan stunting di daerah bukan hanya tugas dari Dinas Kesehatan saja. Melainkan dari OPD lintas sektoral hingga kalurahan juga memiliki peranan masing-masing dalam mendukung percepatan penurunan stunting.

“Pada realisasi program ini semua OPD memiliki peranan untuk turut mensukseskan program konsumsi tambah darah bagi remaja putri,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Gunungkidul, dr. Trianawati, mengatakan penanganan stunting dibagi menjadi dua pendekatan utama, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

“Intervensi spesifik dilakukan oleh sektor kesehatan dan berkontribusi sekitar 30 persen terhadap keberhasilan penanganan stunting,” kata dr. Trianawati saat dihubungi.

Intervensi tersebut meliputi pengobatan penyakit penyerta, pemberian makanan tambahan pemulihan, pemantauan tumbuh kembang balita melalui Posyandu, imunisasi, edukasi pola makan bayi dan anak, hingga pemeriksaan kesehatan ibu dan anak.

Berita Lainnya  Truk Molen Tabrak Motor di Jalan Rongkop-Baran, 3 Orang Meninggal di Lokasi Kejadian

Sementara itu, intervensi sensitif yang dijalankan sektor non kesehatan justru menjadi faktor dominan dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap keberhasilan penurunan stunting.

“Program tersebut mencakup peningkatan sanitasi lingkungan, akses air bersih, penguatan ketahanan pangan keluarga, pendidikan, pengentasan kemiskinan, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Trianawati menegaskan, persoalan stunting tidak dapat ditangani oleh sektor kesehatan semata. Diperlukan keterlibatan banyak pihak mulai dari organisasi perangkat daerah, pemerintah kalurahan hingga partisipasi masyarakat.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting, baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, bantuan sosial maupun peningkatan kesadaran masyarakat,” pungkasnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata20 jam yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis4 hari yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Libur Sekolah, Obyek-obyek Wisata Mulai Dibanjiri Siswa Study Tour

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)-Libur sekolah tahun 2026 mulai menggerakkan sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk juga di Gunungkidul. Saat...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Camping Syahdu di Pantai Watukodok

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Gunungkidul memamg menjadi gudangnya wisata alam di DIY. Bagaimana tidak, gugusan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul menyuguhkan panorama pesisir...

Pariwisata2 bulan yang lalu

Mulai Pertengahan Mei Mendatang, TPR Baron Direncanakan Hanya Layani Pembayaran Retribusi Non-Tunai

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)– Pemerintah Kabulaten Gunungkidul terus berbenah dalam memperkuat tata kelola retribusi yang lebih transparan, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan...

Berita Terpopuler