Uncategorized
Lestarikan Tradisi Leluhur, Warga Kepek Gelar Bersih Belik Pancuran
Wonosari, (pidjar.com) – Puluhan warga Padukuhan Sumbermulyo dan sekitarnya, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, menggelar tradisi bersih belik di sumber mata air Pancuran, Senin (26/10/2026) pagi. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini menjadi ungkapan rasa syukur atas keberadaan sumber air sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mempererat kerukunan masyarakat.
Sejak pagi, warga bergotong royong membersihkan kawasan sumber mata air yang berada di bawah pohon beringin tersebut. Sampah, ranting, hingga dedaunan kering yang berserakan di sekitar belik dibersihkan agar lingkungan tetap terawat.
Ketua RW Padukuhan Sumbermulyo, Budiyono, mengatakan tradisi bersih belik merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah sumber mata air yang selama ini memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya warga Kalurahan Kepek.
Menurutnya, keberadaan belik Pancuran memiliki nilai penting dalam perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Sebelum layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tersedia seperti sekarang, sumber mata air tersebut telah menjadi salah satu andalan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bersih belik ini merupakan wujud rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah sumber air yang diberikan kepada masyarakat. Sumber ini sudah dimanfaatkan warga sejak zaman dahulu hingga sekarang,” ujar Budiyono.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat agar terus menjaga sumber mata air yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kenduri dan doa bersama. Warga memanjatkan doa untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keberkahan bagi masyarakat.
Salah satu prosesi yang menarik dalam tradisi tersebut adalah serabi kocor yang dilakukan oleh Lurah Kepek, Bambang Setyawan. Prosesi ini mengandung makna simbolis sebagai harapan agar hujan turun dan membawa berkah bagi masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertanian maupun keperluan lainnya.
“Prosesi serabi kocor itu simbolis saja, yang bermakna kucuran air hujan yang membasahi dan mengairi masyarakat Kalurahan Kepek untuk pertanian dan yang lain-lain,” jelas Budiyono.
Usai kenduri dan doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama. Warga, peserta gotong royong, dan pamong kalurahan menikmati aneka jajanan pasar serta nasi ingkung yang sebelumnya telah didoakan bersama.
Suasana akrab mewarnai kegiatan tersebut. Warga berkumpul dan menikmati hidangan bersama sebagai bagian dari upaya mempererat tali silaturahmi dan menjaga kerukunan di lingkungan masyarakat.
Lurah Kepek, Bambang Setyawan, menyampaikan bahwa tradisi bersih belik telah dilaksanakan puluhan kali dan terus dipertahankan secara rutin setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur atas keberadaan sumber mata air Bangjo Pancoran yang memiliki nilai historis bagi masyarakat.
Ia mengapresiasi konsistensi warga dalam menjaga tradisi sekaligus merawat lingkungan di sekitar sumber air. Baginya, keberadaan mata air merupakan aset penting yang perlu dijaga agar manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
“Air adalah sumber kehidupan kita semua. Terima kasih juga karena masyarakat menjaga sumber air ini dengan menjaga kebersihan lingkungan sumber air,” ungkap Bambang yang akrab disapa Mbah Lurah.
Ia berharap tradisi bersih belik tidak hanya menjadi agenda adat tahunan, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya air.
Sebagai bagian dari rangkaian tradisi, warga juga memasang kain putih pada pohon beringin yang tumbuh di kawasan sumber mata air. Pohon tersebut menjadi salah satu penanda penting kawasan Bangjo Pancoran yang lekat dengan sejarah dan tradisi masyarakat setempat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan. Tradisi bersih belik diharapkan terus menjadi pengingat bahwa menjaga sumber mata air merupakan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan kehidupan masyarakat.
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized2 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized1 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized2 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized4 hari yang laluDua Oknum Kejaksaan di Gunungkidul Diduga Terlibat Skandal Asusila
