Budaya
Kreatif, Siswa Baru di Sekolah Ini Wajib Pakai Seragam Batik Karya Sendiri
Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Sekilas memang tak ada yang berbeda jika berkunjung ke SMP Negeri 3 Playen. Namun jika datang pada hari Rabu, nantinya akan mendapati ratusan siswa mengenakan baju batik. Uniknya, batik tersebut diketahui dibuat oleh tangan kreatif para siswa di sekolah.
Begitu memasuki pintu gerbang sekolah, mata akan tertuju pada beberapa siswa yang mengenakan pakaian batik. Dengan berbagai corak dapat dilihat, motif batik kawung sangat kentara pada seragam siswa.
Diungkapkan oleh guru seni budaya, Agus Supriyono, para siswa tersebut diwajibkan untuk membuat sendiri baju batik sebagai seragam. Himbauan diberikan ketika para siswa menjadi siswa didik baru di sekolah tersebut.
“Sudah sesuai kesepakatan, siswa baru di sini akan menggunakan baju batik karya mereka sendiri,” kata Agus ketika ditemui di sekolah, Rabu (10/04/2019).
Ia mengatakan, dalam pembuatan batik diperlukan waktu selama tiga bulan lamanya. Waktu tersebut tergolong sangat cepat bagi ukuran siswa yang baru pertama kali membuat batik.

“Teknisnya, kita bentuk kelompok, setiap kelompok saat jam pelajaran saya akan membuat batik dari tahap awal setiap jamnya kemudian dilanjutkan pada jam pelajaran (seni budaya) selanjutnya,” ucap Agus.
Agus menambahkan, dalam pembuatan batik sendiri menurutnya mampu memunculkan karakter dari tiap siswa. Sebab, dalam proses siswa akan menjalani beberapa tahapan sebelum membuat batik itu sendiri.
“Otomatis, mereka mengamati lingkungan, misal jenis pohon. Kemudian mereka gambar bentuk menjadi gambar hias. Bentuk ekspresi kalau gambar bentuk sesuai apa yang dilihat kalau sudah hias itu masuk intrerpretasi dirinya,” kata dia.
Untuk motif serta warna, para siswa diarahkan untuk berkiblat kepada logo sekolah dimana hal itu banyak mengandung unsur warna biru dan hijau. Secara teknis pembuatan batik itu lazimnya dengan pembuatan batik pada umumnya yakni menggunakan canting dan malam.
“Kalau pewarna kita menggunakan remasol. Kalau menggunakan naptol lebih sulit,” ucap dia.
Agus mengatakan, melihat potensi yang ada ini, pihaknya berencana akan terus melatih keterampilan para siswa. Sebab, menurutnya, karya siswa sendiri sudah memiliki nilai jual.
“Sebenarnya sudah bisa dipasarkan, tapi kita terbatas anggaran untuk ikut pameran atau menjualnya di kawasan wisata,” ungkap dia.
Sementara itu, salah seorang siswi, Iftitah Ananda mengatakan, jika dalam pembuatan batik hal tersulit adalah mendesain gambar awal. Namun begitu dirinya hanya memerlukan waktu pembuatan selama 3 minggu.
“Satu minggu gambar, 1 minggu mencanting, 1 minggu mewarnai, kalau motifnya saya memilih bunga yang mudah,” kata dia.
-
Info Ringan4 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan3 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Kriminal1 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa5 hari yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial4 hari yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Peristiwa3 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Uncategorized2 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Pemerintahan18 jam yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa3 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Uncategorized3 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
